Maju ke Masa Lalu?

Maju ke Masa Lalu?

- in Suara Kita
145
1
Maju ke Masa Lalu?

Dari kejauhan, Candi Borobudur sudah nampak megah dengan ukurannya yang gagah, ditambah gugusan pegunungan Menoreh membuatnya makin indah. Candi yang dibangun sekitar tahun 700-an pada zaman Dinasti Shailendra ini dirancang oleh Gunadharma. Candi ini punya makna Bara yang artinya kompleks biara dan Budur yang berarti atas, sehingga Borobudur bermakna kompleks doa atau biara tertinggi.

Saat memasuki kompleks Candi Borobudur, pengunjung dibuat lebih terpesona lagi dengan relief yang berjumlah 1.460 panil atau gambar. Masing-masing gambar punya ceritanya sendiri yang kebanyakan tentang kemanusiaan dan alam. Jika diperhatikan lebih dekat, struktur bangunan Candi Borobudur dirancang sangat detil dengan masing-masing batu yang saling mengunci.

Kemegahan itu membuat kita kagum pada kekuatan nenek moyang, dengan kemampuan dan infrasturktur terbatas mereka bisa membangun sesuatu yang bahkan dibangun pada era sekarang pun tidak mudah.

Romansa kejayaan masa lalu ini dipaksakan hadir oleh fenomena raja-raja baru Keraton Agung Sejagat, Kesultanan Selaco, dan Sunda Empire. Banyak orang rindu akan kejayaan Nusantara yang digdaya dan punya kuasa. Sayangnya kerinduan memiliki tatanan baru itu hanya ilusi yang disampaikan penuh keyakinan oleh pendiri-pendiri “kerajaan” baru itu.

Bagi sebagian besar masyarakat, fenomena kerajaan-kerajaan itu hanya dijadikan hiburan semata, sebab narasinya terlalu halu atau khayal. Rangga Sasana, mengaku petinggi Sunda Empire mengatakan kerajaannya itu merupakan bagian dari kekaisaran matahari yang telah berdiri sejak zaman 324 SM. Sunda Empire disebutnya sebagai pemersatu seluruh kerajaan dan negara yang pada Perang Dunia II dinolkan atau ditiadakan statusnya.

Pada tayangan Indonesia Lawyers Club edisi Raja-Raja Baru bahkan Rangga mengaku Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pentagon lahir di Bandung, lebih dari itu, menurutnya seluruh kekaisaran dan kerajaan di seluruh dunia berada di bawah kekuasaan Sunda Empire.

Baca Juga : Menjadi Warganet yang Rasional

Romantisme masa lalu dipadu dengan janji-janji kejayaan di masa depan menjadi tawaran mereka bagi pengikutya, meskipun akhirnya terbukti sekadar modus penipuan seperti “Raja” Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso.

Pada kasus-kasus kerajaan fiktif ini, nalar kita terusik dan berani berontak dengan menertawakannya sebagai hiburan. Tetapi tentu tidak demikian jika logika yang sama digunakan sebagai modus “kebangkitan” agama tertentu, misalnya menjanjikan kejayaan masa depan dengan cara-cara yang menurut sebagian orang dianggap benar.

Sri Yunanto, penasihat kebijakan Badan Nasional Penaggulangan Terorisme menuliskan dalam bukunya berjudul Islam Moderat VS Islam Radikal – Dinamika Politik Islam Kontemporer (2018) atas terjadinya pola yang sama antara “tawaran” kelompok radikal dengan “tawaran” Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, yaitu tawaran bangkitnya kejayaan masa lalu.

Jika Sunda Empire menawarkan persatuan seluruh bangsa dan kerajaan di dunia dengan iming-iming dunia tanpa senjata dan peperangan, kelompok radikal menawarkan sistem khilafah dengan iming-iming tatanan hidup yang lebih menjamin kesejahteraan semua.

Jika yang dimaksud kebangkitan adalah kesejahteraan bersama, menurut Sri Yunanto hal itu masih jauh untuk dapat terwujud, sebab menurutnya mayoritas dari 1,3 milyar umat Islam di seluruh dunia masih dibelenggu oleh pintu besi dengan rantai dan palang besar bernama kebodohan, kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan, dan korupsi.

