Momentum Harlah NU dan Agenda Moderasi Islam di Indonesia

Momentum Harlah NU dan Agenda Moderasi Islam di Indonesia

- in Suara Kita
232
2
Momentum Harlah NU dan Agenda Moderasi Islam di Indonesia

Islam Indonesia cenderung memiliki kekhasan yang berbeda dengan corak Islam yang berkembang di kawasan Timur Tengah. Hal ini lantaran mayoritas muslim di Indonesia terkategorikan dan mengidentifikasi diri sebagai kaum moderat-progresif Kondisi itu tentu tidak terlepas dari peran sejumlah organisasi Islam yang berhaluan moderat. Salah satunya tentu Nahdlatul Ulama (NU) yang pada tanggal 31 Januari lalu memperingati hari lahir (Harlah)-nya yang ke-94. Memasuki dekade ke sepuluh perjalannya, organisasi yang dikenal memiliki basis massa yang kuat di wilayah rural alias pedesaan ini dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Salah satu tantangan paling berat yang belakangan ini menghadap NU ialah keberadaan kelompok Islam trans-nasional yang gencar mengkampanyekan ideologi khilafah di Indonesia. Seperti kita tahu, di antara organisasi keislaman lainnya, NU terbilang merupakan organisasi yang paling getol membela NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Sejak berdirinya Republik Indonesia hingga saat ini, tercatat berkali-kali NU menjadi tameng eksistensi bangsa dan negara. Di masa awal revolusi, NU merupakan salah satu tulang punggung perlawanan terhadap kolonial belanda.

Pertempuran monumental di Surabaya yang lantas dikenang sebagai hari pahlawan juga tidak lepas dari seruang “Resolusi Jihad” yang dikumandangkan para kiai sepuh NU kala itu. Begitu juga ketika NKRI menghadapi ronrongan dari kelompok komunis pada dekade 1960-an, NU juga menjadi barisan terdepan dalam mempertahankan ideologi bangsa. Semua itu membuktikan betapa NU teguh dengan komitmen kebangsaan dan kenegaraan yang sudah terpatri sejak dulu. Maka, ketika gerakan Islam trans-nasional dengan agenda khilafah islamiyyah-nya masuk ke Indonesia, NU lah yang pertama kali menunjukkan respons resistensi.

Tantangan Konservatisme Agama

Kini memasuki dua puluh tahun lebih usia Reformasi Indonesia, keberagamaan Islam di Indonesia dihadapkan pada tantangan seputar maraknya infiltrasi radikalisme. Gerakan-gerakan yang berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah islamiyyah kian tidak kterbendung. Mereka, para pengasong gagasan khilafah itu bahkan sudah secara terang-terangan dan terbuka mengampanyekan gagasannya. Keberadaan media massa dan media sosial kian memudahkan para eksponen gerakan radikal untuk menjaring sebanyak mungkin pengikut. Alhasil seperti kita lihat saat ini, paham radikal keagamaan telah menyebar ke semua kalangan dan lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan masyarakat bawah hingga kelas menengah dan dari berbagai macam profesi mulai dari pelajar, mahasiswa, karyawan swasta, bahkan aparatus sipil negara (ASN).

Baca Juga : Khilafah, Ideologi, dan Masa Lalu yang Membelenggu

Dalam istilah antropolog Belanda, Martin van Bruinessen, keberagamaan di Indonesia, terutama di kalangan umat muslim tengah mengalami gejala “concervative turn”. Istilah ini merujuk pada fenomena ketika sebagian besar umat muslim menunjukkan peningkatan kesalehan pribadinya. Namun, di saat yang sama, peningkatan kesalehan pribadi itu juga berbanding lurus dengan naiknya kecenderungan konservatisme, intoleransi, bahkan radikalisme di kalangan umat muslim. Dalam kalimat sederhana, di satu sisi, umat muslim di Indonesia semakin giat dalam menjalankan ajaran agamanya, namun di sisi lain umat muslim Indonesia juga kian berpandangan eksklusif, bahkan anti-pada perbedaan.

Pada titik ini harus diakui bahwa agenda moderasi Islam di Indonesia tengah mengalami stagnasi. Nyaris dua dekade belakangan ini, bisa dibilang tidak ada tawaran pemikiran di bidang moderasi Islam. Ruang publik kita disesaki oleh gagasan dan pemikiran keislaman yang bercorak eksklusif, intoleran bahkan menjurus radikal. Maka dari itu, momentum peringatan Harlah NU ke-94 ini kiranya bisa menjadi semacam titik tolak untuk melanjutkan agenda moderasi Islam yang sempat terpinggirkan oleh arus deras konservatisme Islam.

