Gamelan: Jejak Toleransi dan Maknanya

Gamelan: Jejak Toleransi dan Maknanya

- in Suara Kita
110
0
Gamelan: Jejak Toleransi dan Maknanya

Gamelane wis muni,” demikian kalimat yang mengemuka sebagai tanda dimulainya Grebeg Sekaten di Solo dan Yogyakarta. Baru saja usai ritual tradisional warisan kerajaan Demak Bintara itu dihelat. Tempo doeloe, gamelan ditabuh niyaga ini bak besi sembarani agar masyarakat Jawa berbondong ke halaman Masjid Agung. Gamelan dimanfaatkan Walisanga menyukseskan program islamisasi di Jawa, tanpa memakai pentungan dan mengutamakan pendekatan kultural.

Di era teknologi, gamelan di Sekaten tetap memesona. Ia kadung menulang sumsum dalam masyarakat Jawa. Bahkan, masih hidup istilah lawas: “gantung gong”. Di mulut gang Kemlayan, bekas kampungnya niyaga istana Kasunanan, kita masih dapat menjumpai sebuah gong kecil digantung. Dalam pemahaman wong Solo cekek, gong berumur setengah abad lebih ini bukan benda pajangan belaka. Tempo dulu, apabila orang menggelar hajat tidak nanggap karawitan seolah ada yang kurang. Ibarat orang memasak, terasa cemplang. Nah, “gantung gong” menandakan perangkat gamelan beserta pangrawit-nya hadir di rumah seseorang yang tengah memiliki hajat. Pendeknya, “gantung gong” merupakan simbol status sosial yang sangat dibanggakan detik itu.

Menarik bahwa usai kekuasaan keraton gulung tikar akibat disapu gelombang revolusi sosial, aktivitas karawitan dan “gantung gong” di kampung maupun ruang publik tak menyusut, justru semarak dan pating tlecek. Hal ini dikarenakan berdirinya lembaga kesenian seperti Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) dan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) atas izin Presiden Sukarno. Institusi tersebut diminta menelurkan seniman ulung dan cerdas secara intelektual. Selain itu, disampiri tugas menggali, memelihara, serta mengembangkan kesenian di telatah Jawa Tengah. Tak sedikit pangrawit istana yang bebas dari kekangan penguasa keraton “lari” ke institusi formal ini. Di samping hendak mencari penghidupan yang layak di luar tembok kerajaan, para pemusik istana berupaya keras mengembangkan dan menyebarkan kemampuan yang dimilikinya kepada masyarakat luas. Mereka berkemauan mengajarkan kesenian karawitan yang cukup lama digelutinya. “Selak kedisikan moloikat,” demikian guyonan empu sepuh kala itu.

Gema serta kawruh gamelan didedungkan lembaga kesenian bersama para empu ternyata melibas batas geografis dan sekat sosial. Sampai jua ke masyarakat luar Surakarta. Masuk akal bila dalang, pangrawit, vokalis, pesindhen, serta seniman lain di daerah luar banyak yang keroyo-royo belajar ke Solo guna meningkatkan status kesenian mereka agar lebih bermartabat. Mau tak mau, kahanan tersebut menyebabkan kegiatan seni di kota tua ini berjubel. Buahnya, citra Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa kembali menebal selepas keraton jatuh. Dan juga elemen kebudayaan berupa kesenian lambat laun kian merampok hati masyarakat.

Baca Juga : Merawat Kemajemukan Dengan Melawan Intoleransi Melalui Pemahaman Teks Agama Yang Terbuka

Bukti riuhnya suasana berkesenian tradisional masyarakat Solo dapat diperoleh dari pengakuan Dr. Ernst Heins. Dia adalah ahli gamelan dari Belanda, yang sengaja menginjakkan kaki ke Kota Bengawan tahun 1966 demi memperdalam pengetahuannya perihal gamelan. Lelaki ini diantar blusukan ke berbagai tempat yang bertemali dengan gamelan dan musik karawitan. Misalnya, RRI, pabrik piringan hitam Lokananta, pabrik gamelan Leppon Karyasasa, serta kampung Kemlayan yang ditinggali empu karawitan. Dalam kunjungannya di kota mungil itu, lelaki tersebut menyatakan gandrung kapilangu dan kagum memeroki warga begitu girang dan dimana-mana banyak orang nabuh gamelan. Realitas yang dijumpainya itu sama sekali tidak pernah dibayangkan sebelum mendarat di Indonesia. Maklum jika bikin pria bule ini terheran dan tercekat (Koran Angkatan Bersenjata, 17 April 1966).

Periset asing ini mulai menyadari bahwa kawruh gamelan bisa ditimba pula pada kelompok karawitan, bukan berhenti pada bengkel gamelan Wirun, Kokar, dan ASKI. Ambillah contoh, di Studio RRI Surakarta bercokol tim karawitan bernama Riris Raras Irama (kepanjangan RRI). Kelompok klenengan tersebut digawangi empu karawitan dari Kemlayan seperti Goenopangrawit yang jago rebab dan Turahyo Harjomartono lihai menabuh kendang. Tahun 1970-1978, penggila karawitan ini merekam gending-gending Jawa di Kusuma Record Klaten, dan membuahkan 70 buah kaset serta lebih dari 100 gending yang direkam. Lewat mata acara siaran rutin khususnya siaran gending Jawa gagrak Sala atau dikenal dengan uyon-uyon mat-matan, RRI kurun itu sanggup membangun identitas sendiri dan menjadi kiblat karawitan Jawa gaya Surakarta.

Tidak berhenti di sini, karawitan membersamai pula gelaran wayang kulit yang disiarkan RRI sebulan sekali, pada malam Minggu. Gelaran untuk umum ini sukses menarik animo publik. Bagi yang rumahnya jauh di pelosok pedesaan, cukup mendengarkan lewat radio jinjing. Tidak sedikit dalang berkeinginan siaran di sini. Kecilnya bayaran tidak menyusutkan semangat mereka untuk tampil. Misinya terselip, yakni golek jeneng atau mengerek namanya supaya menjadi dalang top. Bagi barisan dalang muda, mbarang di RRI bobotnya ditimbang sebanding dengan unjuk kepandaian para dalang sepuh di keraton. Maklum kalau banyak dalang mendaftar ingin tampil di RRI guna merebut penggemar (Victoria M. Clara, 1987).

Kenyataan di muka menyediakan pemahaman bahwa permainan gamelan secara tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana ritual, namun juga hiburan, hayatan, dan komunikasi. Sebagai sarana ritual, karawitan dapat pula dipakai menyambut kelahiran putra raja dan segala bentuk upacara. Fungsi kedua sebagai hiburan, umumnya bertemali dengan aneka keperluan seperti hari jadi kota, khitan, serta mantu. Fungsi ketiga, hayatan. Pertunjukan ini lazim memerlukan garapan serius, sebab penonton yang membeli tiket menuntut adanya sajian bermutu. Biasanya penonton pertunjukan itu dari kalangan menengah ke atas. Fungsi keempat, sebagai sarana komunikasi. Dengan ini, kaum elit yang berkuasa dapat menyemaikan idenya. Sebagai alat komunikasi, karawitan merupakan wahana penting menyasar penduduk yang masih buta aksara, baik di pedesaan maupun perkotaan.

Roncean fakta di atas menegaskan bahwa gamelan dari masa ke masa mampu eksis meski diterba arus globalisasi. Dalam perhelatan budaya Sekaten, gamelan bukan sekadar artefak dan jejak sejarah islamisasi yang hamonis, namun juga membuktikan konsistensi pendahulu menjaga kelestarian gending Jawa.

Facebook Comments