Dari Romantisme Sejarah Untuk Kemajuan Bangsa

Dari Romantisme Sejarah Untuk Kemajuan Bangsa

- in Suara Kita
254
1
Dari Romantisme Sejarah Untuk Kemajuan Bangsa

Indonesia dibangun di atas bangunan sejarah. Masa lalu Nusantara menjadi kekuatan bagi pendahulu kita untuk melihat masa depan. Masa lalu itu perlu diambil inti-sarinya sebagai landasan dalam mengelola kehidupan.

Persis inilah yang dilakukan oleh para pendiri bangsa ini. Ketika berjuang untuk memerdekana Indonesia, suatu negara yang dicita-citakan butuh otoritas sebagai pengikat. Otoritas itu adalah sejarah. Kita dulu adalah bangsa yang besar, jaya, beragam, disegani, dan pernah menjadi pusat dunia.

Masa keemasan Nusantara harus diletakkan laiknya kaca spion. Kita harus meletakkan secara proporsional. Laiknya kaca spion, sesakali perlu dilihat agar kita tidak ditabrak dari belakang, akan tetapi, kita juga tak boleh melihat melulu, agar kita tidak menabrak yang di depan. Sejarah adalah kunci agar kita tak ditabrak juga tak menabrak.

Artinya, kalau pandangan kita fokus selalu ke masa lalu, maka yang terjadi adalah romantisme sejarah yang membelenggu. Kita tidak bisa bergerak maju, mononton, dan selalu bernostalgia. Spirit masa lalu itu perlu diproyeksikan ke depan demi kemajuan dan keadaban bangsa ini.  

Di sini kita harus mengambil dua sikap sekaligus terhadap masa lalu. Pertama, mengingat (remembering). Kejayaan itu harus diingat dengan tujuan untuk dipelajari, diambil semangatnya, dan ditransformasikan ke kehidupan sekarang. Kedua, melupakan (forgetting). Tujaanya adalah agar fokus kita tidak melulu ke belakang. Kita tidak terjebak pada kejayaan masa lalu yang justru membunuh kreativitas dan inovasi kita ke dapan.

Apinya Sejarah

Kalau begitu, apa yang harus diambil dari masa lalu? Jawabannya sudah pasti adalah apinya sejarah, bukan abunya sejarah. Apinya itu adalah kekuata dalam sejarah yang bisa dipergunakan untuk konteks kekinian dan kedisinian. Ungkap Soekarno, Jangan sekali-kali melupakan sejarah, artinya adalah sejarah dalam arti semangat, spirit, dan api yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga : Antara Fenomena Kerajaan dan Radikalisme

Api sejarah itu berupa idealitas yang diambil dari pengalaman historis manusia Nusantara. Pengalaman bawah sadar bumi Nusantara ini yang diambil oleh Sukarno dan para pendiri bangsa lainnya yang tersimpul dalam Pancasila dengan slogan bhineka tunggal ika.

Pancasila adalah inti-sari terdalam dari pengalaman hidup manusia Nusatara. Ia sudah ratusan tahun bersemayam dalam nalar kolektif anak bangsa. Abstraksi dari pengalaman menjadikan bangsa ini bisa berdiri, kokoh, dan tidak pecah sampai sekarang.

Inti-sari sejarah itu kemudian dikonkritkan dalam bentuk pasal-pasal yang saling terkait dan penuh dengan makna filosofis. Mulai dari ketuhanan, kemanusian, persatuan, perwakilan, sampai kepada keadilan sosial.

Perasan sejarah itu ternyata bisa menenun tali persaudaraan dan persatuan bangsa ini. Pluralitas budaya, suku, bahasa, agama, dan tradisi lainnya, bisa kokoh berdiri di atas Pancasila yang diikat dengan tali bhineka tunggal ika.

Menuju Keadaban

Kristalisasi nilai dari sejarah masa lalu sudah sukses dilakukan oleh para pendahulu kita. Tugas sekarang adalah bagaimana agar nilai-nilai ideal itu bisa diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa, berenegara, dan bermasyarakat. Aplikasi ini bertujuan selian menjaga keadaban bangsa juga untuk kemajuan negara.

Untuk itulah, nilai ideal yang digali dari rahim sejarah bangsa ini harus dijadikan  pegangan dalam merepons peristiwa-peristiwa kekinian. Dengan lain kata, segala peristiwa yang bertentangan dengan nilai ketuhanan, kemanusian, persatuan, perwakilan, dan keadilan sosial harus ditinggalkan, dan tak perlu dikasih tempat.

Peristiwa akhir-akhir ini tentang Keraton Sejagat dan Sunda Empire tak perlu dianggap sebagai suatu keseriusan. Sebab, ini bertentangan dengan lima prinsip dasar bangsa ini. Kerajaan yang mendaku universal, tetapi menggunakan nama suatu suku tertentu, adalah kecelakaan sejara. Ia menabrak nilai persatuan.

Pun demikian dengan gerakan khilafah yang mengklaim sebagai solusi alternatif satu-satunya menabrak nilai idealitas sejarah bangsa ini. Dalam khilafah, keragamam mau disatukan, perbedaan mau disamakan, dan pemimpin wajib dari agama tertentu. Ini sekali lagi, sangat kontras dengan semangat humanis dari pengalaman sejarah bangsa ini.

Keadaban dalam arti berpegang kepada nilai idalitas –yang dalam bahasa Sukarno –apinya sejarah harus tetapi dirawat. Agar sejarah tidak hanya sekadar kumpulan nama, tanggal, dan perisstiwa, tetapi ia bisa menerangi kita dalam menelusuri masa depan.

Facebook Comments