Mewujudkan Egaliterianisme Islam dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Mewujudkan Egaliterianisme Islam dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

- in Suara Kita
62
2
Mewujudkan Egaliterianisme Islam dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Agama sebagaimana dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia seluruhnya mengajarkan kebaikan dan kebersamaan. Sehingga sebagai ajaran agama tidak ada yang menganjurkan untuk merusak dimensi persatuan dan kesatuan di antara ummat manusia. Hal tersebut tercermin dalam ajaran pokok yang di dapatkan dari kitab suci yang menjadi pegangan dalam kehidupan mereka yang dikenal dengan kalimatun sawa’. Hal tersebut juga tercermin dalam kehidupan pembawa risalah keagamaan sperti ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw. sebagi Nabi dan utusan Allah swt. Atau pun utusan lain dalam agama yang lain pula termasuk Isa a.s. yang selalu berbagi kasih dengan sesama manusia. Dengan demikian, pesan keberagamaan adalah sama mengangkat derajat kemanusiaan.

Kehidupan sosial masyarakat dalam berbangsa dan bernegara sering terkotak-kotakkan oleh kepentingan sesaat dan parsial. Sehingga satu sama lain terdapat perbedaan yang tajam dan seolah tidak dapat disatukan. Kenyataan tersebut terutama di masa kampaye dan pemilu khususnya pemilihan presiden dan wapres tanggal 17 pril 2019 silam. Padahal kenyataan historis berdirinya bangsa dan negara Indonesia adalah hasil jerih payah kesatuan bersama atas perbedaan yang ada. Semangat tersebut mulai tertanam sejak sumpah pemuda tahun 1928 dan kemudian menjadikan ampuhnya persatuan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Persoalan di atas berbalik di era kekinian. Dengan semangat pemahaman keagamaan  di masyarakat yang semakin meningkat, kajian keagamaan di tengah masyarakat menjadi terkotak-kotak juga. Fragmen ini menjadi bagian dalam kehidupan anak bangsa Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun terjadi perpecahan atau minimal perbedaan antara anak dan menantu atau ayah dengan anak dan sebagainya. Hal inilah seolah agama menjadi retorika saja bukan menjadi perekat di antara seluruh komponen bangsa. Agama menjadikan bagian dari perpecahan di antara ummat.

Ibadah baik ritual keseharian shalat lima waktu maupun ibadah haji tidak merasuk dalam relung hati sanubari ummat Islam secara keseluruhan. Padahal ajaran Islam sebagaimana disampaikan Rasulullah saw. adalah untuk rahmat untuk alam semesta. Bukankah dalam setiap mengakhiri shalat lima waktu seluruh ummat Islam mengucapkan keselamatan dan kedamaian ke kanan dan ke kiri dan diiringi dengan jabat tangan di antara mereka yang etrdekat bahkan dalam seluruh isi masjid jika selesai zikir dan do’a. Artinya dengan shalat itu, ummat Islam mampu menebar kedamaian di lingkungan dan kelompoknya sehingga spirit Islam dapat menjadi bahan kehidupan bersama di masyarakat. Hal inilah patut disayangkan di antara ummat Islam ada yang kurang memahami makna tersebut sehingga berdebat atas kebiasan tersebut yang menyatakan tidak ada tuntunannya dan menyalahi kebiasaan Nabi.

Baca Juga : Merajut Perdamaian di Tengah Maraknya Politik Identitas

Demikian juga dalam pelaksanaan ibadah haji, di dalamnya syarat akan peribadatan kebersamaan dengan ditandai penggunaan kain ihram di saat menjalankan puncak ibadah haji yaitu wukuf di Arafah atau ketika menjalankan umrah. Mereka bersatu di tempat suci dengan dua helai kain yang tidak berjahid bagi laki-laki  dan perempuan pakaian tertutup sebagaimana dalam ibadah shalat. Mereka bermunajat kepada Allah swt. dengan tanpa stratifikasi di dalamnya. Bahkan dalam melaksankan thawaf dan shalat pun ditemukan beragam cara mengerjakannya. Mereka semua tidak ada yang mempersoalkan dirinya yang sah dan diterima amaln dalm berhaji atau lainya. Mereka tujuannya sama yakni mendapatkan ridha Allah swt. Semangat tersebut sering dilupakan dalam kesehariannya sepulang jamaah haji Indonesia dari Tanah Suci Makkah dan Madinah.

