Argumen Islam Moderat dalam Konteks Nusantara

Argumen Islam Moderat dalam Konteks Nusantara

- in Suara Kita
1179
1
Argumen Islam Moderat dalam Konteks Nusantara

Dalam Islam, rujukan beragama memang bersumber dari dua rujukan utama, yaitu al-Qur’an dan hadis. Namun fenomena menunjukkan bahwa wajah Islam sangat banyak. Ada berbagai golongan Islam yang terkadang mempunyai ciri khas sendiri-sendiri dalam praktek dan amaliyah keagamaan.

Perbedaan tersebut sudah menjadi kewajaran (sunatullah) dan bahkan sebagai rahmat. Quraish Shihab (2007) mencatat bahwa keanekaragaman dalam kehidupan merupakan keniscayaan yang dikehendaki Allah. Termasuk dalam hal ini perbedaan dan keanekaragaman pendapat dalam bidang ilmiah, bahkan keanekaragaman tanggapan manusia menyangkut kebenaran kitab-kitab suci, penafsiran kandungannya, serta bentuk pengamalannya.

Yang menjadi permasalahan adalah dapatkah dari yang berbeda tersebut dapat saling menghormati, tidak saling menyalahkan, tidak menyatakan paling benar sendiri (truth claim) dan bersedia berdialog, sehingga tercermin bahwa perbedaan itu benar-benar rahmat. Jika ini yang dijadikan pijakan dalam beramal dan beragama, maka inilah sebenarnya makna konsep ‘Islam moderat’.

Artinya, siapa pun orangnya yang dalam beragama dapat bersikap sebagaimana kriteria tersebut, maka dapat disebut berpaham Islam yang moderat. Berpaham Islam moderat sebenarnya tidaklah sulit mencari rujukannya dalam sejarah perkembangan Islam, baik di wilayah asal Islam itu sendiri maupun di nusantara atau Indonesia.

Lebih tepatnya, Islam moderat dapat merujuk jika di wilayah tempat turunnya Islam, kepada praktek Islam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, khususnya khulafa al-rasyidin. Sedangkan dalam konteks nusantara dapat merujuk kepada para penyebar Islam yang terkenal dengan sebutan Walisongo.

Generasi pengusung Islam moderat di Indonesia berikutnya, hanya sekedar miniatur, mungkin dapat merujuk kepada praktek Islam yang dilakukan organisasi semacam Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ber-Islam dalam konteks Indonesia semacam ini lebih cocok diungkapkan. Meminjam konsepnya Syafi’i Ma’arif (2009) dengan “ber-Islam dalam bingkai keindonesiaan”.

Aktualisasi Islam moderat

Azyumardi Azra (2002) juga kerap menyebut bahwa Islam moderat merupakan karakter asli dari keberagamaan muslim di nusantara. Bahwa ketika sudah memasuki wacana dialog peradaban, toleransi dan kerukunan, sebenarnya ajaran yang memegang dan mau menerima hal tersebut lebih tepat disebut sebagai moderat. Jadi, ajaran yang berorientasi pada perdamaian dan kehidupan harmonis dalam kebhinekaan, lebih tepat disebut moderat, karena gerakannya menekankan pada sikap menghargai dan menghormati keberadaan yang lain (the other).

Baca Juga : Spirit Kemajuan Masa Lampau

Term moderat adalah sebuah penekanan bahwa Islam sangat membenci kekerasan, karena bedasarkan catatan sejarah, tindak kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Padahal, Islam diturunkan Allah adalah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh masyarakat dunia).

Islam di Indonesia tidak harus seperti Islam yang ada di Arab, melainkan Islam yang mempunyai ciri khas dari Indonesia, atau yang sering disebut dengan Islam ala Indonesia, yaitu Islam yang tetap mempertahankan budaya asli Indonesia dengan tidak melupakan ajaran-ajaran Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya yaitu menjadikan Islam dengan keragaman akibat perbedaan kebudayaan dimasing-masing daerah. Umat Islam Indonesia saat ini harus memikirkan untuk bagaimana merumuskan sebuah gerakan yang mampu mengkotomi dan merangkul seluruh ormas yang saling bersinggungan dan berbeda faham.

Perbedaan pemahaman yang dianut pada hakikatnya adalah suatu kewajaran, akan tetapi fanatisme golongan yang berlebihan tidak boleh untuk ditampilkan apalagi dipelihara, karena itu semua akan memberikan dampak negatif yang akan berimbas pada kesatuan umat Islam dan juga bangsa Indonesia. Islam merupakan sesuatu bagian, sedangkan umat Islam adalah bagian yang lain. Meski berbeda, namun merupakan sebah sistem dan kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisahkan.

Facebook Comments