Islam dan Larangan Tenggelam Pada Romantisme Masa Lalu

Islam dan Larangan Tenggelam Pada Romantisme Masa Lalu

- in Suara Kita
385
0
Islam dan Larangan Tenggelam Pada Romantisme Masa Lalu

Islam memiliki keterkaitan dengan kemunculan kerajaan-kerajaan feenomenal semacam Sunda Empire. Hal ini seperti dapat dilihat dari video-video yang viral, banyak pengikutnya yang merupakan penganut agama islam. Bahkan ada yang mengaku anggota dari ormas Islam terbesar di Indonesia. Keikutsertaan mereka pada kerajaan fenomenal yang memimpikan kejayaan masa lalu, memperlihatkan ketidak tahuan mereka akan larangan Islam pada terlalu tenggelam dalam khayalan.

Islam memang tidak anti dengan sejarah. Islam bahkan memerintahkan pemeluknya menjadikan sejarah kehidupan umat-umat terdahulu sebagai pertimbangan hidup. Tapi, untuk mengembalikan kejayaan seperti kejayaan kerajaan Islam seperti masa lalu, dengan usaha serta bentuk yang tak rasional dan berdasar keyakinan semata, Islam memandangnya angan-angan manusia yang berlebihan dan tak patut dilakukan.

Islam mendorong untuk mempelajari sejarah

Dalam pandangan agama, nalar manusia senantiasa didorong untuk digunakan dalam mempelajari sesuatu serta mengendalikan keinginan. Dalam konteks sejarah, al-Qur’an senantiasa mendorong pembacanya untuk belajar dari umat-umat terdahulu. Baik mereka yang kemudian dimuliakan oleh Allah, maupun yang kemudian dimusnahkan olehnya. Dorongan tersebut di antara disebutkan dalam surat Muhammad ayat 10:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا

Maka Apakah mereka tidak Mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa perjalanan dalam ayat di atas tidak sekedar perjalanan tubuh, tapi juga pemikiran. Hal ini mengisyaratkan untuk mempelajari sejarah, agar tidak mengulang kesalahan di masa lalu dan melestarikan kebaikan yang masih relevan hingga sekarang. Dan hal ini tidak bisa diperoleh tanpa mempelajari dengan seksama bagaimana suatu kejayaan atau kehancuran terjadi. Tidak sekedar berpikir serta menerka-nerka dengan keyakinan-keyakinan semata.

Larangan terlena dengan khayalan

Islam juga mendorong pemeluknya untuk tidak terlalu terlena dengan khayalan atau cita-cita belaka. Atau, dalam Islam disebut sebagai terlalu panjangnya angan-angan. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan:

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِى اثْنَتَيْنِ فِى حُبِّ الدُّنْيَا ، وَطُولِ الأَمَلِ

Jiwa seseorang yang sudah lanjut usia tidak akan menua dalam hal mencitai harta benda duniawi serta berlebihan dalam bercita-cita

Baca Juga : Kerajaan Fiktif, Penegakan Hukum dan Reformasi Kebudayaan

Hadis ini memberi peringatan kepada manusia akan tabiat mereka. Bahwa pada saat-saat tertentu manusia tidak akan bisa menggunakan nalarnya dengan baik. Usia tua seharusnya disertai dengan pandangan yang baik bagaimana seharusnya dalam memperlakukan harta benda duniawi serta dalam bercita-cita. Tidak lantas terus seperti pemuda yang tidak ada habisnya mencari harta, bercita-cita dan mewujudkan cita-citanya.

Usia tua adalah peringatan dini bahwa kelak apa yang mereka inginkan tidak akan mereka nikmati sendiri, seperti yang mereka bayangkan. Maka sudah seharusnya mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Dalam bercita-cita, manusia juga didorong bertindak secara rasional. Tidak gegabah dengan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Juga tidak terlena dengan cita-cita semu atau khayalan, sehingga lalai dalam berusaha.

Berlebihan dalam berangan-angan atau bercita-cita dapat diukur dari seberapa jauh rencana manusia membawa angan-angannya dalam memimpikan sesuatu. Bila sekedar merencanakan sesuatu yang masih bisa dinalar oleh logika akal manusia dan logika agama, maka diperbolehkan. Bila sampai melalaikan bahwa kelak ada kehidupan akhirat, sehingga membuat malas bekerja dan memilih memegangi keyakinan-keyakinan semu, maka inilah yang kemudian dilarang. Manusia harus senantiasa menjadikan al-Qur’an dan hadis sebangi tuntungan dengan bantuan akal.

Kesimpulan

Mengambil pelajaran dari sejarah serta membatasi khayalan adalah dua bentuk dorongan dari Islam bagi pemeluknya untuk menggunakan nalar dengan baik. Dan bila dikontektualisasikan pada isu kekinian, kejayaan kerajaan nusantara ataupun kejayaan kekhalifahan Islam haruslah tetap dipelajari. Tapi, tidak untuk sekedar menjadi hal-hal yang dicita-citakan untuk kembali terulang. Melainkan sebagai fakta sejarah yang dapat ditiru usahanya dalam mewujudkan kejayaan, serta kecerobohannya sehingga mengakibatkan kehancuran.

Mencita-citakan serta berusaha mewujudkan kejayaan masa lalu tanpa adanya pertimbangan nalar yang baik, seperti bagaimana suatu kejayaan terwujud sebelum kemudian hancur, adalah hal yang dilarang dalam islam. Sebab hal inilah bentuk dari keterlaluan dalam berkhayal. Dan sumber kemalasan manusia dalam berusaha serta bersabar menghadapi tantangan. Oleh sebab itu, sejarah masa lalu haruslah tetap menjadi acuan dalam bertindak. Jangan kemudian menjadi tuntutan untuk kembali diwujudkan tanpa mempertimbangkan kerelevanannya.

Wallahu a’lam bisshowab.

Facebook Comments