Media Mainstream sebagai Rumah Penjernih Berita Hoax

Media Mainstream sebagai Rumah Penjernih Berita Hoax

- in Suara Kita
1346
2
Media Mainstream sebagai Rumah Penjernih Berita Hoax

Penyebaran informasi di zaman yang berbasis teknologi seperti hari ini telah banyak mengubah tatanan dan pola hidup banyak orang. Media online atau media arus utama yang tentu saja sudah dikenal oleh masyarakat seolah yang mulanya menjadi “satu-satunya” penyedia informasi, kini setiap orang (pengguna media sosial/internet) dapat melakukan hal yang sama (sama-sama memproduksi dan menyebarkan berita/informasi).

Namun sayang, informasi atau berita yang disebarkan lebih banyak berisi tentang hal-hal yang tidak benar dan tidak pula akurat serta tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Ironi memang! Tapi itulah fakta yang berbicara. Pada 2017 silam, Mastel melakukan survei terhadap 1.146 responden tentang distribusi berita bohong (hoax). Hasilnya, ada 44,3% yang menerima berita hoax setiap hari dan 17,2% menerima lebih dari satu kali dalam sehari.

Celakanya, media mainstream yang diandalkan sebagai “Rumah Penjernih” berita hoax dan media yang dipercaya rakyat, justru ikut terkontaminasi penyebaran hoax. Masih berdasarkan survey yang digelar Mastel, bahwa Media arus utama juga menjadi saluran penyebaran informasi/berita hoax, masing-masing sebesar 1,20% (radio), 5% (media cetak) dan 8,70% (televisi).

Pada posisi seperti itu, akan banyak pihak yang dirugikan. Bahkan juga banyak pihak yang bingung: harus ke mana masyarakat mencari dan memperoleh berita yang benar dan akurat.

Celakanya lagi, kebingungan masyarakat tersebut dimanfaatkan betul oleh seseorang atau pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menanamkan kebencian, fitnah, dan lainnya sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan yang dapat mengoyak simpul-simpul persatuan (Taringan, 2017).

Mengoptimalkan Peran Media Arus Utama

Diantara ciri manusia yang hidup di era saat ini adalah gandrung terhadap informasi. Kemajuan internet dan teknologi adalah diantara penyebabnya. Di sinilah peran media mainstream dipertaruhkan. kegandrungan akan informasi ini lebih banyak dilakukan melalui media sosial. Dengan kata lain, masyarakat sering memanfaatkan media sosial sebagai asupan berita harian, bahkan menit.

Baca Juga : Media Baru, Hiperrealitas, dan Literasi Digital

Pola konsumsi masyarakat terhadap berita tersebut tentu saja juga merubah haluan pihak pihak yang memiliki kepentingan tertentu untuk masuk ke ranah media sosial. Dari sinilah praktik culas seperti membuat dan menyebarkan berita bohong dimulai. Partai politik dan pihak lainnya secara otomatis akan memperluas pengaruhnya denga  cara memanfaatkan panggung digital yang murah dan efektif ini.

Jika masyarakat terus-terusan disuguhi informasi salah, tentu saja akibatnya sangat fatal. Media sosial sebagai penyumbang terbanyak berita hoax, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Artinya, selain mengkontrol konten media sosial, media mainstream harus bekerja lebih keras dan cerdas, yakni melakukan klarifikasi terhadap berita bohong yang kadung beredar luas di masyarakat.

Media arus utama, yang sudah dibekali oleh jurnalis profesional dan kompeten di bidangnya masing-masing, adalah elemen yang paling masuk akal dan diharapkan untuk menyajikan informasi secara akurat dan benar yang didukung oleh fakta. Peran strategis inilah yang harus dilakukan oleh media mainstream secara berkelanjutan.

Menjadi Rumah Penjernih

Kealpaan atau ketidakpedulian media mainstream dalam konteks perang melawan pemberitaan yang tidak benar alias hoax akan menyebabkan persoalan pelik. Oleh sebab itu, sekali lagi, media mainstream harus pasang badan menjadi “Rumah Penjernih” berita hoax.

Munculnya “pabrik hoax” sebagaimana yang dilakukan kelompok Saracen sebenarnya ada motif ingin menurunkan kepercayaan publik terhadap media mainstream. Tingkat kepercayaan terhadap jurnalisme profesional di Indonesia cukup rendah. Dalam survei tahun 2017 tentang kepercayaan atas lembaga-lembaga besar, peringkat terendah ditempati partai politik (45%), parlemen (55%), pengadilan (65%), dan media massa (67%). Bahkan peringkat kepolisian Indonesia yang terkenal korup (70%) mengalahkan pers (Tirto, 09/09/2018).

Memang, beberapa media mainstream secara telanjang menunjukkan kepada khalayak bahwa dia partisipan. Banyak contohnya, dan memang juga kentara, seperti pemilik beberapa media mainstream di Indonesia adalah orang partai. Media mainstream yang memperjuangkan kelompok tertentu dan membuat berita hoax serta melakukan jejak pendapat abal-abal membuat masyarakat berduyun-duyun bermigrasi ke media alternatif.

Dalam konteks sebagai Rumah Penjernih berita hoax, media mainatream atau pers, harus melakukan banyak perubahan dan penyesuaian. Diantaranya menyediakan kolom atau kanal yang fokus mengklarifikasi berita hoax. Cara atau penyesuaian ini sudah diterapkan oleh banyak media mainstream, seperti dalam program “back to hoax, hoax or not” dan lainnya.

Selanjutnya, media mainstream harus tetap mengutamakan kualitas dan valoditas sebuah berita yang disajikan kepada masyarakat. Agak disayangkan jika wartawan atau jurnalis saat ini lebih banyak menempuh jalur praktis dalam membuat berita seperti cukup mengambil bahan atau sumber dari media sosial, sehingga mereka tak perlu turun ke lapangan.

Yosep Adi Prasetyo, ketua dewan pers mengatakan, turun ke lapangan itu masih sangat penting untuk dapat melihat langsung peristiwa ataupun kejadian secara riil demi keakuratan dari berita tersebut.

Di tengah dominasi media sosial bahkan hampir menggeser posisi media arus utama dalam konteks sumber informasi, media mainstream harus pandai-pandai menempatkan diri: salah satunya dengan menjadi rumah penjernih berita hoax. Langkah inilah yang akan mengembalikan kepercayaan publik terhadap media mainstream sebagai sumber berita yang akurat dan mendidik seperti sebelum adanya media sosial.

Facebook Comments