Jurnalisme Digital, Misinformasi dan Pasca-Kebenaran

Jurnalisme Digital, Misinformasi dan Pasca-Kebenaran

- in Suara Kita
251
2
Jurnalisme Digital, Misinformasi dan Pasca-Kebenaran

Era disrupsi menjadi lonceng kematian bagi industri media massa cetak. Gejala itu ditandai dengan tumbangnya perusahaan media massa cetak satu per-satu lantaran sepi oplah. Sejumlah perusahaan media massa cetak yang masih bertahan pun agaknya harus menerima kenyataan bahwa mereka tengah menuju senjakalanya. Hal ini dapat diprediksi dari tidak adanya pembaca media massa cetak di kalangan generasi muda.

Dalam konteks jurnalisme, disrupsi tidak hanya mengubah model bisnis media massa dari cetak ke digital. Lebih dari itu, disrupsi telah mengubah wajah jurnalisme secara keseluruhan. Harus diakui, ada perbedaaan mendasar antara jurnalisme di era media massa cetak dengan jurnalisme di era media massa digital. Salah satu perbedaan itu terletak pada mutu jurnalisme itu sendiri.

Di era media massa cetak, kualitas jurnalisme secara umum dapat dikatakan lebih baik ketimbang era jurnalisme digital. Di era media cetak, kerja jurnalistik dimungkinkan untuk dilakukan secara profesional dengan mengutamakan keakuratan data dan fakta. Hal ini juga didukung oleh skil jurnalis yang mumpuni. Untuk menjadi jurnalis di media massa cetak umumnya diperlukan latar belakang atau pengalaman di bidang jurnalisme. Ditambah pula ada tahapan berjenjang sebelum diangkat sebagai jurnalis resmi di media massa cetak.

Idealisme itu sulit dipertahankan di era digital. Sebagian media dalam jaringan (daring) tidak lagi mengindahkan kaidah jurnalisme. Di era digital, media daring berlomba mengejar traffick setinggi mungkin, lantaran dari situlah pintu masuk iklan. Semakin tinggi traffick, kesempatan mendulang iklan akan semakin besar dan kesehatan finansial perusahaan akan terjamin. Perlombaan mengejar traffick dan iklan itu kerap dilakukan dengan mengorbankan kaidah dan etika jurnalistik.

Imbasnya, informasi yang disajikan tidak lagi mengedepankan unsur validitas dan akurasi, alih-alih mengejar kecepatan. Variabel kecepatan ini penting lantaran menjadi magnet yang mampu menarik pembaca. Semakin cepat sebuah isu diberitakan, masyarakat akan semakin bersemangat meresponnya. Traffick pun meningkat tajam, namun unsur akurasi dan validitas menjadi terabaikan.

Baca Juga : Jurnalisme Warga, Media Alternatif dan Forum Publik

Situasi tidak ideal ini masih ditambah oleh buruknya kualitas jurnalis. Berbeda dengan era media massa cetak, kualitas jurnalis di era media massa digital bisa dibilang sangat memperihatinkan. Meski tidak semua, namun sebagian besar wartawan media daring kerap tidak memiliki pengetahuan terkait praktik jurnalisme. Sebagian besar dari mereka juga tidak dibekali pengetahuan dasar jurnalistik oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Alih-alih diposisikan sebagai jurnalis yang harus mencari berita, mengecek fakta, menganalisanya dan menyajikannya dalam reportase yang berkualitas, mereka lebih sering diposisikan sebagai buruh tulis yang diwajibkan menulis berita sekian judul per-harinya. Kelindan antara kepentingan mendulang traffick dan minimnya kualitas jurnalis itulah yang membuat media massa daring kerap terjebak di antara fenomena misinformasi dan sindrom pasca-kebenaran.

Misinformasi adalah situasi ketika sebuah informasi atas peristiwa, isu atau apa pun disampaikan dengan tidak tepat. Ketidaktepatan sebuah berita itu sayangnya kerap terjadi karena faktor kelalaian (baca: kemalasan) jurnalis dalam menyajikan berita yang bermutu. Target harian yang dibebankan pada jurnalis media daring membuat mereka nyaris tidak memiliki waktu untuk mengecek kebenaran fakta di lapangan, mengomparasikan penyataan narasumber dengan narasumber lain serta menulis berita yang bagus.

