Khilafah, Ideologi, dan Masa Lalu yang Membelenggu

Khilafah, Ideologi, dan Masa Lalu yang Membelenggu

- in Suara Kita
283
2
Khilafah, Ideologi, dan Masa Lalu yang Membelenggu

Masa lalu itu sejatinya netral. Ia bisa bunyi ketika dibunyikan, dan berwarna ketika diberi warna. Masa lalu ketika dibunyikan oleh kelompok ideologi tertentu, maka masa lalu itu memiliki warna sesuai dengan ideologi kelompok itu. Kerangka inilah yang bisa kita jadikan dalam melihat apa itu zaman keemasan seperti yang sering dirujuk oleh para pengagumnya.

Zaman keemasan itu relatif. Ia adalah proyeksi ke belakang untuk tujuan tertentu. Sebagian pakar mengatakan, istilah zaman keemasan (golden age) baru muncul belakangan, ketika dunia Islam bersentuhan dengan kolonialisme.

Ketika dunia Islam menyadari keterbelakangannya terhadap dunia Barat, mereka kemudian mencari suatu masa yang bisa dijadikan sebagai preferensi. Kembali ke masa lalu pernah menjadi satu tren gerakan dalam dunia Islam.

Masalahnya kemudian, ketika zaman keemasan dari masa lalu itu ingin dihidupkan kembali secara mentah-mentah, tanpa melihat konteks sosial, budaya, politik dan perkembangan ilmu pengetahuan. Akibatnya, masa kini selalu dinilai dengan standar masa lalu. Bukan kemajuan yang didapat, justru terjebak kepada romentisme sejarah, monoton, dan jalan ditempat.

Persis inilah yang dilakukan oleh para pengusung Hizbut Tahrir. Gerakan politik yang ingin menghidupkan sistem politik masa lalu yang diklaim sebagai sistem politik Islam, datang dari Tuhan, dan solusi satu-satunya.

Klaim keemasan Islam itu ternyata hanya dijadikan slogan semata, tanpa diiringi dengan usaha dan kerjasama yang sama. Yang terjadi justru malah sibuk mengasingkan diri sendiri dari putaran kemajuan dunia.

Baca Juga : Menegakkan Kebenaran Sejarah di Tengah Boomingnya Kerajaan ‘Halu’

Para pengusung khilafah terjebak pada romantisme sejarah. Menjadikan doktrin khilafah sebagai solusi satu-satunya dalam merespons modernitas. Para pengusungnya tak lebih hanya kelompok para pengkhayal ulung, yang sikap dan tindakannya melangit.

Sejarah yang Membelenggu

Kenapa khilafah disebut sebagai sejarah yang membelenggu? Jawabannya adalah, sebab sejarah yang diterima oleh para pengusungnya adalah sejarah yang sudah terkotak-kotak. Batasan kotak itu adalah ideologi. Akibatnya ia jadi sempit dan tak bisa akomodatif.

Masa lalu bisa dijadikan sebagai lagetimasi apabila sesuai dengan ideologi mereka, sementara narasi sejarah yang lain –yang mungkin bertolak belakang dengannya –ditolak mentah-mentah. Akibatnya, masa lalu yang dijadikan referensi adalah masa lalu yang sudah dibersihkan dan dipilih.

Sejarah model seperti ini sifatnya hitam-putih. Kami benar, lain salah. Kami suci, lain kotor. Kami islami, lain kafir. Pada akhirnya, model sejarah yang diadopsi, melahirkan epistem pengetahuan yang hitam-putih pula.

Ini bisa dilihat dari doktrin khilafah yang mengklaim bahwa sistem did luar khilafah adalah salah, dan harus diubah. khilafah adalah sistem sempurna yang sudah terbukti pada masa lalu, dan sudah tercatat pernah memberikan kemakmuran, kedamaian, dan kesejahteraan kepada manusia.

Padahal, itu semua adalah sejarah yang diimajinasikan oleh para pengusungnya. Did luar narasi itu, ada narasi sejarah yang beda, bahkan kontras dengan itu.

Keluar Kotak

Untuk itu, bagaimana agar sejarah tidak membelenggu kita? Jawabannya adalah kita perlu keluar dari kotak ideologi sejarah usung kita. Kita perlu mengadopsi sejarah apa adanya. Sejarah yang penuh dengan dinamika, kompleksitas, dan bukan hitam putih.

Sejarah bukanlah lembaran kertas putih nan indah yang tidak ada cacat. Sejarah penuh dengan pertikaian, perang, saling menjatuhkan. Sejarah tidak seindah yang imajinasikan oleh para pengusung HT, dan tidak secantik yang dinarasikan juru kampanyenya.

Sejarah khilafah bukanlah sejarah malaikat tanpa dosa. Ia adalah sejarah manusia, ada khilaf, dosa, cacat, dan kekurangan.

Dengan begitu, kita bisa belajar dengan mengadakan refleksi. Refleksi yang saya maksud adalah dua gerak ke dalam dan keluar sekaligus. Gerak ke dalam adalah gerak untuk mengambil hikmah sekaligus mengkritisi masa lalu. Sementara gerak ke luar adalah gerak untuk melihat konteks kekinian dan kedisinian untuk selanjutnya bisa diaplikasikan.

Sejarah Islam akhirnya bukan bangunan mati. Ia bisa diambil spirit, hikmah, pengalaman, dan apinya untuk digunakan ke masa sekarang. Sejarah pada titik ini adalah sejarah yang mencerahkan, berkemajuan, dan tidak membelenggu.

Facebook Comments