Jurnalisme, Fakta Sejarah, dan Fiksi

Jurnalisme, Fakta Sejarah, dan Fiksi

- in Suara Kita
164
0
Jurnalisme, Fakta Sejarah, dan Fiksi

Bolehlah kita mengingat nama Arswendo Atmowiloto saat membincangkan jurnalisme, fakta sejarah, dan fiksi. Ketiga unsur itu terangkum semua dalam diri penulis kondang kelahiran Solo yang bernama asli Sarwendo itu. Dia masuk dalam barisan pendek wartawan yang merangkap sebagai sastrawan. Tanggal 19 Juli 2019, penulis serba bisa ini menghembuskan nafas terakhir. Ia pergi ke alam keabadian meninggalkan setumpuk karya yang berpengaruh di dunia literasi.

Pada hakekatnya, juru warta bekerja dengan sebilah pena bersandar fakta atau kenyataan sosial, sedangkan sastrawan menulis berdasarkan imajinasinya alias bebas menambahi kenyataan. Dalam menulis novel Canting (1986), misalnya, Arswendo merekam sejumlah fakta yang bertemali dengan kehidupan pembatik di Kota Bengawan. Apa yang dikarang Arswendo ini bisa saja buah dari imajinasi, namun aspek lingkungan sosial budaya yang terhidang dalam novel hampir mendekati kebenaran faktual. Beberapa nama tempat, terminologi khas dunia batik, ekosistem Pasar Klewer, serta jalinan sosial antara batur dengan majikan dapat dimengerti sebagai realitas sejarah lokal.

Ringkasnya, pengarang yang lahir tahun 1948 ini tetap tunduk pada fakta. Kenangan mengenai kahanan Solo tak dapat diceraikan dari batok kepala. Selain Arswendo, saya teringat dengan Triyanto Triwikromo yang sama-sama menjadi jurnalis cum sastrawan. Pernah ia menulis buku puisi berjudul Kematian Kecil Kartosoewirjo memperoleh anugerah sastra. Pembaca dapat memahami riwayat hidup Kartosoewirjo pada puisi Di Mobil Tahanan (hlm 32-34) yang berhamburan fakta. Ragam fakta yang disajikan tersebut, dipakai penyair Triyanto untuk membangun logika cerita laiknya sejarawan dan wartawan.

Kerja lapangan Triyanto diganti dengan menafsirkan (hermeneutik) dokumen sejarah berupa foto-foto menjelang dan sesudah Kartosoewirjo dihujani peluru. Saya menerka, Triyanto memang tidak mencoba mewawancarai anggota keluarga Kartosoewirjo, pengikut Kartosoewirjo yang mendampingi sampai detik-detik terakhir, pihak militer yang menyaksikan penembakan, maupun pelaku eksekusi. Diperkuat tiadanya pernyataan Triyanto perihal penggalian informasi dari narasumber yang disebutkan di muka, sekalipun keturunannya. Justru tersaji selarik pengakuan “…foto-foto dalam [buku] Hari Terakhir Kartosoewirjo turut membantu saya menghadirkan peristiwa eksekusi Kartosoewirjo di tiang penembakan” (hlm 117). Itulah secuil bukti model kerja Triyanto dalam menyusun buku tipis ini.

Menurut pengalaman pribadi, dibanding menganalisa secarik teks tertulis, cara menafsirkan foto cenderung menyeret imajinasi penulis lebih liar dan tidak menutup kemungkinan masuk dalam dunia khayali sebagaimana bagian terakhir beberapa puisi Triyanto. Seandainya Triyanto mengejar jawaban dari narasumber utama, tentunya kurang longgar untuk berkhayal. “Membaca” selembar foto yang terasa “lebih hidup” dengan keterangan yang terbatas itu laksana pujangga bermeditasi, menghadirkan nuansa sepi, hanya antara Triyanto dan foto itu sendiri. Kondisi seperti ini menyediakan kesempatan untuk bermultitafsir dan dibumbui imanjinasi sebagaimana sifat penyair.

Baca Juga : Jurnalisme Lintas-Budaya

Lalu, pada puisi berjudul Makanan Terenak: Kau pernah mengatakan kepadaku makanan terenak sebelum dan sesudah mati adalah bestik kambing dan selada hijau segar. Kau pernah bercerita kepadaku makanan terenak di surga dan bumi adalah gado-gado pedas tanpa cuka. Kau pernah berbisik kepadaku makanan terenak antara beranda dan makam adakah sup ikan nila (hlm. 9).

Sekalipun persoalan selera atau citarasa mudah diperdebatkan, namun beberapa jenis kuliner yang disebutkan Triyanto dikenal sebagai makanan yang uenak dan menempati papan atas dalam struktur sosial masyarakat Indonesia periode kolonial hingga pasca kemerdekaan. Fakta lunak tersebut akan terasa ganjil dan rawan mengganggu imajinasi pembaca bila diganti dengan menyantap misalnya nasi tiwul, sayur terong, jeroan, tempe gembus, dan daun pepaya sebagai lambang makanan wong cilik.

Pemikiran penulis yang juga kuli tinta ini tentu tak lepas dari pengaruh konstruksi sosial masyarakat perihal kuliner, sehingga mustahil menempatkan tiwul dan sebangsanya itu sebagai makanan terlezat. Berarti, terbukti penulis masih patuh terhadap fakta sosial. Juga, Triyanto tak mencoba mencomot sajian makanan berupa pizza dan steak yang ramai gemari di Indonesia belakangan ini atau jauh sesudah peristiwa kematian Kartosoewirjo. Jika pizza dan steak dituliskan, tak ayal terjadi kesalahan anakronisme sejarah dan pembaca yang memahami fakta ini akan merasa ganjil, minimal mengernyitkan dahi.

Demikianlah posisi liminal Arswendo dan Triyanto, yaitu sastrawan yang tak sepenuhnya meninggalkan kerja jurnalis. Padahal, karya mereka memberi hak untuk berbuat “semaunya” alias mengabaikan fakta selagi masih logis bangunan cerita dan pemilihan diksinya. Arswendo dan Triyanto lincah menyatukan kedudukan posisi sastrawan dan jurnalis. Kenyataannya, ia tidak sedang menulis feature (ingat jurnalisme sastrawi), melainkan sastra.

Apa yang mereka torehkan bukan saja sebuah buku yang enak dibaca. Mereka lincah mempraktekkan jurnalisme sastrawi sebagai pengobat rasa capek pembaca akibat beban kerja yang menumpuk serta berat. Yang tak kalah pokok, mereka menonjolkan sisi keragaman budaya dan pemikiran keindonesiaan yang hidup dalam jagad sastra. Barangkali inilah keteladanan yang penting bagi sahabat jurnalis di Indonesia angkat pena lebih tinggi.

Facebook Comments