Berharap Pers Contoh Teladan Burung Hud-hud!

Berharap Pers Contoh Teladan Burung Hud-hud!

- in Suara Kita
927
0
Berharap Pers Contoh Teladan Burung Hud-hud!

Keputusan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 menyebutkan pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Berlandaskan keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985 Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap 9 Febuari dan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Di HPN 2020 pers harus mampu membangun sinergi antar komponen pers, masyarakat dan pemerintah.

Ada kisah menarik dalam dunia pembawa berita. Tentu publik ingat dengan kisah burung Hud-hud si pembawa berita kepada Nabi Sulaiman AS.? Dikisahkan dalam QS. An-Naml ayat 21-26, sebuah cerita yang masyur yakni kisah burung Hud-hud yang jadi teladan dalam membawa berita.

Waktu itu tatkala Nabi Sulaiman AS memeriksa pasukannya, baik pasukan manusia sampai pasukan hewan termasuk burung untuk melihat apakah mereka semuanya telah berada di markasnya. Ternyata beliau mendapati burung Hud-hud tidak hadir kala itu.

Nabi Sulaiman AS berkata,  “Mengapa aku tidak melihat burung Hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?”. Kemudian Nabi Sulaiman AS mengancam burung Hud-hud karena ketidakhadirannya tersebut, seraya berkata, “Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.

Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba sesuatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seseorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar meraka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembuyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Ilah yang disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai Arsy yang besar,” (QS. An-Naml: 21-26).

Kisah ini memperlihatkan kecerdasan burung Hud-hud, ia membawa argumentasi yang kuat mengapa dia tidak hadir kala itu. Dan Hud-hud juga membawa berita yang bisa dipertangungjawabkan yaitu terkait kerjaan Saba yang dipimpin seorang Ratu Bilqis. Argumentasi dan berita yang dibawa burung Hud-hud membebaskan dia dari ancaman Nabi Sulaiman AS.

Baca Juga : Media Baru, Hiperrealitas, dan Literasi Digital

Kisah ini juga mencontohkan keteladanan Nabi Sulaiman yang tidak lantas percaya pada burung Hud-hud, meskipun beliau tahu kejujuran burung Hud-hud. Akhirnya Nabi Sulaiman AS tetap membuktikan kebenaran berita dari Hud-hud dengan mendatangi Ratu Bilqis di negeri Saba. Dan ternyata informasi yang dibawa Hud-hud benar adanya.

Kasus seperti ini bisa memberi contoh bagaimana seseorang menyampaikan berita dan menerima berita serta pembuktian kebenaran berita tersebut. Jika jadi pembawa berita seperti Hud-hud jadilah yang amanah dan tidak menambahi atau mengurangi berita itu. Jikalau jadi penerima berita selayaknya klarifikasi (tabayyun) seperti Nabi Sulaiman AS menerima berita dari Hud-hud. Contoh konkrit ini bisa menjadi teladan publik dikehidupan yang penuh kabar berita hoaks.

Salah satu menjadi resolusi pers tahun 2020 yaitu menumbuhkan literasi publik. Kenapa literasi publik perlu ditumbuhkan?. Publik butuh pendidikan literasi untuk membendung informasi palsu, hoaks, fitnah dan ujaran kebencian yang beredar di media sosial (medsos). Tantangan pers saat ini adalah melawan kerancuan informasi di dunia daring.

Literasi itu melingkupi kemampuan membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah. Publik harus bisa menjaga keseimbangan ketika membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah. Sekarang lagi fenomenanya publik pinter nulis di medsos tanpa dibarengi wawasan dari keluasan bacaannya akhirnya yang timbul adalah misinformasi. Berbicara pun butuh juga wawasan supaya pembicaraannya tidak ngelantur kemana-mana apalagi jadi fitnah.

Literasi bukan hanya ilmu yang harus dimiliki jurnalis. Tetapi pers saat ini perlu menyebarkan ilmu literasi keseluruh publik. Unsur-unsur wawasan literasi harus dipelajari dengan menyeluruh mulai dari membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah. Terkadang banyak orang pemberi solusi atas masalah tetapi banyak solusi yang diberikan malah menambah masalah baru. Problem seperti ini karena kurang seimbangnya seseorang dalam menguasai unsur-unsur literasi.

Pers dalam menumbuhkan literasi publik bisa meluncurkan program gerakan menulis. Menurut hemat pembaca dengan menulis unsur-unsur literasi yang lain sudah pasti tercakup. Seseorang untuk menulis artikel tentu butuh bacaaan, butuh diskusi, butuh perhitungan sebagai modal menulisnya. Para penulis untuk menghasilkan karya yang bagus tentu butuh ide-ide yang cemerlang, unik dan kekinian. Penulis memang dituntut untuk menguasai literasi dengan baik.

Dari gerakan menulis ini harapannya masyarakat minimal tidak asal tulis aja disetiap postingan medsosnya. Orang yang sudah terbekali kelas menulis tentu tahu aturan bagaimana menulis yang sesuai fakta dan penyampaiannya tidak menimbulkan masalah. Gerakan menulis ini bisa diterapkan dari bangku sekolah sampai bangku perkuliahan. Tujuannya anak-anak bangsa ini mampu berliterasi di tengah pertumbuhan medsos yang pesat supaya mereka kritis terhadap semua informasi yang ada di dunia maya itu.

Facebook Comments