Jurnalisme Warga, Media Alternatif dan Forum Publik

Jurnalisme Warga, Media Alternatif dan Forum Publik

- in Suara Kita
1059
1
Jurnalisme Warga, Media Alternatif dan Forum Publik

Perkembangan teknologi digital berdampak serius pada dunia media massa dan jurnalisme. Hal itu dapat dilihat dari gejolak media massa menghadapi era disrupsi dari teknologi analog ke digital. Kemunculan era digital adalah lonceng kematian bagi media massa cetak konvensional. Seperti dapat dilihat, perusahaan media cetak bertumbangan satu per satu. Beberapa yang tersisa pun tampak mulai menyiapkan diri untuk kemungkinan paling buruk.

Meski demikian, tidak lantas bahwa media massa online baik-baik saja. Menjamurnya media massa online selama belakangan ini nyatanya juga meyisakan persoalan pelik. Beberapa media massa online memang berhasil menjadi besar, bahkan menjadi media massa mainstream. Namun, tidak sedikit pula yang harus undur diri dari persaingan industri media massa digital. Salah satu tantangan terberat media massa online hari ini ialah jurnalisme warga berbasis media sosial. Hari ini, hanya dengan berbekal akun media sosial, kuota internet dan sedikit kemampuan menulis, seseorang bisa berperan layaknya wartawan atau media massa.

Sebagai misal, banyak akun fanpage di Facebook yang memiliki ribuan pengikut. Hampir semua tulisan yang diunggahnya mendapat respons (dikomentari, disukai, dibagikan) dari ribuan orang. Sebaliknya, artikel atau berita di situs berita online yang dikelola oleh profesional justru kerap sepi pembaca. Gejala ini menandai bahwa publik tampaknya lebih suka dengan sensasi pemberitaan ketimbang subtansi dari berita tersebut.

Media sosial adalah perwujudan jurnalisme warga yang paling vulgar sekaligus banal. Semua orang bisa berlakon layaknya ahli dalam segala bidang. Parahnya lagi, semua orang dimungkinkan untuk saling merespons satu sama lain, berdebat, bertikai dan adu argumen dengan gaya debat kusir yang sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa.   Pada akhirnya, publik (warganet) terseret masuk ke dalam labirin informasi yang tidak jelas dimana ujungnya. Publik tersesat dalam rimba-raya informasi yang berkelindan dengan gosip, desas-desus, asumsi dan kebohongan.

Di tengah penetrasi jurnalisme warga berbasis media sosial yang acapkali menyalahi prinsip dasar jurnalisme tersebut, kita perlu menggagas munculnya media alternatif yang mampu menjadi kanal penyalur aspirasi publik. Media alternatif secara sederhana dapat dipahami sebagai respons atas jejaring media massa arusutama yang bercorak oligarkis serta kecenderungan jurnalisme warga berbasis media sosial yang acapkali abai pada akurasi dan verifikasi. Media alternatif mencoba membuka ruang dialog puboik dan memberi ruang alternative di antara sesaknya media arusutama dan media sosial. Bentuk media alternatif ini bisa bermacam-macam, mulai dari website, blog atau apa pun yang memungkinkan publik berinteraksi, berdialog dan berdiskusi secara terbuka dan setara.

Media Sebagai Penyampai Aspirasi Publik

Gagasan terkait media alternatif ini menjadi penting manakala media mainstream kurang memberikan ruang bagi publik untuk berpartisipasi di dalamnya. Sementara media sosial yang bebas dan nyaris tidak terkontrol justru melahirkan paradoks komunikasi. Kebebasan dan kesetaraan di media sosial berbalik arah menjadi ancaman bagi publik itu sendiri. Hal ini terjadi lantaran media sosial telah  menjadi lahan subur bagi berkembangbiaknya ujaran kebencian dan berita bohong. Terungkapnya skandal Cambridge Analitica –yakni penyalahgunaan data pengguna Facebook demi kepentingan Pilpres Amerika tahun 2016– adalah contoh nyata bagaimana pertautan transaksional antara perusahaan media sosial dengan kepentingan politik praktis yang kotor. Di hadapan perusahaan sebesar Facebook, pengguna hanyalah statistik angka-angka yang bisa dijual ke pengiklan atau siapa pun yang berkepentingan.

