Kelam Zaman Masyarakat Tontonan

Kelam Zaman Masyarakat Tontonan

- in Suara Kita
478
1
Kelam Zaman Masyarakat Tontonan

Beberapa hari ini publik Indonesia banyak disuguhi beberapa eksistensi “kerajaan-kerajaan baru” lengkap dengan segala mitos, karakter ambisius dan ekspansif beserta prosesi-prosesinya. Dengan melihat semua itu, akal sehat seolah-olah sampai pada krisisnya. Tapi krisis ini, saya kira, memang menjadi salah satu karakteristik dari apa yang oleh Guy Debord sebut sebagai “society of the spectacle” (masyarakat tontonan).

Saya melihat terdapat hubungan kasualistik antara masyarakat tontonan Debord dengan desa globalnya McLuhan. Keberadaan keduanya secara sekilas sangat tergantung pada peran teknologi-teknologi komunikasi yang telah melumat berbagai batas. Tengok saja berbagai media sosial yang seakan memberi ruang bagi siapa pun, tanpa kecuali, untuk menjadi para bintang atau tontonan.

Debord menyebutkan bahwa tontonan di sini bukanlah sekedar rentetan citra seperti halnya di hari ini di mana setiap detik orang dihisap kesadarannya oleh rentetan citra: media-media sosial, media daring, televisi, atau perangkat digital lainnya yang bersifat seduktif, promotif, dan provokatif. Tapi tontonan itu adalah sebentuk relasi antar manusia yang dibentuk oleh citra (Society of The Spectacle, 1967, https://www.marxist.org).

Debord, dalam hal ini, saya kira luput pula mengartikan citra sekedar gambar visual yang dicerap oleh mata. Adakalanya citra itu tak pernah tampil dengan garis-bidang-ruang sebagaimana bahasa gambar. Tapi juga dapat tampil dengan suara atau bersifat auditif. Selain radio, citra itu dapat pula dipicu oleh apa yang pernah saya sebut sebagai “lontaran-lontaran verbal” (Hikayat Kebohongan, Heru Harjo Hutomo, http://jalandamai.org). Karena saking seringnya dijejali dengan lontaran-lontaran verbal yang bersifat repetitif, orang dengan mudahnya dapat terkena histeria dan neurosis—seperti halnya gendam (Ingusan, Merendahkan dengan Cercaan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Baca Juga : Menjadi Warganet yang Rasional

Dalam konteks masyarakat tontonan ini lontaran-lontaran verbal tersebut adalah semacam naskah untuk dijalankan siapa pun yang ingin menjadi tontonan. Maka, karena terpola, dengan naskah yang seperti itu-itu saja (repetitif), siapa pun seakan tahu bagaimana jalannya cerita dan akhirnya. Semisal drama rumah-tangga si Jackie dan Bella yang seolah berlangsung sendirian dan dengan sendirinya (tanpa setingan), pada kenyataannya banyak dialami pula oleh orang lainnya. Jadi, mereka bukanlah satu-satunya—sebuah ciri-khas zaman postmodern.

Sinuhun Totok dan kerajaannya di Purworejo, ternyata memiliki kembarannya di Bandung (Sunda-Empire), Tasikmalaya (Kesultanan Selacau), Kerajaan Jipang, dan entah di daerah mana lagi. Satu hal yang pasti, karena masyarakat tontonan bersendikan relasi yang dimediasi oleh citra, maka pada hakikatnya tontonan itu adalah masyarakat itu sendiri, di mana mereka adalah penulis naskah, sutradara, aktor dan sekaligus penontonnya. Pada akhirnya, karena masyarakat sendiri yang menciptakan, maka masyarakat pula yang menghancurkannya. Dan, meskipun tontonan, semua itu berlangsung dengan sebenar-benarnya: luka hati, air mata, dan bahkan penjara.

Tak usah bersusah-payah menuntut keadilan pada siapa pun ketika masyarakat tontonan itu dikehendaki, diciptakan dan dihancurkan oleh masyarakat sendiri. Atas nama “kehendak masyarakat” yang banyak dikoarkan banyak orang, apapun boleh terjadi, meski hal itu harus bertentangan dengan akal sehat, hukum agama maupun hukum positif. Dan ketika tontonan itu bagi masyarakat yang konon adalah suara Tuhan (vox populi vox dei) dirasa sudah berakhir, maka mereka merasa berhak pula untuk mengubur hidup-hidup para korban yang sudah koyak dan tak lagi laku.

Facebook Comments