Gus Dur, Praktik Jurnalisme, dan Profesionalisme

Gus Dur, Praktik Jurnalisme, dan Profesionalisme

- in Suara Kita
233
1
Gus Dur, Praktik Jurnalisme, dan Profesionalisme

Suatu waktu, Gus Dur pernah ditanya oleh wartawan, mengapa di Indonesia sering terjadi gempa bumi? Tanpa beban, Gus Dur langsung menjawab: Itu karena Nyai Roro Kidul disuruh pake jilbab!

Bagi sebagian orang, jawaban Gus Dur itu dianggap mengada-ada, bahkan terkesan mistik. Gus Dur bilang: “Saya ini kiai, kalau masalah gempa bumi tanya sama BMKG, jangan tanya saya. Ya saya jawab kayak gitu.”

Ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi dari jawaban Gus Dur di atas. Pertama, masalah proporsionalitas, dan kedua masalah profesionaltas.

Dengan jawaban seperti itu sebenarnya Gus Dur ingin mengajari atau kalau bahasanya diperhalus menasihati wartawan agar bersikap proporsional, yaitu sikap bertanyalah kepada ahlinya masing-masing.

Masalah politik, seharusnya wartawan tanya sama ahli politik, masalah agama sama ahli agama, masalah pendidikan sama ahli pendidikan, masalah kesehatan sama ahli kesehatan, begitu seterusnya.

Sikap yang seperti ini yang akhir-akhir ini yang mulai hilang dari praktik jurnalisme. Kasusnya apa, yang ditanya siapa. Kasus A yang did-blow up B. Sering kali, yang diekspos besar-besaran adalah hal-hal remeh-temeh yang jauh kaitannya dengan substansi.

Sensasionalitas masih menjadi hal yang lumrah dalam praktik jurnalisme kita. Demi like, komentar, dan rating sharing, keakuratan dan ketepatan data masih diabaikan.

Sebagai contoh, wacana Full Day School yang dulu sempat hebot. Wacana itu sempat menjadi pro-kontra di tengah-tengah masyarakat. Tapi anehnya yang diwawancarai dan di-blow up ke publik justru bukan pendapat para ahli pendidikan. Tidak jarang yang diwawancarai malah selebriti dan politikus yang nyata-nyatanya itu bukan ranah mereka.

Baca Juga : Gus Sholah, Pesan Kemanusiaan Dan Nirkekerasan

Terkadang lucu saja melihatnya. Kenapa wartawan tidak mem-blow up pendapat para ahli pendidikan, atau yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan saja, yang jelas- jelas lebih paham, sehingga kesalahpahaman di masyarakat reda.

Penetrasi Media Sosial

Penetrasi media sosial semakin membuat dunia informasi tambah semrawut. Setiap orang bisa dengan mudah aktif dan berpartisipasi dalam menyebarkan informasi. Tanpa ada verifikasi dan penyaringan, semua informasi dengan mudah menyebar kesana-kemari.

Belum lagi, banyaknya media daring yang menjadikan suara netizen sebagai landasan. Di sebuah negara demokrasi itu sah-sah saja. Akan tetapi menjadikan itu sebagai rujukan untuk mengabsahkan atau membatalkan suatu kebijakan adalah sebuah kekeliruan.

Karena tidak semua netizen paham atas sebuah persoalan. Bahkan tidak jarang ada yang asal komentar. Jawaban Gus Dur di atas sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada wartawan saja, melainkan kepada semua orang yang aktif did sosial media.

Agar berkomentar sesuai dengan kapasitas masing, dan tidak mudah menerima informasi kalau bukan dari otoritasnya. Pendek kata, bertanyalah sama ahlinya dan berkomentarlah sesuai keahlianmu.

Di tengah-tengah masyarakat sekarang ini. Dengan adanya media sosial seperti sekarang, orang bisa ngomong apa saja. Padahal itu jelas-jelas bukan bidangnya, bahkan tidak jarang orang yang tidak tahu apa-apa ikut berkomentar. Mbok, kalau nggak tahu apa-apa mending nggak usah komentar.

Kita dengan mudah menemui kasus, di mana anak yang baru belajar agama, atau malah Iqra’ 6 saja belum lulus, sudah berani mengafirkan dan menyuruh Quraish Shihab agar belajar tafsir lagi.

Indonesia ini ribut, ruwet, dan semrawut, karena manusia-manusia di dalamnya belum tahu aturan main. Mungkin inilah yang perlu kita benahi. Ahli agama mengomentari masalah politik, ahli politik ngomong soal agama, masalah pendidikan dikomentari politikus, dan seterusnya –harus dihentikan.

Facebook Comments