Menjadi Warganet yang Rasional

Menjadi Warganet yang Rasional

- in Suara Kita
381
1
Menjadi Warganet yang Rasional

Keberadaan media sosial tidak terbantahkan telah menjadi salah satu saluran partisipatoris publik. Media sosial telah mampu mengubah berbagai struktur sosial. Dengan karakter partisipatoris, murah, cepat dan non-hierarki, membuat media sosial menjadi ruang publik baru untuk saling berinteraksi tanpa batas hingga kemudian dapat mengikis sikap apati publik. Semangat partisipatoris tersebut bisa dilacak dari dinamika para warganet (netizen) dalam mempengaruhi pemberitaan yang tengah hits di media sosial hingga kemudian menjadi opini publik.

Kemampuan media sosial yang interaktif telah mendorong warganet untuk lebih partisipatif. Bahkan banyak konten-konten yang disebar oleh para warganet dalam menyingkapi berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi, mulai dari persoalan pribadi, hingga persoalan yang membahas kebijakan publik. Inilah yang membuat teknologi informasi telah banyak mempengaruh semua sendi kehidupan. Dengan kata lain, perkembangan teknologi informasi telah memiliki proporsi yang cukup besar dalam mempengaruhi masyarakat hingga sistem politik (Gross, 2002).

Tidak hanya digunakan untuk berinteraksi, media sosial juga dijadikan untuk sarana penghubung dalam semua aspek kehidupan. Dari mulai komunikasi, hiburan, edukasi hingga dunia politik. Selain itu media sosial kemudian digunakan untuk saluran partisipasi terhadap berbagai bentuk persoalan yang dihadapi oleh masyarakat di semua lini kehidupan. Bahkan media sosial saat ini telah banyak digunakan untuk mencari dukungan sosial politik maupun sebagai saran untuk menyampaikan aspirasi. Baik itu sebagai aksi protes sosial maupun gerakan politik. Bahkan berbagai bentuk protes warganet ini mulai dari percakapan hingga dengan mengunakan tagar (hashtag) yang kemudian menjadi trending topik di media sosial. Bahkan beberapa aksi protes melalui media sosial telah menghasilkan aksi nyata di dunia nyata (offline).

Perkembangan teknologi yang di miliki media sosial cukup berpengaruh terhadap perubahan gerakan sosial dan demokrasi. Fenomena ini yang melahirkan demokrasi digital yang merupakan istilah baru dalam menjelaskan persilangan relasi antara penggunaan media sosial, pemenuhan representasi dan artikulasi kepentingan, serta penguatan kelas memengah. Ketiganya merupakan faktor penting dalam menjelaskan konstelasi sosial politik yang berkembang di Indonesia.

Baca Juga : Mewaspadai Fenomena ‘Halu’ di Media Sosial!

Demokrasi digital dan partisipasi digital dapat dianggap sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk memperluas dan memperdalam partisipasi politik dengan memungkinkan warga negara untuk terhubung satu sama lain dan dengan wakil pilihan mereka (Macintosh, A., 2008). Partisipasi digital yang dibangun dari media sosial inilah yang kemudian bisa menjadi indikator dari pelembagaan demokrasi digital. Meski demikian masih banyak yang menilai bahwa partisipasi digital hanya sebatas e-voting, petisi, hingga e-polling. Akan tetapi partisipasi digital tidak hanya sebatas gerakan protes yang dilakukan melalui media sosial semata, tapi lebih dari itu yakni dengan aktif menjadi warganet yang rasional juga termasuk dalam bagian partisipasi digital.

Identifikasi di atas kian membuktikan bahwa hingga saat ini media sosial sangat memiliki peran vital dalam semua kehidupan terutama dalam membangun saluran partisipasi. Oleh sebab itu, kehadiran media sosial sebagai saluran partisipator publik harus segera dimanfaatkan untuk terus menyemai aktor warganet yang rasional. Rasional dalam konteks ini adalah selalu mengedepankan cek dan ricek dalam menerima suatu pesan ataupun informasi. Akan tetapi proses menyemai warganet ini tentu harus didukung oleh semua stakeholder. Sehingga akan terbangun jejaring dan kolaborasi bersama yakni bersama-sama membenamkan hoaks yang terus beredar di media sosial.

Dengan menjadi aktor warganet yang rasional dan terus aktif menggunakan media sosial, dipercaya akan memberikan kontribusi nyata dalam gerakan literasi digital publik. Para aktor warganet ini dapat membantu mencerahkan warganet lainnya perihal sebuah informasi atau konten. Sehingga dengan demikian, warganet yang belum memiliki kesadaran dalam mencerna informasi akan sangat terbantu dalam mengkonsumsi sebuah konten atau informasi. Pada akhirnya, langkah untuk terus aktif menggunakan media sosial dan rasional dalam menerima suatu informasi digital, bisa dikatakan telah menjadi bagian dari warganet yang rasional.

Facebook Comments