Menjaga Islam dari Pembajakan Kelompok Radikal

Menjaga Islam dari Pembajakan Kelompok Radikal

- in Suara Kita
35
0
Ilustrasi

Sejak tragedi penusukan Pak Wiranto Densus 88 antiteror telah menangkap 40 orang terduga teroris. Informasi penangkapan 40 orang terduga ini di sampaikan Kadiv Humas Irjen M Iqbal saat jumpa pers Kamis, 17 Oktober 2019 di Mabes Polri. Para tersangka ini ditangkap dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah dirunut kasusnya semua tersangka masuk dalam jaringan Abu Zee.

Abu Zee merupakan jaringan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) yang berbaiat pada ISIS Pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi. Abu Zee dengan para sengkongkolannya ini berkomunikasi via whatsapp dan telegram. Abu Zee dan komplotannya membangun dasar ideologi ISIS via online, berbait pun secara online, berdiskusi secara online, belajar merakit bom secara online dan aksinya pun dikendalikan pimpinan via online. Jadi, jenis gerakan jihad ala Abu Zee dan komplotannya menyesuikan zaman yang serba online.

Aksi komplotan Abu Zee berdasarkan ajaran amaliah jihad, tetapi mereka ini memaknai jihad itu sendiri dangkal. Para komlotan Abu Zee ini berencana melakukan aksi kericuhan pada 20 Oktober 2019 yaitu saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Berkat kerja cepat Densus 88 antiteror alhamdulillah 40 orang telah diamankan. Dengan tertangkapnya 40 orang terduga teroris semoga menciutkan mental para pelaku yang belum tertangkap.

Para jaringan teroris sudah berusaha menyusup keberbagai lembaga. Strategi para jaringan terorisme yaitu memasukkan kader-kadernya di berbagai elemen. Kader-kader pilihan didorong untuk masuk tes Polisi, Tentara, PNS, Guru, Pengurus Masjid, Pengawai BUMN, pegawai perusahaan dan berbagai dunia kerja lainnya. Strategi ini adalah strategi jitu dalam penyusupan secara terstruktur, sistematis dan masif. Awal gerakan kaum jihadis ini adalah gerakan penyebaran ideologi dibarengi baiat ISIS.

Baca juga : Para Pembajak Agama

Terbukti dari kasus penusukan Pak Wiranto ada oknum istri TNI yang membuat postingan di medsos seolah mentolelir radikalisme. Informasi terbaru, dari 40 orang tersangka ada 2 oknum Polwan yang ditangkap di Yogyakarta. Hal ini menunjukkan para kaum jihadis sudah menyusup kemana-mana. Pengkaderan kaum jihadis ini tidak hanya mengajak kaum lelaki saja, tetapi perempuan juga menjadi sasaran.

Salah satu dari 2 oknum Polwan yang ditangkap karena terduga teroris yaitu saudari Nesti Ode Sami (NOS). NOS ini seorang polisi berpangkat brigadir dua di Kepolisian Daerah Maluku Utara yang usianya baru 23 tahun. NOS sebagai kader masih sangat muda. NOS sudah dipecat dari Kepolisian.

NOS pada bulan Mei 2019 sudah pernah tertangkap di Polda Jawa Timur.  NOS tertangkap karena diduga meninggalkan tugas tanpa izin, dasar tertangkapnya NOS dalam penerbangan Ternate-Surabaya karena ia menggunakan identitas palsu. Kemudian NOS di kembalikan di Polda Maluku Utara untuk dibina. Ternyata dari kejadian ini NOS tidak jera. Sebelum terjadi penangkapan kedua NOS sudah menghilang selama 1 bulan.

Dari hasil penyidikan ada hal yang mengejutkan, NOS ini teryata teridentifikasi berbiat pada JAD di bekasi Pimpinan Abu Zee. Abu Zee sudah tertangkap lebih dahulu pada 23 September 2019. NOS sudah terpapar paham radikal yang cukup dalam. Dari komplotan Abu Zee ini sudah mempersiapkan NOS sebagai pengantin JAD.

Maksud pengantin JAD yaitu merujuk kepada seseorang yang dipersiapkan sebagai pelaku bom bunuh diri. Rayuan apa yang dipakai JAD merayu NOS? Tentu rayuan yang dipakai adalah iming-iming surga dari imbalan jihad bom bunuh diri. Pikiran jahad para jihadis ini adalah menganggap jihad bom bunuh diri bisa jadi jalan mati sahid. Orang yang hidupnya berhayal surga terus seperti NOS pasti akan tergeliur rayuan JAD dan antek-anteknya.

Membahas soal jihad jadi teringat ‘Ngaji Gus Baha’ soal jihad. Kiai yang terkenal alim Gus Baha atau KH. Bahauddin Nursalim dari Rembang, memiliki penjelasan menarik soal jihad. Menurut Gus Baha yang hafal kitab-kitab besar dan Al-Qur’an beserta tafsirnya, teori orang ahlussunnah itu sederhana: jihad itu maknanya memikirkan agama.

Menurut Gus Baha, “Jihad itu berjuang. Jihad dimaknai perang itu dari orang ekstrimis. Padahal jihad itu tidak ada hubungannya dengan perang. Karena jahada-yajhadu-jihadan itu maknanya bersungguh-sungguh. Tiap kali mengalami kesulitan itu disebut jihad. Seperti kamu miskin itu juga jihad. Makanya orang mati faqir itu mati jihad. Maka dia mati sahid”.

Keterangan Gus Baha ini menunjukkan bahwa jidad bukan hanya dengan perang. Perang yang dikategorikan jihad itu ada beberapa persyaratan khusus. Kalau Islam dalam keadaan aman-aman saja kenapa harus perang? Lebih lucu lagi yang diserang malah sesama Muslim, sedangkan Non Muslim saja tidak boleh kita perangi tanpa dasar yang kuat.

Marilah kita bentengi Islam dari pembajakan kaum radikal seperti komplotan Abu Zee ini. Kalau Islam dicemari oleh perbuatan-perbuatan keji kaum jihadis, maka harkat martabat Islam akan jelek dimata agama lain. Semua elemen masyarakat, Pemerintah, TNI, Polri dan lainnya harus bersih dari paham radikal. Radikalisme harus diperangi bersama demi keutuhan Islam dan Indonesia.

Facebook Comments