Menegakkan Kebenaran Sejarah di Tengah Boomingnya Kerajaan ‘Halu’

Menegakkan Kebenaran Sejarah di Tengah Boomingnya Kerajaan ‘Halu’

- in Suara Kita
494
1
Menegakkan Kebenaran Sejarah di Tengah Boomingnya Kerajaan ‘Halu’

Sekarang lagi booming fenomena kerajaan ‘halu’ (halusinasi atau khayalan). Kerajaan halu sengaja dibuat untuk mengelabuhi publik. Kerajaan halu yang dibuat-buat tidak memiliki dasar sejarah ataupun dasar pendirian yang jelas. Kerajaan halu saat ini dikait-kaitkan dengan sejarah bias masa lalu. Kerajaan halu yang terbaru ini dengan munculnya Kerajaan Agung Sejagat (KAS), Sunda Empire dan King of The King di Kota Tangerang.

King of The King berhalu (berkhayal) bahwa mereka adalah Raja Diraja dari raja di dunia. King of The King dalam khayalannya akan melantik dari seluruh presiden dan raja-raja diseluruh dunia. Bahkan, King of The King mengaku memiliki Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang asli. Dari Supersemar menjadi alasan petinggi King of The King memiliki kekayaan Rp. 60.000 triliun di Bank Swiss yang katanya peninggalan Presiden Soekarno. Dan klaim King of The King Rp. 60.000 triliun akan diambil dari Bank Swiss pada Maret 2020 dan akan turun ke Bank Indonesia.

Intinya kerajaan baru yang muncul karena hasil halusinasi ini berbeda dengan sejarah kerajaan masa lalu yang memiliki bukti sejarah yang konkrit. Kebenaran sejarah terkait dengan interpretasi sejarawan. Interpretasi sejarawan terkait dengan data atau sumber dan pengetahuan sejarawan. Interpretasi juga berkaitan dengan imajinasi sejarawan. Dari imajinasi sejarawan tidak boleh membuat-buat cerita. Cerita yang ada dalam sejarah harus sesuai dengan akal dan bukti sejarah yang mendukung.

Seberapa pentingnya fungsi imajinasi dalam sejarah?. Sejarawan boleh memberikan deskripsi yang dapat dipercaya tentang masa lalu, meskipun mereka tidak secara sempurna mengetahui apa yang terjadi. Kredibilitas berhubungan dengan derajat justifikasi dan keyakinan seseorang dalam diskripsi sejarah. Diskripsi-diskripsi tersebut didukung oleh bukti yang bervariasi, secara umum lebih kredibel dibandingkan diskripsi yang minim bukti. Perlu diingat, diskripsi sejarah bisa dibantah ketika bukti tidak menyakinkan.

Jadi, adanya KAS yang mengaku kelanjutan dari Majapahit bisa dibantah. Sebab KAS tidak memiliki dasar dan bukti sejarah yang sepadan dengan kenyataan Majapahit. Sajian sejarah bisa diterima ketika memiliki dua unsur diakui; Pertama, Real Fact atau Hard Facts (fakta keras) dan kedua, Interpretasi Facts atau Idea Facts (peryataan ekspresif atau pandangan).

Baca Juga : Sejarah Kejayaan Masa Lalu dan Imajinasi Bangsa Beradab

Real Fact ialah fakta sejarah yang tidak dapat diragukan lagi kebenaran dan keasliannya. Fakta keras sudah terbukti benar dan tidak dapat terbantahkan. Contoh: peristiwa Reformasi 1998 dan peristiwa Proklamasi 1945. Sedangkan, Interpretasi Facts digunakan ketika sejarah membutuhkan pendiskripsian. Jika sejarah sudah jelas dengan dikuatkannya fakta-fakta maka interpretasi tidak perlu digunakan.

Ketika didapati cerita-cerita dan temuan sejarah yang aneh perlu dicek dari mana sumbernya. Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari tentang masa lampau, maka dibutuhkan sesuatu untuk mendukung penemuan-penemuan sejarah. Penemuan-penemuan itu diperlukan agar membuktikan teori-teori yang berkembang terkait sejarah. Penemuan itulah yang dinamakan sumber sejarah.

Menurut, Muh. Yamin, sumber sejarah ialah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah. Sedangkan, menurut Moh. Ali, sumber sejarah ialah sesuatu yang baik itu berwujud atau tidak yang berguna bagi penelitian sejarah dari masa zaman purba hingga sekarang. Jadi, dari pengertian dua tokoh ini sumber sejarah dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang baik itu dalam bentuk wujud apa tidak, yang berguna bagi perkembangan sejarah serta dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran suatu sejarah.

Menurut bentuknya, sumber sejarah dapat dibagi menjadi 3 bentuk: Pertama, sumber tulisan merupakan sumber sejarah yang berbentuk tulisan atau catatan peristiwa masa lampau. Suber tulisan ini dapat berupa prasasti, artefak, dokumen, naskah, babad, surat kabar dan lain-lain; Kedua, sumber lisan merupakan sumber sejarah yang dipaparkan langsung oleh pelaku sejarah pada saat terjadinya sejarah tersebut; Ketiga, sumber benda merupakan sumber sejarah yang diperoleh dalam bentuk benda-benda peninggalan sejarah. Misalnya, kapak, patung, gerabah dan lain-lain.

Kebenaran sejarah harus dibuktikan antara fakta dan interpretasi para sejarawan. Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Singasari, Kediri, Demak, Mataram dan kerajaan yang tertulis dalam sejarah itu sudah terbukti kebenarannya. Kerajaan besar ini sudah didukung dengan sumber sejarah baik secara tulisan, lisan dan benda sejarah. Munculnya orang yang berkhayal dan mendirikan kerajaan serta mengkait-kaitkan dengan serjarah masa lampau itu perlu diuji kebenarannya. Publik jangan mudah percaya, telusuri dan tanyakan pada sejarawan sebelum mengambil kesimpulan terkait sejarah yang dimunculkan di era halu ini.

Semua bangsa dan negara memiliki peradaban masa lalu. Negara dengan peradaban masa lalunya dituntut untuk memajukan peradabannya masa kini. Banyak upaya dan cara supaya negara meraih kejayaan disetiap masa peradabannya. Dari sejarah masa lalu dapat ditelusuri fakta-fakta keemasan kerajaan yang ada di Nusantara untuk diambil spiritnya untuk membangun Indonesia.

Facebook Comments