Media Baru, Hiperrealitas, dan Literasi Digital

Media Baru, Hiperrealitas, dan Literasi Digital

- in Suara Kita
438
2
Media Baru, Hiperrealitas, dan Literasi Digital

Perkembangan media sosial membuat pola produksi infomasi berbeda. Dulu yang bisa memproduksi informasi hanyalah pemilik media dan masyarakat bersifat pasif. Sekarang, setiap pengguna internet bisa memproduksi informasi dan bisa bersifat aktif.

Perubahan inilah yang melahirkan media baru, yakni media informasi yang masyarakat di dalamnya bisa ikut aktif berkontribusi. Lahirnya media baru ini mempunyai plus-minus. Sisi positif-konstruktifnya adalah, berita tidak hanya disetir oleh satu kelompok/ideologi tertentu tanpa ada penyeimbang.

Adanya media baru, masyarakat bisa berkontribusi aktif. Memberi pembanding, bahkan mengkritisi media mainstream. Media sosial bisa berfungsi sebagai kontrol terhadap berita ala pemerintah, juga bisa menjadi wahana untuk memprotes kebijakan publik.

Akan tetapi, di sisi yang lain, media baru ini juga memiliki nilai negatif-destruktif, yaitu ada banyak realitas dan setiap pengguna internet bisa membuat realitas baru sesuai dengan kepentingan, preferensi politik, dan ideologi kelompoknya.

Sebab semua orang adalah pewarta, maka pada hakikatnya setiap pengguna internet bisa mem-framing isi berita; mengolah data lapangan, dan mendramatisir peristiwa. Fakta objektif tidak lagi jadi ukuran. Standar satu-satunya adalah kepentingan individu/kelompok.

Akibatnya, penyebaran hoax, fake news, ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi membanjiri halaman sosial media. Media sosial tidak ubah seperti lapak, semua orang dengan bebas bisa menjual dan memasarkan berita, peristiwa yang didapat.

Realitas Semu

Persis inilah yang disebut dengan hyperreality. Ketika semua orang dengan bebas bisa memasarkan diri dan kelompoknya, maka fakta objektif menjadi kabur. Orang tidak bisa membedakan mana kenyataan, mana fantasi.  Efeknya, kebenaran, keaslian, fakta, dan kebohongan sangat sulit dibedakan.

Baca Juga : Najwa Shihab dan Andil Perempuan di Dunia Pers

Jean Baudrillid menyatakan ada dua hal penting ketika kita menjelaskan hiperrealitas, yakni simulasi dan simulacra.

Simulasi terjadi ketika gambaran atau representasi lebih penting dari  objek itu sendiri.  Pengguna internet tidak lagi menanyakan ini sesuai tidak dengan data, fakta, dan kejadian sebenarnya, melainkan pertanyaannya adalah ini sesuai tidak dengan kepentingan kelompokku, ideologi partaiku, atau ini merugikan tidak dengan organisasiku.

Pada akhirnya, yang diproduksi adalah tafsiran berita yang sesuai dengan kepentingan kelompok kepada khalayak ramai, bukan fakta objektif dan data di lapangan.

Simulacra terjadi ketika sebuah duplikasi yang sebenarnya tidak pernah ada, tetapi diadakan sehingga perbedaan antara duplikasi dan fakta menjadi kabur. Artinya yang diproduksi dan dikonsumsi oleh individu-individu pengguna internet adalah kopian, bukan aslinya.

Duplikasi ini kemudian diperdebatkan, dijadikan bahan diskusi, dan menjadi trending topic. Kita sering terjebak pada kasus ini. Berhari-hari kita debat, saling komentar tentang satu kasus, ternyata data berikutnya menyatakan itu adalah hoax.

Like, sharing, dan komentar seolah-olah menjadi ukuran akan suatu kebenaran. Jika banyak yang like, berarti itu valid, jika berjibun yang komen, itu tandanya sahih, dan jika ribuan orang ikut sharing, berarti itu absah.

Ukuran kebenaran pada akhirnya adalah kuantitas. Semakin banyak yang menanggapi, semakin kuat kebenarannya. Ini tentu sangat berbahaya.

Urgensitas Literasi Digital

Media sosial dalam praktiknya adalah tempat yang sangat subur bagi terjadi dua model heperrealitas ini. Baik simulasi maupun simulacra sama-sama berbahaya bagi tatanan kehidupan.

Keadaan ini diperparah oleh era yang disebut era post-truth, era di mana orang tidak lagi mencari kebenaran, tetapi pembenaran. Pembenaran menjadi lebih penting ketimbang kebenaran itu sendiri.

Untuk itu literasi digital sangat perlu. Maksud literasi digital adalah kemampuan seseorang dalam membangun daya kritis ketika menerima informasi. Kata kuncinya adalah kritis. Pengguna internet harus bisa memilih dan memilah; membedah dan memverifikasi; menyaring sebelum sharing berita/informasi yang didapat.

Pendidikan literasi digital belum ada pelajarannya di sekolah, untuk itu institusi keluarga sangat penting dalam konteks ini. Orang tua sedini mungkin harus terlibat aktif dalam mengenalkan kepada anak, bahwa informasi yang diterima tidak boleh diterima secara mentah-mentah.

Selain kritis, kunci lainnya adalah skeptisme, yakni sikap ragu-ragu terhadap informasi yang ada sebelum ada data atau fakta baru yang bisa membenarkannya. Sikap ini sangat efektif dalam menghindarkan seseorang terhindar dari hoax.

Kritis dan skeptis mewujud dalam  tiga lapis ujian  Socrates, yakni (1) apa itu sudah benar? (2) apa itu sudah baik? (3) apakah itu bermanfaat? –ketika kita mendapatkan informasi. Kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatan adalah kunci dalam literasi digital.  Ketiga hal ini harus diaplikasikan ketika kita bersosial media.

Facebook Comments