Menelusuri Sejarah Peradaban Nusantara di Balik Pemindahan Ibu Kota Indonesia

Menelusuri Sejarah Peradaban Nusantara di Balik Pemindahan Ibu Kota Indonesia

- in Suara Kita
147
1
Menelusuri Sejarah Peradaban Nusantara di Balik Pemindahan Ibu Kota Indonesia

Tahun lalu tepatnya tanggal 26 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Ibu Kota Indonesia akan dibangun di wilayah administratif ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara. Pemindahan ibu kota negara tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020 – 2024. Pemindahan ibu kota sudah mulai digagas sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pertimbangan masalah lingkungan dan overpopulasi Jakarta.

Pembangunan ibu kota baru memiliki tujuan pembangunan peradaban bangsa menuju yang lebih baik. Pemerintah dalam rencana pembangunan ibu kota tidak mau nyantai-nyantai. Pemerintah melalui Kementerian PUPR menyelengarakan sayembara gagasan desain kawasan Ibu Kota Negara (IKN) tingkat nasional yang digelar sejak Oktober hingga Desember 2019 dengan merebutkan hadiah total 5 miliar ruiah. Dari hasil sayembara yang diikuti 762 peserta pada 23 Desember 2019 diumumkan pemenang pertama diraih ‘Nagara Rimba Nusa’.

Desain kawasan IKN harus memenuhi 3 kriteria umum yaitu; 1. Mencerminkan identitas bangsa, 2. Menjamin keberlanjutan lingkungan, sosial dan ekonomi, dan 3. Mewujudkan kota yang cerdas, modern dan berstandar internasional. Semua kreteria ini demi IKN yang memang menjadi solusi terbaik dari masalah lingkungan dan overpopulasi Jakarta sebagai ibu kota saat ini.

Pembangunan IKN baru mengingatkan era keemasan Nusantara. Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi salah satu lokasi terpilih IKN baru. Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki sejarah peradaban karena dulu di kabupaten ini pernah ada kerajaan Kutai Kartanegara. Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa pemerinah tidak melupakan sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara. Harapannya dengan pembangunan IKN baru yang berlokasi di Kalimantan Timur Indonesia bisa mancapai kejayaan seperti dalam sejarah Kerajaan Kutai sampai Kesultanan Kutai Kartanegara.

Lewat bukti-bukti arkeologis, sementara disimpulkan kalau di Kabupaten Kutai Kartanegara ada periode sejarah bangsa ini dimulai. Beberapa prasasti tertua ditemukan di Kabupaten Kutai Kartanegara seperti ditemukan 7 prasasti yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa diatas tugu bernama Yupa. Dari prasasti itu dapat diketahui bahwa Kerajaan Kutai telah ada sejak abad 5 Masehi.

Dalam Sejarah Daerah Kalimantan Timur (2002), disebutkan bahwa raja pertama Kerajaan Kutai adalah Raja Mulawarman. Mulawarman merupakan putra dari Raja Asmawarman, yang juga seorang cucu dari Maharaja Kadungga. Mulawarman menamai kerajaannya dengan nama Kerajaan Kutai Martadipura. Keterangan ini tertulis dalam salah satu tujuh prasasti. Terdokumentasikan nama Raja Mulawarman yaitu berkat kebaikan dan kedermawanannya yang telah meyedekahkan 20 ekor sapi kepada kaum Brahmana, maka namanya dituliskan dalam Yupa.

Baca Juga : https://jalandamai.net/argumen-islam-moderat-dalam-konteks-nusantara.html

Secara geografis, Kerajaan Kutai terletak di hulu sungai Mahakam di Muarakaman, Kalimantan Timur, dekat dengan kota Tenggarong. Daerah Kerajaan Kutai merupakan jalur perdangan antara Cina dan India. Beberapa abad kemudian, muncullah kerajaan baru di wilayah itu bernama Kerajaan Kutai Kartanegara yang berbasis di Muara Sungai Mahakam, Tepian Batu, Kutai Lama. Raja Pertama Kerajaan Kutai Kartanegara ialah Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti yang menjabat dari tahun 1300 sampai 1325 Masehi.