Baca Juga : Tantangan Media Mainstream di Era Digital

Dalam konteks yang demikian ini, media alternatif bisa menjadi semacam elemen penguat masyarakat sipil (civil society). Terutama dalam mengampanyekan dan memperkuat demokratisasi, moderasi keberagamaan dan transformasi sosial. Dengan semakin terjangkaunya internet bagi semua kalangan, memungkinkan semua kelompok masyarakat dengan latar belakang dan misi sosial memiliki media alternatif berbasis komunitas yang bisa digunakan untuk menampung aspirasi masyarakat. Di Indonesia, pertumbuhan media alternatif ini cukup menjanjikan dalam sepuluh tahun terakhir dan tampaknya akan terus bergairah di masa depan.

Sebagai contoh, di kalangan para pegiat wacana keislaman moderat misalnya, situs-situs keislaman yang menyajikan artikel, berita atau opini seputar Islam moderat dan toleran terus bertumbuh, baik dari segi jumlah maupun dari segi pembacanya. Situs-situs seperti islami.co, alif.id, harakatuna.com, bincangsyariah.com, nu.online, IBTimes.id serta sejumlah situs keislaman moderat lainnya hari ini dalam banyak hal telah menjadi bagian penting dari kehidupan kelompok muslim terutama kelas menengah urban. Selain menjadi sarana penyampai informasi, situs-situs itu juga telah mewadahi gagasan para intelektual muda yang tulisan-tulisannya acapkali tidak tertampung di media massa mainstream.

Tidak hanya dalam konteks wacana keislamaan moderat, situs-situs berita atau portal opini juga bermunculan dalam konteks isu yang lain seperti gerakan lingkungan hidup, perjuangan kesetaraan gender, dan lain sebagainya. Situs-situs tersebut barangkali memang tidak “sebesar” situs media online yang dimiliki oleh perusahaan media profesional berskala besar yang berorientasi pada profit finansial. Namun demikian, situs-situs berbasis komunitas dan gerakan sosial itu mampu bertahan dan menjadi kanal yang menyuarakan aspirasi publik yang tidak tertampung oleh media mainstream.

Lokus jurnalisme warga sebagai media alternatif ialah bagaimana ia mampu menjadi forum publik yang bebas dari intervensi politik, kepentingan ekonomi pemilik modal sehingga memungkinkan terjadinya perbincangan publik yang rasional, kritis juga independen. Forum publik inilah yang merupakan esensi dari lembaga komunikasi subtansial masyarakat yang memungkinkan disebarluaskannya fakta dan pendapat. Ketika media mainstrem kebanyakan terjebak dalam sindrom “bad news is good news” maka kehadiran jurnalisme warga melalui media alternatif diharapkan bisa menjadi semacam penyelamat kewarasan publik dalam mengonsumsi informasi dan wacana.

Maka, pekerjaan berat yang harus dihadapi jurnalisme warga dan media alternatif itu ialah menumbuhkan sense of humanizing. Yakni sebuah sikap dan komitmen bahwa kerja-kerja jurnalisme ialah kerja pelayanan publik yang menempatkan kepentingan publik sebagai prioritasnya. Untuk itu, jurnalisme warga harus mampu menyediakan sajian berita dan opini yang merangsang publik untuk tidak hanya berpikir kritis, namun juga berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial yang tengah mereka hadapi. Ini artinya, media alternatif yang digawangi oleh jurnalisme warga lebih berfungsi sebagai katalisator yang mendorong masyarakat lebih pro-aktif.

Di dalam sistem demokrasi seperti kita praktikkan di Indonesia saat ini, mendapatkan informasi yang valid dan bebas kepentingan adalah hak publik yang harus dipenuhi. Namun, ketika media massa yang bernaung di bawah korporasi besar gagal memenuhi hak publik tersebut, tentu harus ada inisiatif-inisiatif yang mampu memberi solusi. Kemunculan jurnalisme warga dengan konsep media alternatif-nya dirasa relevan dengan kebutuhan publik untuk mendapat asupan informasi yang valid dan nir-kepentingan. Meski demikian, kemunculan jurnalisme warga dan media alternatif tidak lantas ingin menggusur keberadaan media massa mainstrem. Keduanya bisa tetap seiring sejalan, bahkan bersinergi untuk saling melengkapi demi menyajikan konten-konten jurnalisme yang berkualitas.

Facebook Comments