Minggu, 16 Agustus, 2020
Informasi Damai
Archives by: Heri Priyatmoko

Heri Priyatmoko

Heri Priyatmoko Posts

Jurnalisme, Fakta Sejarah, dan Fiksi

Jurnalisme, Fakta Sejarah, dan Fiksi
Suara Kita
Bolehlah kita mengingat nama Arswendo Atmowiloto saat membincangkan jurnalisme, fakta sejarah, dan fiksi. Ketiga unsur itu terangkum semua dalam diri penulis kondang kelahiran Solo yang bernama asli Sarwendo itu. Dia masuk dalam barisan pendek wartawan yang merangkap sebagai sastrawan. Tanggal 19 Juli 2019, penulis serba bisa ini menghembuskan nafas terakhir. Ia pergi ke alam keabadian meninggalkan setumpuk karya yang berpengaruh di dunia literasi. Pada hakekatnya, juru warta bekerja dengan sebilah ...
Read more 0

Harmoni di Jalan Budaya

Harmoni di Jalan Budaya
Suara Kita
Gema perayaan Imlek belum melenyap. Kegembiraan juga masih terpancar dalam paras sahabat Tionghoa. Lihatlah, kawasan Pecinan di beberapa kota di Indonesia masih dijumpai lampion pating grandul. Terlihat pula pengunjung tanpa sungkan berfoto di lokasi. Kita manghayubagya (mendukung) acara yang dihelat setahun sekali ini merupakan secuil bukti menghargai komunitas Tionghoa berakspreasi. Pada dasarnya, pendukung ritual Imlek adalah mayoritas masyarakat China peranakan. Mereka lair ceprot di Nusantara dan umumnya tidak mumpuni berbahasa ...
Read more 1

Gusti Mangkunegara VII Mendidik Remaja

Gusti Mangkunegara VII Mendidik Remaja
Suara Kita
Semasa menahkodai Kota Surakarta, Pak Jokowi memakai (baca: meniru) pola kerja yang diterapkan Gusti Mangkunegara VII (1916-1944), yakni mider praja. Saban Jumat, ia bersepeda bersama jajarannya dan bersemuka dengan warga kampung dalam program mider praja. Kenyataannya memang bagus, mantan juragan mebel tersebut dekat dengan masyarakat akar rumput dan mengetahui segudang persoalan di tingkat akar rumput. Dewasa ini perlu dihidangkan sepucuk kisah Mangkunegara VII yang menarik untuk dijadikan inspirasi Presiden Jokowi ...
Read more 0

Gamelan: Jejak Toleransi dan Maknanya

Gamelan: Jejak Toleransi dan Maknanya
Suara Kita
“Gamelane wis muni,” demikian kalimat yang mengemuka sebagai tanda dimulainya Grebeg Sekaten di Solo dan Yogyakarta. Baru saja usai ritual tradisional warisan kerajaan Demak Bintara itu dihelat. Tempo doeloe, gamelan ditabuh niyaga ini bak besi sembarani agar masyarakat Jawa berbondong ke halaman Masjid Agung. Gamelan dimanfaatkan Walisanga menyukseskan program islamisasi di Jawa, tanpa memakai pentungan dan mengutamakan pendekatan kultural. Di era teknologi, gamelan di Sekaten tetap memesona. Ia kadung menulang ...
Read more 0
Translate »