Mengairahkan Nasionalisme Berbasis Lokalitas

Mengairahkan Nasionalisme Berbasis Lokalitas

- in Suara Kita
371
0
Mengairahkan Nasionalisme Berbasis Lokalitas

Munculnya deklarasi kraton-kraton buatan ala Agung Sejagat atau Sunda Empire menandai adaya delusi, kerinduan sekaligus kecemasan. Bagaimana mungkin orang bisa tertipu menjadi bagian dari kraton naif itu? Tentu ada sesuatu yang diandaikan secara delusi dari masa lampau tentang mitos kerajaan. Ramalan masa lampau tentang ratu adil tentu turut menstimulus kesadaran mereka. Naifnya diaktualisasi secara keliru. Serupa dengan orang-orang yang percaya sistem khilafah ala ISIS akan melahirkan kejayaan.

Peristiwa itu tampaknya perlu dilihat secara jernih. Khawatir itu fenomena gunung es? Mengingat pembangunan Indonesia menuju negara modern kental dengan proses penyeragaman. Di masa orde baru, di bidang budaya, kita menyaksikan parade yang disebut budaya nasional kental dengan budaya Jawa. Ruang apresiasi atas budaya lokal sangat rendah. Bahkan terjadi proses penyeragaman pangan. Pendekatan-pendekatan pembangunan bersifat top down dibawah “mentoring” negara dunia pertama. Kita harus rela disebut dunia ketiga.

Sejarah orde baru sejarah yang melenyapkan kebanggaan atas lokalitas. Penghargaan dan pengakuan atas lokalitas baru mulai tampak setelah reformasi. Kita baru mulai mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika secara kaffah. Otonomi daerah baru memungkinkan lahirnya kebijakan yang mengakomodir lokalitas. Misalnya, ASN di daerah di hari tertentu harus mengenakan baju khas daerahnya. Itu bentuk pengakuan negara atas budaya lokal paling sederhana yang tengah kita saksikan.

Fenomena munculnya kraton-kraton buatan jangan-jangan adalah sisa trauma masa lalu. Kegelisahan masa orde baru yang dirawat secara kasak-kusuk. Lalu akhirnya meledak. Keberanian mereka ke permukaan punya konteks waktu dan peristiwa yang relevan. Indonesia baru saja tegang dengan China soal Laut Natuna. Reaksi pemerintah dan masyarakat cenderung berbeda, masyarakat terasa lebih keras. Sedangkan elit penguasa terkesan terbelah. Ada yang keras ada yang diplomatis.

Menemukan Lokalitas

Kemudian, apakah mereka sepenuhnya salah merindukan kejayaan era kerajaan masa lampau? Di satu sisi cara mereka mengekspresikan kerinduan jelas keliru. Di situ domain aparat untuk bekerja. Itu serupa dengan kelompok orang yang ingin Indonesia menjadi bagian dari sistem khalifah atau negara Islam. Namun ada hal yang penting diperhatikan secara serius, apa yang mereka rindukan mengandung khazanah nilai yang perlu kita perhitungkan. Kerajaan-kerajaan masa lampau memiliki warisan lokalitas yang kerap menjadi kebanggaan masyarakat.

Baca Juga : Sejarah Kejayaan Masa Lalu dan Imajinasi Bangsa Beradab

Menemukan lokalitas ini bukan berarti menghidupkan struktur kekuasaan kerajaan. Tetapi upaya menemukan pedoman hidup, etos kerja, serta warisan budaya. Setiap daerah memiliki khazanah nilai lokal yang dibentuk dan tumbuh dari rahim struktur kekuasaan kerajaan di masa lalu. Pengakuan dan apresiasi negara atas lokalitas akan punya arti tersendiri di hati masyarakat. Indonesia sebagai negara modern dan demokratis akan semakin bermartabat dan berwibawa.

Dari sana rasa saling memiliki serta sense of belonging akan terus tumbuh. Nasionalisme itu selalu bangkit dari dua sisi yang menggairahkan. Pertama, munculnya ancaman dari luar. Nasionalisme negatif-defensif, ketika dihadapkan pada acaman musuh. Kedua, nasionalisme positif-progresif. Muncul dari rasa kebanggaan atau apa yang kita tawarkan. Sehingga konsepsi berbangsa dan bernegara memiliki identitas khas. Dari sana nasionalisme kita sebagai bangsa akan semakin kokoh.

Sekedar contoh, keberhasilan pembangunan di Jepang, Korea Selatan dan China lebih merupakan dorongan kombinasi antara fitur penghargaan individu dengan budaya lokal. Berbeda dengan pembangunan di Barat yang lebih menekankan fitur-fitur penghargaan terhadap individu sebagai pendorong inovasi. Pola pembangunan yang digali dari karakter budaya lokal akan mengokohkan semangat nasionalisme. Ini sangat relevan di tengah gempuran globalisasi yang diperantarai internet, pembentukan identitas nasional niscaya membutuhkan formula lokalitas.

Jika dipahami secara koherensif, tidak ada pertentangan antara hidupnya lokalitas dan nasionalisme. Karena nasionalisme Indonesia tidak dibangun di atas kesamaan ras atau suku. Meminjam istilah Clifford Geertz, Indonesia ibarat anggur tua dalam botol baru. Indonesia adalah gugusan masyarakat lama dalam negara baru. Indonesia Maju yang digelorakan pemerintah senantiasi penting selalu diiramakan dengan anatomi kebangsaan yang Bhinneka Tunggal Ika. Pembangunan niscaya membutuhkan pendekatan histiografi.

Sejarawan Eric Hobsbawm (1990) pernah mengingatkan, setelah abad ke-19 nasionalisme pemerintah dan nasionalisme rakyat bisa berbeda. Tantangan politik dan tatanan sosial sistem kapitalisme bisa menjadi unsur pemicu. Sementara Benedict Anderson (1983) melihat hal serupa, bangsa sebagai “komunitas yang dibayangkan” telah memupus lokalitas. Keseragaman masyarakat industri memang berhasil melahirkan nasionalisme, tapi menyimpan kerapuhan. Untuk itu nasionalisme membutuhkan pengelolaan berwawasan plural.

Facebook Comments