Gus Sholah, Pesan Kemanusiaan Dan Nirkekerasan

Gus Sholah, Pesan Kemanusiaan Dan Nirkekerasan

- in Suara Kita
364
1
Gus Sholah, Pesan Kemanusiaan Dan Nirkekerasan

Salah satu putra terbaik bansa kembali dipanggil Yang Maha Kuasa. Dialah KH. Sholahudin Wahid (Gus Sholah), adik Gusdur. Gus Sholah merupakan sosok yang komplit, yaitu negarawan,kyai, teknokrat, dan aktivis. Pribadinya juga terkenal kharismatik, ramah, moderat dan lurus.

Beragam aktifitas dan jabatan pernah ditempuh Gus Sholah dalam multi sektor. Alumni Artisektur ITB ini sejak mahasiswa aktif di PMII. Dunia professional ditekuni melalui Ikatan Arsitek Indonesia, Persatuan Insinyur Indonesia, Ikatan Konsultan Indonesia, KADIN, dan lainnya. Dunia aktivis kemanusiaan pernah dilakoni di Komnas HAM, YLBHI, Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, dan lainnya. Sedangkan dalam dunia keIslaman dijalani melalui PBNU dimana pernah menjadi Ketua Umum 1999-2004, pengasuh PP Tebuireng Jombang, dan lainnya.

Melihat sepak terjang di atas, maka banyak hikmah yang dapat diambil dari seri kehidupan Gus Sholah. Salah satunya adalah sektor kemanusiaan dan perjuangan melawan kekerasan.

Catatan Kemanusiaan dan Kekerasan

Kemanusiaan publik sering tersentak dengan hukum yang tidak berpihak pada keadilan. Sudah jatuh tertimpa tangga. Alih-alih korban mendapatkan perhatian kadang justru sebaliknya menjadi pesakitan.  Kasus semacam ini misalnya pada kekerasan perempuan.

Kondisi yang patut menjadi perhatian nasional dan alarm bagi kita adalah meningkatnya kasus kekerasan serta penyakit sosial lainnya. Kasus-kasus yang menyertai kekerasan, konflik, dan radikalisme semakin kompleks dan tidak bisa disikapi hanya pada wilayah hilir. Indonesia mesti terus menyupayakan solusi di semua lini. Pemerintah dan pihak lain penting menyikapi dan mencari solusi setiap potensi penyakit sosial secara komprehensif dan sistematis mulai dari identifikasi hulu masalah dan menyentuh seluruh aspek. Literasi mesti sampai kepada semua komponen bangsa. Penyakit sosial mesti diruwat dan kondusivitas sosial harus dirawat.

Baca Juga : Khilafah, Ideologi, dan Masa Lalu yang Membelenggu

Kriminalitas adalah bentuk penyakit sosial kronis. Kartasaputra (2011) mengungkapkan penyakit sosial timbul karena berbagai penyimpangan terhadap norma masyarakat. Ditambahkan bahwa penyimpangan tersebut terjadi karena beberapa faktor. Pertama karena tidak adanya figur yang bisa dijadikan teladan dalam memahami dan menerapkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Kedua, pengaruh lingkungan kehidupan sosial yang tidak baik. Ketiga adalah  proses sosialisasi yang negatif. Terakhir karena merasakan adanya ketidakadilan.

Fenomena penyakit sosial dapat mengarah pada frustasi sosial. Indonesia pada tahun 2017 dihadang masalah frustasi sosial. Beberapa faktor yang memengaruhi frustrasi sosial, antara lain faktor kemiskinan struktural, lonjakan pengangguran akibat sempitnya lapangan kerja, dan ketimpangan sistem pendidikan (Sasongko, 2016).

Pesan Solutif

Gus Sholah selalu menunjukkan keberpihakan kepada korban kekerasan. Beliau juga terus tampil di depan dalam perjuang melawan kekerasan. Jalan yang dipilih selain struktural misal melalui Komnas HAM, juga melalui jalur kultural seperti NU, pesantren dan lainnya. Suguhan Islam moderat menjadi salah satu strategi prevensi laku kekerasan yang timbul selama ini.

Berbekal teladan tersebut, perlawanan mesti diupayakan melalui tanggap daurat dan peta jalan dalam mengantisipasi kekerasan dan penyakit sosial agar tidak terulang. Beberapa pendekatan dan strategi penting diperhatikan.

Pertama adalah membudayakan laku nirkekerasan. Budaya ketimuran kita mengajarkan adanya musyawarah dan penghargaan atas rasa kemanusiaan. Laku nirkekerasan menjadi penciri budaya tersebut. Pendidikan sejak dini penting menguatkan budaya nirkekerasan. Pendekatan keagamaan mesti menjadi strategi fundamental bahwa agama melarang aksi kekerasan yang tidak manusiawi.

Kedua adalah menunjukkan keteladanan pemimpin. Perangai pemimpin di setiap level akan senantiasa diamati hingga diikuti secara tidak sadar oleh publik. Elit-elit yang gemar mempertontonkan kebencian, emosi kasar, hingga perilaku mengarah kekerasan penting mengurangi hingga menghindarinya. Pemimpin mesti menjadi teladan yang tegas, taat hukum, dan berjiwa sosial tinggi.

Ketiga adalah membuktikan keadilan pemerintah. Ketidakadilan yang dirasakan masyarakat menjadi faktor penting dalam memicu frustasi sosial hingga penghakiman massal. Pemerintah mesti membuktikan adanya ketegasan penegakan hukum serta minimalisasi ketimpangan sosial ekonomi. Alih-alih menyikapi kritik, pemerintah jangan sampai justru terjebak dengan frustasi diri. Balasan pembungkaman kebebasan menjadi alarm yang mesti dihindari.

Keempat adalah sosialisasi gerakan sadar hukum secara masif. Aparat hukum mesti menjadi pihak yang benar-benar terpercaya dan tidak justru menjadi bagian yang bermasalah. Gerakan sadar hukum mesti digencarkan. Tidak hanya sebatas sosialisasi regulasi, namun sistematika penindakan hukum mesti diberikan. Alur pelaporan mesti dipermudah melalui berbagai media berbasis IT.

Penegak hukum mesti memberikan jaminan sigap dan profesional dalam setiap penanganan pelaporan. Praktik-praktik di depan mata dan menjadi rahasia umum mesti tetap ditindak tanpa menunggu ledakan masalah atau laporan publik. Patroli keamanan mesti terus dilakukan aparat bagaimanapun kondisi suatu wilayah.

Kelima adalah meminimalisasi pengaruh media-media yang menampilkan kekerasan terhadap perempuan, meskipun dikemas dalam hiburan. Media televisi, media sosial, dan lainnya yang memuat konten kekerasan mesti dilarang penayangannya.

Seluruh sektor dan institusi mesti bersinergi.  Kondusifitas sosial menjadi penciri pencapaian tingkat keadilan, penegakan hukum, dan memicu kesejahteraan sosial. Semoga segera muncul Gus Sholah- Gus Sholah baru yang konsisten berjuang dalam kemanusiaan dan nirkekerasan.

Facebook Comments