NU dan Modalitas Sosial-Intelektual

Dalam situasi yang demikian ini kita bisa memetakan setidaknya tiga modal utama NU dalam membendung infiltrasi gerakan radikal di tengah masyarakat sekaligus menggerakkan agenda moderasi Islam di Indonesia. Pertama, keberadaan pesantren salaf-tradisional yang berafiliasi dengan NU yang tersebar di seluruh Nusantara harus diakui telah menyumbang andil yang tidak sedikit bagi moderasi Islam di Indonesia. Pesantren salaf-tradisional NU dicirikan dengan corak kajian keislaman yang memadukan antara pemahaman tekstual dengan diskusi terbuka. Kultur pesantren juga mengenal relasi yang era tantara guru dan murid, yang membentuk etika santri yang kental dengan kultur kerendahhatian.

Pesantren tidak diragukan merupakan aset penting bangsa Indonesia yang harus terus-menerus dikembangkan dan direvitalisasi agar relevan dengan kondisi zaman. Pesantren adalah sokoguru keisalaman moderat di Indonesia yang menjadi eksponen penting penyebaran paham ahlussunnah wal jama’ah yang berpandangan moderat, toleran dan inklusif.

Kedua, keberadaan kiai dan ulama NU yang tersebar hingga ke pelosok-pelosok Indonesia. Selain pesantren, keberadaan kiai-kiai baik itu yang memiliki pesantren atau hanya sekadar “kiai kampung” merupakan eksponen penting NU dalam agenda moderasi Islam di Indonesia. Kiai, terutama yang tinggal di kawasan pedesaan selama ini menjadi ujung tombak yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Dalam kesehariannya, mereka menghadapi tidak hanya persoalan keagamaan, namun juga persoalan keumatan dan kemasyarakatan. Perspektif moderat yang dimiliki kiai atau ulama tentu akan sangat berpengaruh dalam membetuk pola keberagamaan masyarakat.

Satu hal yang patut diperhatikan oleh para kiai dan ulama NU adalah adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang belakangan kian menggusur peran ulama. Masyarakat tidak lagi membutuhkan ulama atau kiai yang berilmu mumpuni lantaran bisa mengakses ilmu dan informasi keagamaan dari kanal-kanal media sosial. Perubahan zaman sebagai konsekuensi logis dari modernitas ini tentu harus direspons secara positif oleh kiai dan ulama NU.

Ketiga, dan tidak kalah pentingnya ialah keberadaan para generasi muda NU yang telah bertransformasi dari santri tulen menjadi santri-intelektual yang tidak hanya memiliki ilmu pengetahuan di bidang agama melainkan juga sains juga ilmu sosial. sebagian dari mereka bahkan merupakan lulusan perguruan tinggi di luar negeri. Dalam dua dekade belakangan ini, keberadaan generasi muda NU yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren sekaligus perguruan tinggi sangat banyak. Mereka tersebar ke dalam berbagai ranah, mulai dari akademik, akitivis sosial, politisi, pengusaha dan birokrat.

Dengan modal intelektualitas, sekaligus jaringan sosial yang dimiliki, mereka sangat potensial menjadi agen moderasi Islam di Indonesia. Mereka diharapkan bisa menahan laju gelombang konservatisme di Indonesia melalui berbagai macam cara, entah itu melalui pendekatan akademik, maupun melalui kebijakan politik-birokratis. Di tengah era disrupsi teknologi yang mengubah nyaris seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali agama, keberadaan kaum intelektual tentu sangat diperlukan sebagai agen penggerak transformasi sosial.

Bangsa Indonesia tentu berharap NU bisa menjadi lokomotif penarik gerbong moderasi Islam Indonesia yang sempat macet karena fenomena konservatisme dan radikalisme agama. Di usainya yang ke-94 ini, NU diharapkan mampu merevitalisasi agenda moderasi Islam yang sempat mati suri. Akhirul kalam, selamat ulang tahun ke-94 untuk Nahdlatul Ulama, semoga spirit moderasi Islam dan komitmen kebangsaan itu tidak akan pernah padam meski angin tantangan berembus kencang. Semoga!

Facebook Comments