Muhammad, Kebangkitan Akhlak dan Antiradikalisme

Muhammad, Kebangkitan Akhlak dan Antiradikalisme

- in Suara Kita
81
0
Muhammad, Kebangkitan Akhlak dan Antiradikalisme

Bulan Rabiul Awal telah hadir kembali di tengah masyarakat muslim Indonesia yang disambut dengan gegap gempita perayaan maulid nabi Muhammad Saw, sang peletak dasar moralitas dalam agama Islam. Kegembiraan dalam peringatan itu menegaskan betapa pentingnya makna kelahiran dan kehadiran Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat Islam kala itu. Ini bisa dilihat jelas dari moralitas masyarakat sebelum kelahirannya dan setelah kematiannya. Masyarakat sebelum kelahiran Nabi Muhammad disebut masyarakat jahiliah. Secara bahasa, kata jahiliah diambil dari kata jahil yang berarti bodoh.

Hanya saja, MM Azami dalam Studies in the Early Hadith Literature menyebutkan bahwa masyarakat Arab bukanlah sepenuhnya bodoh. Kaum elite Arab begitu melek huruf, mahir membaca dan menulis. Masyarakat Arab mampu menggubah syair-syair yang bernilai sastra tinggi. Setiap tahun diselenggarakan festival sastra, karya pemenang digantung di dinding Ka’bah. Masyarakat Arab adalah pebisnis hebat yang berbisnis sampai ke mancanegara.

Masyarakat Arab pra-Islam disebut jahiliah lebih karena moralitasnya yang rusak. Di dalam Alquran, kata jahiliah empat kali untuk menunjukkan kebodohan perilaku, bukan kebodohan ilmu (lack of knowledge). Mereka diperbudak nafsu berkuasa yang menyebabkannya memperbudak sesama manusia. Birahi yang meraja membuat mereka haus akan wanita dan memperlakukannya dengan sangat nista. Bahkan, anak-anak perempuan yang lahir dari rahim istrinya dikubur secara hidup-hidup.

Akan tetapi, dalam kurun waktu hanya 23 tahun, Nabi Muhammad mampu mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat yang ilmiah. Nabi Muhammad berhasil mengubah masyarakat barbarian menjadi kaum yang berkeadaban. Esposito (1991) menyebut kesabaran, kebersahajaan, kejujuran, ketulusan, keteguhan, dan tanggung jawabnya yang tidak terkira adalah kunci keberhasilan perjuangannya.

Kebangkitan Akhlak

Momentum kelahiran Nabi adalah momentum kebangkitan akhlak. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits, misi utama Nabi Muhammad adalah menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak Nabi, sebagaimana dijelaskan Aisyah RA, istri Rasulullah, adalah Alquran. Menurut Fazlurrahman (1987), pesan utama Alquran adalah moralitas. Ibadah di dalam Islam tidak akan sempurna jika tidak membuahkan akhlak dalam kehidupan.

Baca Juga : Muhammad

Perlu dipahami, problem yang sedang dihadapi bangsa ini sesungguhnya adalah kerusakan akhlak generasi bangsa. Bahkan, dalam beberapa hal, bangsa ini lebih jahiliah daripada bangsa jahiliah prakelahiran Nabi Muhammad. Sebagai contoh, atas nama perbedaan pendapat, umat Islam bisa saling mengkafirkan. Atas nama perbedaan ideologi, orang bisa saling membunuh. Atas nama perbedaan, orang menghalalkan tindakan terorisme dan radikalisme yang mengancam dan membahayakan orang lain.

Dalam situasi ini, momentum maulid menjadi sangat bermakna. Momentum maulid nabi bisa menjadi titik awal bagi kaum muslim menghadirkan akhlak Muhammad dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Pendidikan Antiradikalisme

Dari uraian-uraian di atas, jelas bahwa Nabi Muhammad hadir di sekeliling kita, dalam rangka mendidik kita agar menjadi manusia berakhlak mulia. Mendidik kita agar menjadi manusia yang tidak menegasikan kemanusiaan. Menjadi manusia yang bermoral dan beradab. Artinya, sejatinya kehadiran Rasulullah adalah memberikan kepada setiap umat manusia agar tidak berperilaku radikal dan terorisme. Di tangannya, agama dikembalikan lagi kepada khitahnya sebagai keyakinan untuk menanamkan kesadaran pentingnya menebarkan kasih kepada seru sekalian alam. Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin.

Rasulullah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya hidup damai dan berperilaku toleran. Lihat saja, pada peristiwa Fathu Makkah yang menandakan kemenangan Islam. Nabi Muhammad SAW yang dahulu dinista orang Mekah bahkan disebutnya sebagai pendusta, tukang sihir, dan makian lainnya, sampai nyawanya hendak dihabisi kaum muda Mekah, justru ketika kesempatan balas dendam berada di pelupuk mata, Nabi malah memaafkan dan membebaskan mereka. Antum thulaqa, kalian semua bebas. Politik permaafan dijadikan pilihan. Jalan rekonsiliasi dibentangkan.

Di lain waktu, Nabi dimaki seorang Yahudi, “Assammu ‘alaikum” (kecelakaan bagimu). Nabi hanya menyahut “wa ‘alaikum.” Istrinya Aisyah protes seraya balik mencaci lebih tajam, “Assammu alakum wa la’natuh” (bagi kamu kecelakaan dan laknat). Nabi menegur, “Jangan berlebihan, istriku.” Agama sama sekali tidak mengajarkan kebencian dan sikap berlebih-lebihan.

Harus diakui, banyak teladan Nabi yang telah ditanggalkan dalam menyikapi keberagamaan kita hari ini. Yang paling mutakhir tentu saja bagaimana agama sering kali dibajak untuk kepentingan partisan, jangka pendek, dan tujuan-tujuan politik sesaat, bahkan kekerasan pun dilegalkan atas nama agama itu sendiri seperti diperagakan kelompok IS dan ormas-ormas fundamentalis yang akhir-akhir ini mengancam keberagaman NKI.

Agama yang seharusnya menebarkan kedamaian, berubah wajah menjadi sangat akrab dengan kekerasan dan sikap intoleran. Tak heran, hari ini rupa agama telah berubah menjadi bengis menyeramkan. Maka itu, momentum bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw perlu dijadikan momentum menggalakkan pembumian akhlak keberagaman. Minimalnya, kita dapat belajar untuk memasuki pengalaman keragaman secara lapang, untuk memastikan bahwa tujuan utama kehadiran agama ialah menebarkan rahmat dan menjalin kerukunan. Ini penting digarisbawahi sebab kita ialah masyarakat heterogen. Sehingga, tidak ada lagi wajah agama yang seram dan radikalisme agama pun minggat dari bumi nusantara. Wallahu a’lam.

Facebook Comments