Akhirnya, pada abad ke-16 terjadi peperangan antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan Kerajaan Kutai Martadipura. Peperangan dimenangkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara dan akhirnya kedua kerajaan ini digabungkan. Di bawah Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mandepa, gabungan kerajaan ini kemudian diberi nama Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Masih di abad 16, Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mulai didakwahi Islam. Dakwah Islam  Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dibawa oleh Ulama dari Minagkabau yaitu Tuan Ri Bandang dan Tuan Ri Tiro Pararang dari Aceh. Raja menolak kedua ulama ini, mengingat agama Kerajaan Kutai Kartanegara adalah Agama Hindu. Akhirnya terjadilah adu kekuatan antara Raja Kerajaan Kutai Kartanegara dan Tuan Ri Tiro Pararang. Setelah kalah beradu ilmu dengan Tuan Ri Tiro Pararang Raja Mahkota menepati janjinya untuk memeluk Islam.

Raja Kerajaan Kutai Kartanegara mengucapkan dua kalimat Syahadat dan akhirnya Kerajaan Kutai Kartanegara berubah menjadi Kesultanan. Islam mulai menyebar di wilayah-wilayah Kutai dan sekitarnya. Salah satu pengaruh Islam yang tampak adalah meunculnya nama-nama Islami yang digunakan Raja dan keluarga Kerajaan Kutai Kartanegara.

Kesultanan Kutai Kartanegara memasuki masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Muhammad Salihuddin (1782-1850). Dimasa inilah Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi daerah maritim yang besar dan kuat dengan armada palayaran yang maju di masanya. Pada tahun 1888 Masehi, di Kesultanan Kutai Kartanegara dibuka pertambangan batubara pertama di Kutai oleh insiyur tambang asal Belanda, J.H. Menten. Menten juga meletakkan dasar bagi eksploitasi minyak pertama di Kutai. Kemakmuran Kesultanan Kutai Kartanegara tampak semakin nyata berkat royalti atas pengeksloitasian sumber daya alam di Kutai.

Empat tahun Indonesia merdeka Kesultanan Kutai Kartanegara pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat. Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom atau daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No. 3 Tahun 1953. Akhirnya pada tanggal 21 Januari 1960 Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir.

Ketika masa Presiden KH. Abdurrahman Wahid Bupati Kutai Kartanegara bersama Putra Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menyampaikan niatnya untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara. Di hidupkan Kesultanan Kutai Kartanegara memiliki tujuan memajukan sektor pariwisata Kalimantan Timur. Pada tanggal 22 September 2021, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Kesultanan Kutai Kartanegara sampai sekarang masih eksis dalam kepemimpinan Sultan H. Adji Muhammad Arifin yang mulai menjabat pada tahun 2018.

Muncul Keraton Agung Sejagat (KAS), Sunda Empire, Kesultanan Selaco dan Kerajaan Djipang di Blora. Gerakan KAS dan sejenisnya ini seolah kembali ke masa lalu dan mimpi zaman keemasan untuk ditarik dan dibangun kembali tetapi ini hanya khayalan atau halu (halusinasi). KAS dan kerajaan halu lainnya memiliki niat jahat untuk menipu publik.

Adanya NKRI adalah wujud perkembangan peradaban bangsa yang terus berkembang sesuai zaman. Hal ini bisa dipelajari dari peradaban Kerajaan Kutai sampai Kesultanan Kutai Kartanegara. Era keemasan peradaban masa lampau cukup semangatnya yang diambil untuk kemajuan dan peradaban NKRI. Di bangunnya IKN di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai upaya Indonesia mengugah semangat meraih masa keemasannya seperti pada kejayaan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Facebook Comments