Adakah ibadah lain yang juga sebagai sarana mengingatkan kebersamaan manusia di mata Allah swt. Tentu saja masih ada lagi yaitu ritual ibadah  mingguan. Hal tersebut dapat terlihat setiap beribadah shalat Jum’at dalam setiap minggunya. Ummat Islam selalu mendengar khatib  berwasiat tentang ketaqwaan dan diulang-ulang baik di khutbah pertama maupuh kedua baik dengan bahasa Arab maupun bahasa Indonesia atau bahasa lain. Kata tersebut ringan di mulut namun kerap kali susah untuk diamalkan dalam kehidupan keseharian. Taqwa merupakan ending dari keseluruhan ketaatan seorang ummat Muhammad saw.

Mengapa hal di atas terjadi di masyarakat Indonesia sekarang.  Khutbah Juma’at kurang diresapi dan tema-tema terkadang tidak menarik jamaah. Akhirnya kalau tidak mereka yang hadir dalam shalat mingguan tersebut selalu tidur nyenyak di saat khatib naik mimbar dan baru sadar serta bangun di saat menjelang shalat jamaah. Atau mereka datang ke masjid ketika khatib menjelang usai melalukan khutbah.

Agama sebagai sebuah ritual semata dan tidak memiliki  efek positif dalam pengerjaannya. Pemahaman mereka atas ajaran Islam tidak komprehensif atau menyeluruh. Sehingga apa yang terjadi cenderung pemahaman yang ada dengan teks terbatas memahaminya dan cenderung pula menyalahkan yang lain yang tidak sepaham dengan dirinya atau kelompoknya.

Kenyataan tersebut merupakan sebuah ironi keberagamaan di era kekinian. Ummat Islam jumlahnya banyak namun kualitas keimaman dan pemahaman atas Islam belum mampu menjadikan diri dan keluarganya terbebas dari api neraka. Betapa tidak, ummat Islam masih terjebak rutinitas keberagamaan dan terkadang tidak peduli dengan sesama ummat manusia baik di antara kawan seagama apalagi dengan di antara ummat lain.

Kebanyakan kesalehan itu hanya terjadi kepada individu namun bukan pada kesalehan sosial.  Ketaqwaan seseorang  merupakan barometer kebaikan di mata Allah swt. Indikatornya adalah menjalankan yang diperintahkan Allah swt. dan Rasulullah saw. serta menjauhi larangan keduanya baik dalam al-Qur’an maupun hadis.  Ketaqwaan inilah bekal manusia di akhirat kelak yakni di hari pembalasan. Apakah imbas ketaqwan hanya untuk kepentingan akhirat saja. Tentu saja hal tersebut bukan merupakan bentuk kebaikan yang akan dibalas di hari akhir melainkan kebaikan juga di dunia. Sehingga ketaatan ini juga merupakan bagian menjalani perintah Allah swt. dan Rasul-Nya, seperti ketaatan pada pemimpin yang sudah terpilih seperti presiden dan wakilnya.

Kontekstualisasi ketaqwaan tersebut tidak hanya terlihat dalam kepentingan di masa depan saja melainkan di dalam persoalan kehidupan di dunia ini. Hal tersebut adalah merawat kebersamaan dalam rangka menjaga NKRI. Keberadaan kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak kondusif menjadikan kehidupan sosial terkoyak-koyak. Sehingga kedamaian yang diinginkan tidak hadir dan kerugian pun terjadi baik dari segi material maupun non material. Kehidupan sosial ini juga dapat menghalangi semangat  beragama  dan beribadah dengan baik.

Bumi sebagai tempat berpijak manusia juga mengalami perubahan. Satu-satunya cara dalam merawat bumi adalah seluruh penghuni di dalamnya mampu menjalankan misi sebagai penjaga bumi dengan baik. Beragam ketidakseimbangan yang diakibatkan pertikaian akan menjadi beban bumi dikarekan efek dari hal ini. Dengan demikian, selamu ummat bergama selain menjaga kebersamaan juga menjadi di mana manusia berpijak yakni bumi dalam rangka kebaikan bersama dan masa depan ummat manusia yang akan menghuninya.

Egaliterianisme yang diajarkan Islam lewat beragama ibadah di atas harus dapat diwujudkan dalam kehidupan keseharian. Hal tersebut  adalah bagian dari risalah kenabian dan kerasulan Muhammad saw.  Termasuk di dalamnya adalah kesuksesan dalam menggapai kehidupan di dunia dan sesama ummat manusia. Manusia di hadapan Tuhan adalah sama kecuali ketaqwaannya dan taqwa itu tidak hanya menjadi indikator kebaikan pribadi dan insividunya melainkan dapat menyebar ke masyarakat di sekitarnya. Hasilnya adalah kehidupan ummat manusia akan damai dengan sesama unmat manusia lainnya dengan potensi kebaikan yang dimilikinya.

Facebook Comments