Efek Digitalisasi dan Jurnalisme “Nafas Pendek”

Efek Digitalisasi dan Jurnalisme “Nafas Pendek”

- in Suara Kita
810
0
Efek Digitalisasi dan Jurnalisme “Nafas Pendek”

Semenjak bergulirnya revolusi digital, segala aspek kehidupan manusia mengalami dampak signifikan, terutama dalam arus informasi. Revolusi digital, sebagaimana dicatat dalam wikipedia, terjadi sejak sekitar tahun 1980, ditandai dengan berubahnya teknologi mekanik ke teknologi digital. Kemunculan komputer menjadi basis awal digitalisasi dalam berbagai bidang. Kemudian ditunjang oleh internet, maka digitalisasi meluas ke seluruh penjuru dunia.

Arus informasi utamanya, berubah drastis formatnya dari perangkat keras dan serba konvensional, menjadi perangkat lunak. Koran, majalah, tabloid, hingga televisi dan radio, kalah bersaing dengan teknologi digital yang mengandalkan jaringan internet. Jika dulu manusia harus menunggu lama untuk mendapat informasi, karena menunggu terbitnya surat kabar atau tayangan di televisi, maka hari ini tidak perlu waktu lama untuk mengaksesnya. Cukup searching di laptop, android, atau perangkat lain, maka dalam hitungan detik informasi yang dicari akan didapat.

Begitu cepat informasi didapat, menjadikan perangkat digital digandrungi oleh banyak pihak. Mereka yang mengandalkan media konvensional, seperti surat kabar, lambat laun gulung tikar jika tidak mampu mengimbangi dan berinovasi.

Sayangnya, dampak yang begitu melesat dari revolusi digital ini, tidak selamanya berbuah manis. Arus informasi yang bergulir, tidak jarang berisi sampah-sampah pengetahuan yang meracuni. Dampak yang begitu terasa adalah yang terjadi pada dunia jurnalistik. Hari ini, semua orang bisa menjadi jurnalis tanpa melihat kualifikasi dalam dirinya. Hal ini lantaran mereka difasilitasi oleh perangkat digital berupa media sosial. Disanalah semua orang bisa bebas memberikan informasi dan tidak ada pelarangan.

Dunia jurnalis pun jatuh pada tataran semrawut (kacau), sebab tidak ada norma aturan yang dipegangi dalam persebaran arus informasi. Orang bebas bicara apa saja, tidak peduli hal tersebut penting atau tidak, benar atau salah, bermanfaat atau merusak. Asalkan bisa menulis atau menyebar informasi, semua bebas berekspresi.

Baca Juga : Jurnalisme Digital, Misinformasi dan Pasca-Kebenaran

Dunia jurnalis pun terjebak pada apa yang disebut jurnalisme “nafas pendek”. Dikatakan demikian, sebab untuk menjadi jurnalis tidak perlu repot-repot belajar ini dan itu. Dulu, menjadi jurnalis adalah perkara yang berat, sebab harus belajar kode etik, latihan menulis yang baik, mencari berita yang layak disebarkan, croscek kebenaran berita, dan proses panjang lainnya. Seorang jurnalis benar-benar dituntut untuk “bernafas panjang” agar informasi yang disajikan layak dikonsumsi publik.

Ini tentu berbanding terbalik dengan kondisi hari ini. Cukup bermodal medsos, orang bisa menulis informasi apa saja tanpa peduli hal tersebut layak atau tidak. Inilah yang disebut jurnalisme “nafas pendek”.

Dampaknya, bisa kita saksikan hari ini. Bermacam informasi hoax, ujaran kebencian, hingga fitnah, semua dipertontonkan dalam wadah digital. Lebih miris lagi, informasi semacam ini tetap disebarkan oleh publik dan dipandang informasi penting dan layak. Inilah efek dari jurnalisme “nafas pendek”, dimana arus informasi yang negatif pun tidak terbendung.

Spirit Jurnalisme Konvensional

Jika sudah demikian, maka efeknya akan sangat besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Potensi chaos sewaktu-waktu bisa terjadi dan menyebabkan keharmonisan kehidupan berbangsa terkoyak. Relakah jika kondisi ini terjadi?

Karena itu, kembali kepada spirit jurnalisme konvensional adalah upaya yang tepat. Jurnalisme konvensional dalam hal ini bukan pirantinya, tetapi tata caranya. Yakni, nilai-nilai jurnalisme kembali menjadi patokan ketika memberikan informasi ke publik. Nilai-nilai jurnalisme berpatokan kepada kode etik yang layak dan dapat dipertanggungjawabkan. Seperti tercantum dalam Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008. Disana terdapat banyak etika jurnalis yang sangat layak untuk dijadikan patokan bagi siapapun yang ingin menulis atau menyebarkan informasi.

Seperti, pertama, bersikap independen, menghasilkan informasi yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Siapapun orangnya yang ingin berbagi informasi, utamanya lewat piranti digital seperti medsos, semestinya bisa mengindahkan prinsip ini. Sehingga mereka tidak asal menyebar informasi tanpa mengetahui apakah info tersebut akurat, dan apakah akan berakibat buruk. Jika prinsip ini dipakai, informasi hoax pasti tidak akan muncul.

Kedua, menguji informasi, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Jika prinsip ini diterapkan, orang tidak akan mudah menuliskan informasi yang belum teruji kevalidannya, tidak mudah menghakimi pihak lain, juga tidak mudah memvonis. Orang akan lebih hati-hati dan lebih selektif.

Inilah diantara kode etik yang semestinya bisa digunakan setiap orang dalam berinformasi di dunia digital. Seandainya kode etik ini bisa diterapkan sebagaimana mestinya, tentu efek digitalisasi tidak membawa dampak yang buruk dalam berinformasi. Sebaliknya, bisa membawa nilai-nilai kebaikan yang ujungnya adalah keharmonisan dalam kehidupan.

Facebook Comments