Media Mainstream dan Jati diri yang Teralienasi

Media Mainstream dan Jati diri yang Teralienasi

- in Suara Kita
647
0
Media Mainstream dan Jati diri yang Teralienasi

Realitas masyarakat akan selalu terus berjalan sesuai dengan konteks dan zaman. Dan hari ini kita memasuki era global village yang terus membangun konstruksi sosial yang individualistic. Tantangan zaman yang akan membawa masyarakat ke dalam satu kelas personal yang tidak terbatas namun akan melemahkan kultural yang harmonis.

Orang tidak lagi senang membaca koran di pagi hari sambil bersenda gurau dengan keluarga atau tetangga. Karena media digital memudahkan kita untuk mengakses informasi-informasi itu. Sehingga relasi sosial kita diambil alih. Kita dibentuk untuk menjadi manusia yang serba individualis dan tidak berkawan di dunia nyata. Sehingga sangat wajar jika kita justru mudah marah, terprovokasi dan bahkan tertipu dengan berita-berita bohong. Karena persinggungan sosial kita sangat lemah.

Karena sejatinya kesadaran literasi juga bisa terbentuk oleh kebersamaan. Sedangkan yang eksis dalam membangun kebersamaan tersebut adalah media mainstream. Orang zaman dahulu berbondong-bondong ingin melihat hasil pertandingan sepak bola yang mereka sukai melalui media cetak (koran) sambil membangun komunikasi yang baik serta kebersamaan yang tidak terlupakan. Namun kebiasaan-kebiasaan tersebut sekarang hilang ketika kemudahan media digital merampas kebersamaan tersebut.

Masyarakat saat ini justru lebih suka mengakses informasi di media sosial dari pada media mainstream. Alasannya cukup jelas yaitu lebih cepat dan kalah jauh dari media mainstream yang akan terbit sehari sesudah informasi tersebut tidak hangat lagi. Masyarakat justru bahkan lebih suka menjalin komunikasi dengan kerabat dan tetangga dengan jarak jauh dari pada bertemu. Padahal pertemuan adalah sakralitas sosial yang akan berpengaruh positif kepada diri kita sebagai makhluk sosial.

Baca Juga : Media Mainstream sebagai Rumah Penjernih Berita Hoax

Akan tetapi realitas dalam masyarakat tidak bisa kita pungkiri. Bahwa hilangnya jati diri dan terbentuknya kebodohan masyarakat serta teralienasi secara sosial seperti terjadinya pertikaian dan ujaran kebencian di media sosial sejatinya ini adalah fakta sosial yang diakibatkan oleh ketidakterbatasan saat ini membawa hukum sosial yang individualis dan malas.

Orang yang individualis secara otomatis akan mudah berpecah dan mengalami disorientasi sosial yang berujung kepada pertumpahan darah. Karena tidak ada alat penghubung untuk membangun eksistensi kultural yang harmonis. Sehingga kesenjangan sosial di era media digital sangat berkembang pesat.

Begitu juga dari kemalasan. Karena kita tahu bahwa di era media digital saat ini, orang lebih suka membaca slogan, kata-kata puitis atau bahkan ungkapan pendek yang itu akan mematikan nalar berpikir kita. Dibandingkan membaca secara komprehensif. Karena bacaan yang sehat juga akan berpengaruh kepada pola pikir yang sehat pula. Begitu juga sebaliknya. Bacaan yang buruk akan memberikan makanan terhadap pikiran kita kepada keburukan. Tentunya kita harus tahu bahwa yang rawan akan keburukan saat ini adalah media sosial.

Kita tidak bisa lebih jernih di dalam melihat kebenaran. Karena yang salah akan transparan. Sedangkan yang benar akan tampak buram. Sehingga kita sangat sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk kita konsumsi. Jika kesadaran itu kita kembangkan saat ini. Niscaya kita akan bijaksana di dalam melihat mana yang cocok untuk kita jadikan sarapan informasi dan bahkan rujukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik.

Cerdas ber-media itu penting. Penting untuk membangun semangat literasi yang baik. Karena literasi yang baik lahir dari rahim informasi yang akurat, jelas dan tidak terburu-buru. Artinya informasi tersebut benar-benar di dalami dan dianalisis. Dan semuanya ada di media mainstream. Kita perlu ingat bahwa membangun kesadaran literasi dapat terbentuk di era digital saat ini oleh kesadaran kebersamaan.

Karena kebersamaan adalah langkah dari bagaimana menciptakan kecerdasan dalam bermasyarakat. Adapun gerakan literasi masyarakat untuk bisa kembali ke dalam media mainstream adalah kebersamaan tersebut. Karena media digital justru membangun individualistic dan kemudahan-kemudahan yang melemahkan kita dalam membangun kesadaran literasi.

Facebook Comments