Dari Kerajaan Nusantara Menuju Peradaban Dunia: Epifenomenologi Vs Historiografi

Dari Kerajaan Nusantara Menuju Peradaban Dunia: Epifenomenologi Vs Historiografi

- in Suara Kita
322
1
Dari Kerajaan Nusantara Menuju Peradaban Dunia: Epifenomenologi Vs Historiografi

Sungguh-sungguh terjadi. Belakangan ini publik digegerkan fenomena “nyleneh” yaitu munculnya beberapa komunitas dengan beragam bentuk dan kedok yang mengklaim sebagai kerajaan. Beberapa diantaranya bahkan mengklaim sebagai kerajaan yang memiliki wilayah teritorial sedunia. Fenomena ini mesti disikapi secara rasional dan konstruktif.

Pertama kali yang terkuak adalah munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Komunitas  ini didirikan oleh R. Toto Santoso (sebagai raja bernama Totok Santoso Hadiningrat) bersama Fanni Aminadia (sebagai permaisuri bergelar Dyah Gitarja) pada tahun 2018 dan memiliki anggota sekitar 450 orang. Kehebohan dan keresahan publik muncul ketika para pengikut dari Santoso melakukan acara wilujengan pada tanggal 12 Januari 2020. Keduanya akhirnya ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan penipuan dokumen dan membuat keresahan masyarakat.

Selanjutnya muncul pula Sunda Empire. Sunda Empire – Earth Empire adalah sebuah perkumpulan yang mendasarkan diri pada romantisisme sejarah pada masa lalu, di mana mereka mencita-citakan kerajaan Sunda akan kembali menjadi besar sebagaimana pada masa Tarumanegara. Mereka mengklaim bahwa mereka adalah kekaisaran yang besar antara bumi dan matahari. Toto Santoso bahkan juga pernah terlibat dalam komunitas ini. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia Roy Suryo laporkan Petinggi Sunda Empire ke Polisi diduga mengganti Sejarah PBB di Wikipedia. Setelahnya muncul lagi Kerajaan Warteg Bahagia di Depok, Keraton Djipang di Blora, dan lainnya.

Epifenomenologi

Prof Salim Said menyatakan bahwa kejadian munculnya klaim kerajaan-kerajaan baru merupakan bentuk epifenomenologi. Dennet (1991) melihat epifenomenologi sebagai peristiwa yang dapat berdimensi metafisis sekaligus juga menciptakan kegamangan realitas atas dirinya sendiri.

Epifenomenologi diterjemahkan sebagai bagian filsafat budi yang menyatakan, realitas yang terjadi itu dihasilkan melalui proses fisikal yang berlangsung dalam sistem interpretasi. Keduanya berinteraksi secara bolak-balik, dan merupakan akibat multivarian yang bersifat tumpang tindih. Akibatnya, kesan atas fakta menjadikan dayabudi dan pola interpretasi tersebut terwujud dalam aspek fisik faktual yang dapat berhimpitan dengan ilusi dan halusinasi (Pharmanegara, 2020).

Baca Juga : Dari Romantisme Sejarah Untuk Kemajuan Bangsa

Farid (2020) mengatakan tidak ada yang aneh atas epifenomenologi kemunculan kerajaan-kerajaan baru. Epifenomenologi semacam itu bahkan telah muncul sejak 1970-an dan diprediksi akan terus ada dari waktu ke waktu. Kondisi ini merupakan bentuk ekspresi dari masyarakat yang mengidentifikasi diri dengan kejayaan masa lalu.

Epifenomenologi dipandang hanya soal kedalaman pengetahuan, yaitu seberapa jauh mempelajari sejarah hingga diramu menjadi hal baru. Hal ini bukan masalah kebudayaan. Permasalahan muncul dan dapat mengarah ke pidana ketika memobilisasi massa, menipu, mengumpulkan dana atau membentuk tentara.

Di sisi lain, kemunculan epifenomenologi di atas dapat menunjukkan adanya frustasi sosial. Autokritik kepada pemerintah diberikan jika hal tersebut memang terjadi. Tanpa adanya rasa frustasi, sangat tidak logis banyak pengikut mudah terlena dengan iming-iming materi yang tidak masuk akal. Pemerintah kembali penting mengevaluasi program kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan.

Historiografi

Pembelajaran positif atas epifenomenologi ini adalah revitalisasi pendidikan kesejarahan nusantara. Romantisme masa lalu mestinya bukan justru menimbulkan delusi namun inspirasi guna menatap masa depan.

Banyak peninggalan kerajaan nusantara baik tangible maupun intangible yang penting dijadikan pembelajaran. Artefak dan candi-candi misalnya dapat mengajarkan era kini akan kemampuan arsitektural sekaligus kerekayasaan yang tinggi yang dapat diadopsi era kini. Nilai-nilai leluhur juga penting diinternalisasi dalam diri manusia sekarang guna menghadapi kehidupan global yang semakin kompleks. Misalnya sikap ksatria, paguyuban, dan lainnya.

Historiografi kerajaan nusantara mesti dikuatkan ke generasi muda sebagai bekal menghadapi globalisasi. Hal ini menjadi modal spirit dan empiris yang kuat agar bangsa ini terus maju dan menjadi terdepan dalam peradaban dunia. Sokongan ilmu pengetahuan dan teknologi dibutuhkan guna merealisasikannya tidak sekadar bermodal romantisme buta.

Munculnya epifenomenologi kerajaan baru yang irasional mestinya tidak sedikitpun mempengaruhi keutuhan NKRI. NKRI harga mati harus tetap tertancap dalam setiap dada warga negara. Revitalisasi sejarah nusantara menjadi kunci penggalian nilai-nilai positif guna membawa NKRI berada pada papan atas di kancah kehidupan internasional.

Facebook Comments