Antara Fenomena Kerajaan dan Radikalisme

Antara Fenomena Kerajaan dan Radikalisme

- in Suara Kita
353
3
Antara Fenomena Kerajaan dan Radikalisme

Bila belakangan ini masyarakat kita seperti tergiring dalam kehangatan isu mengenai kemunculan sejumlah pihak yang mendaku sebagai memimpin, pengikut atau pun bagian dari kerajaan tertentu, maka sepertinya pihak yang hari ini menyaksikan dan menonton hal tersebut mesti pula melakukan proses internalisasi diri. Sebab bukanlah hal yang mustahil bila kecenderungan yang ada hari ini potensial untuk menggiring dalam kerentanan yang sama.

Hal demikian memungkinkan untuk mengetengah, sebab sejatinya bangsa ini memiliki sejumlah riwayat yang mengetengahkan ketakjuban masyarakatnya atas replika gagasan yang seolah hidup dan berkobar namun kenyataannya semu. Selain itu, kita tak dapat memungkiri bahwa kecanggihan teknologi yang mestinya berbanding terbalik dengan segala macam hal yang beraroma nalar pencocokan (cucokologi), ternyata dalam beberapa kondisi mampu menjadi sajian renyah yang dinikmati masyarakat banyak. Bahkan mungkin sangat dinantikan kemunculannya. Pemahaman atas kondisi demikian perlu menjadi perhatian, sebab kondisi ketidak-pastian yang hadir saat ini sedikit banyak mampu membawa alam fikir masyarakat kita dalam kebingungan bahkan mungkin sesat fikir.

Bila kita mundur sejenak ke belakang, tentunya akan didapati adanya sejumlah kisah yang mampu menggetarkan nalar logis sejumlah pihak ketika itu. Salah satu kasus nyata yang bahkan kemudian diangkat dalam sejumlah karya sastra dan karya seni lainnya adalah kisah mengenai pasangan Idrus dan Markonah. Pasangan ini mendaku diri mereka sebagai seorang raja dan ratu dari wilayah Sumatera, guna mendapatkan keinginan mereka. Apa yang mereka lakukan ketika itu bahkan mampu menyeret pemikiran banyak petinggi negeri untuk mempercayai narasi tersebut. Karena perbuatan mereka tersebut, sejumlah bahan ajar dalam buku yang diterbitkan oleh depertemen pendidikan dan kebudayaan menjadikan mereka sebagai bagian dari contoh.

Hal di atas merupakan satu dari banyak kisah yang ternyata mampu menyeret pemikiran banyak pihak untuk mempercayai narasi yang bombastis dan seolah menjanjikan kepastian bila mempercayai atau bahkan mengikutinya. Yang bila kita pahami dalam konteks fenomena radikalisme, hal demikian tidak bisa dianggap sepele. sebab sama saja membiarkan bom waktu akan menghabisi keindahan keberagaman dengan ancaman homogenisasi yang akan tercipta.

Menguatnya eksistensi identitas keagamaan yang hadir belakangan ini menjadi penguat argumen tersebut. Sebab meskipun jumlahan masyarakat yang menyadari keberagaman bangsa Indonesia dan menginginkan Pancasila masih-lah kuat, namun tetaplah ada kelompok masyarakat yang menolak keberagaman dan menginginkan Indonesia berubah menjadi negara dengan satu identitas keagamaan saja. Melalui ide-ide tertentu yang insinuatif sekaligus provokatif dan dibungkus oleh narasi agama yang sakral, membuat siapa pun potensial untuk terobsesi dan termoderasi dengan jalan berfikir yang diketengahkan.

Untuk hal semacam itu kita pernah merasakan menguatnya isu tersebut dalam beberapa wujud aksi seperti, Jamaah Islamiyah, Negara Islam Indonesia (NII), ISIS serta istilah negara Indonesia syariah. Rasanya tak perlu lagi mendiskusikan mengenai eksistensinya atau pun tawaran ideologinya, sebab tidaklah sulit menemukan narasi tersebut dalam sejumlah teks, baik yang sengaja mereka publikasikan atau pun melalui pemberitaan media serta analisis para akademisi.

Hal yang menarik untuk menjadi perhatian selanjutnya adalah kenyataan bahwa banyak pihak dalam elemen negara ini yang ternyata sangat menggemari narasi bombastis namun semu, sebagai sebuah jalan keluar atas realitas yang mereka hadapi. Tidak jarang narasi yang kental dengan nuansa cucokologi dalam mengafirmasi sesuatu yang bombastis namun jauh dari fakta riil, sangat difavoritkan oleh masyarakat. Terkadang untuk menemukannya tidak-lah sulit, apalagi dalam ruang daring di mana beberapa anggota grup yang kita ikuti sangat rajin berbagi informasi info semacam itu. Sebut saja macam informasi seperti Candi Borobudur adalah kuil peninggalan nabi Sulaiman, atau macam penyamarataan, di mana agama Yahudi adalah juga sama dengan agama Kristen dan Katolik.

Cucokologi yang kental dengan nuansa sesat fikir, sangat rentan dengan masyarakat kita. Hal demikian sangat berisiko menghadirkan kebingungan dan ketidak-jelasan dalam melihat narasi serta fakta lapangan yang ada. Hal demikian mestilah menjadi kesadaran bersama. Sebab bila meminjam gagasan seorang filsuf besar, Max Webber, masyarakat sejatinya memiliki pemahaman yang berpijak pada dua fondasi perspektif yaitu kognisi rasional dan ruang pengalaman mistik. Yang antara keduanya kerap menghadirkan irisan tatkala melihat sesuatu yang bersifat magis, gagasan bombastis atau pun herois.

Sehingga rasanya tidak terlalu mengherankan bila fenomena macam kerajaan yang belakangan hadir bahkan hingga menguatnya aksi fundamentalisme beragama dilatari oleh nalar cucokologi yang dimainkan. Nalar cucokologi tersebut ternyata bisa dikatakan memiliki pasar dan penggemarnya di negeri ini. Ironis tentunya sebab nalar kritis seolah mendadak hilang tatkala berhadapan dengan hal-hal demikian. Bahkan kecenderungan ini bukan hanya menjadi domain masyarakat biasa semata. Dalam beberapa kejadian, pihak-pihak yang memiliki popularitas politik atau bahkan akademsisi pun ternyata tidak sulit untuk termoderasi dan bahkan turut memberikan dukungan.

Facebook Comments