Impian kebangkitan masih jauh karena belum ada tindak lanjut, konsepsi, dan aksi kolektif (jama’i) yang sistematis untuk meneliti kemunduran dan membuat formulasi kebangkitan yang ingin dicapai. Semangat kebersamaan umat Islam menurut Sri Yunanto cukup kuat dalam ibadah haji, pengajian, dan mobilisasi politik, namun belum berwujud “kejama’ahan” dalam visi, misi, strategi, dan aksi.

Menurut Koordinator Forum Pengembangan Islam (FORPIS) itu, setidaknya ada empat hal yang menyebabkan umat Islam tak kunjung bangkit. Pertama, masing-masing kelompok atau aliran  umat Islam masih merasa paling benar dan saling salah menyalahkan dan merasa pendapat kelompoknya paling benar. Dalam hal ini kita melihat kebrutalan seorang mualaf, Felix Siauw, yang menyindir istri Gusdur, Sinta Nuriyah, dengan ngetweet “Nggak mau berhijab ya silakan aja, tapi ngomong ‘hijab itu nggak wajib bagi Muslimah’, itu pernyataan yang maksa banget, udah maksiat, maksa lagi”.

Felix yang biasa membuat polemik dengan argumen-argumennya kali ini dianggap keterlaluan karena menyerang istri seorang tokoh besar yang merupakan lulusan Hukum Syariah dan Kajian Perempuan serta Doktor Kehormatan UIN Sunan Kalijaga. Upaya Felix inilah salah satu contoh kelompok yang merasa dirinya paling benar.

Kedua, umat Islam cenderung melihat kelemahan dan perbedaan kelompok Islam lainnya. Dengan sikap ini, agak sulit untuk menemukan benang merah yang dapat menyatukan semua kelompok untuk bisa terjadinya kolaborasi. Ketiga, menurut Sri Yunanto, secara metodologi, semangat belajar kaum muslim masih fokus pada pendekatan tekstual, romantisme sejarah, dan mengesampingkan aspek-aspek analitis yang berpijak pada realitas umat Islam masa kini. Misalnya pada ceramah seorang ustadz yang menerangkan keutamaan ibadah haji yang kedua dan ketiga kalinya, di tengah-tengah umat yang mengalami kesulitan ekonomi untuk menyekolahkan anak mereka. Tulis Yunanto, umat Islam memiliki masa lalu tetapi kehilangan masa kini dan masa depan.

Keempat, lemahnya kepemimpinan kaum muslim yang dapat memanfaatkan potensi sumber daya (alam, manusia, dan ideologi) untuk mencapai tujuan umat. Pemimpin umat Islam saat ini menurut Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pabelan itu baru sekadar pemimpin simbolis, primordialistik yang justru semakin memperkuat kelompok, golongan, dan alirannya saja.

Sehingga dengan memperhatikan keempat “kelemahan” umat Islam menurut Yunanto di atas, kebangkitan umat Islam mesti dimulai dengan membantah kelemahan itu dengan tindakan sebaliknya. Pertama, persatuan umat Islam menuju satu titik kesejahteraan bersama, salah satunya dengan tidak saling membenci kelompok dan aliran lain. Namun toleransi ini tentu terbatas pada kelompok yang mencintai NKRI dan Pancasila, sehingga tidak ada toleransi dan diskusi dengan kelompok-kelompok yang jelas-jelas punya agenda memecah persatuan bangsa dan terus menerus menarasikan kebencian terhadap sesama. Kedua, tidak lagi melihat kelemahan dan kekurangan kelompok atau aliran lain sebagai amunisi untuk melakukan penindasan, melainkan saling mengisi kekurangan satu sama lain.

Ketiga, sungguh selektif dalam menimba ilmu agama. Artinya, hati-hati pada ceramah-ceramah “ustadz Youtube” yang sering menebar teror kebencian. Juga perlu memperkuat gagasan-gagasan inovasi yang menjawab kedukaan sesama dan semesta. Keempat, menjadi dan memilih pemimpin yang menyatukan dan mengarahkan pada tujuan kesejahteraan bersama.

Merawat pikir dengan kajian-kajian yang benar dan bertanggungjawab; Melatih toleransi dengan membuka kolaborasi dengan lintas, kelompok, agama, suku, dan ras; Menjaga NKRI dan Pancasila sebagai akar hidup orang Indonesia, dan mempu berpikir terbuka melahirkan inovasi menjawab permasalahan sekitar adalah hal-hal yang mesti dibangun orang muda untuk membangkitkan apa saja, baik itu ideologi agama maupun kepentingan bangsa.

Facebook Comments