Alhasil, banyak berita disajikan secara asal-asalan; asal tayang, asal direspons publik, asal memenuhi kuota berita harian dan lain sebagainya. Sebuah peristiwa bisa diberitakan ke dalam lebih dari satu judul yang berbeda demi mendulang traffick. Tidak ada kedalamaan analisa, alih-alih hanya informasi sekilas yang disajikan ala kadarnya. Upaya untuk mendulang traffick nyatanya berbanding terbalik dengan kualitas berita itu sendiri. Pada titik inilah, praktik jurnalisme bermutu berada di titik nadirnya.

Situasi ini diperparah pula dengan sindrom pasca-kebenaran yang saat ini mewabah dan menjangkiti sebagian besar masyarakat. Sindrom pasca-kebenaran adalah sebuah keadaan ketika kebenaran emosional dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik ketimbang kebenaran faktual dan keyakinan obyektif. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Steve Tesich, penulis Amerika-Serbia dalam sebuah artikel di koran The Nation tahun 1992.

Istilah pasca-kebenaran (post-truth) mendapat pengejawantahannya di era teknologi digital, sebuah era ketika sebagian masyarakat dunia menghabiskan waktunya dengan hidup di alam virtual. Masyarakat modern kontemporer hari ini memenuhi nyaris seluruh kebutuhan hidupnya, salah satunya kebutuhan pada asupan informasi melalui internet dan media sosial. Maka, hari ini internet dan media sosial juga telah menjadi arena baru untuk membentuk opini publik.

Konsekuesinya, sebagian besar berita yang tersaji di media daring tidak bebas nilai melainkan disusupi oleh kepentingan ekonomi-politik. Misalnya, mengapa media A dan B memiliki sudut pandang dan perspektif yang berbeda dalam memberitakan peristiwa yang sama tentu bisa dijelaskan dengan melihat karakteristik dua media tersebut, termasuk siapa pemiliknya, ke mana afiliasi politiknya dan siapa pangsa pasar yang disasarnya. Tiga hal itu akan menentukan corak pemberitaan yang disajikan oleh media massa daring.

Sindrom pasca-kebenaran yang diidap oleh sebagian besar warganet mau tidak mau membuat media daring menyajikan berita dengan gaya yang sesuai dengan selera personal pembaca setianya. Menjadi wajar jika sejumlah media daring sengaja memuat berita dengan judul bombastis, bernuansa clickbait dan berlebihan (hiperbolik). Padahal isi beritanya biasa-biasa saja.

Ada pula media daring yang biasa menampilkan judul yang tidak sesuai dengan isinya. Mereka sebenarnya paham bahwa praktik itu menyalahi etika jurnalisme. Namun, hal itu tetap dilakukan karena ada ceruk pasar yang menyukai model pemberitaan yang demikian itu. Pada titik ini, media daring tidak lagi menjadi alat pencerahan publik, melainkan lebih sebagai penyedia jasa pemenuhan keyakinan subyektif. Misalnya saja, seseorang yang benci setengah mati dengan pemerintah cenderung suka dengan media daring yang kontennya berisi kebencian terhadap pemerintah. Hubungan simbiotik yang demikian inilah yang merusak prinsip dasar jurnalisme.

Mengembalikan jurnalisme di relnya yang benar tentu bukan perkara mudah. Ada persoalan ekonomi dan politik yang tidak enteng dalam hal ini. Namun demikian, patut diingat pesan wartawan senior Bill Kovach yang mengatakan bahwa media massa yang menyajikan berita asal-asalan dan penuh misinformasi sebenarnya sedang menggali kuburnya sendiri. Awalnya mungkin masyarakat akan meresponnya secara positif, traffick meningkat dan iklan pun deras. Namun, lama-kelamaan pembaca akan mengalami kejenuhan. Masyarakat akan merasa bosan dijejali informasi yang tidak valid dan tidak disajikan secara serius.

Sudah menjadi semacam keniscayaan bahwa konsumen pasti akan mengedukasi dirinya sendiri ketika mengonsumsi sesuatu, termasuk ketika mengonsumsi berita. Pada titik ini, media massa yang berkomitmen menyajikan berita yang bermutu, valid, berimbang dan independen akan mampu menciptakan pangsa pasarnya sendiri. Pangsa pasar mereka adalah kelas menengah terdidik yang mapan secara ekonomi dan berlatar belakang pendidikan tinggi. Mereka adalah ceruk pasar yang potensial menjadi konsumen media massa daring berbayar. Meski jumlahnya belum besar, namun jika digarap serius bukan tidak mungkin mereka akan menjadi pasar dominan bagi industri media massa digital di masa depan.

Facebook Comments