Najwa Shihab dan Andil Perempuan di Dunia Pers

Najwa Shihab dan Andil Perempuan di Dunia Pers

- in Suara Kita
158
1
Najwa Shihab dan Andil Perempuan di Dunia Pers

Publik tentu tidak asing dengan perempuan kondang Najwa Shihab, S.H. Najwa Shihab yang akrab disapa Mbak Nana ini sosok perempuan yang sangat aktif di dunia pers. Mbak Nana merupakan lulusan sarjana hukum Universitas Indonesia. Dari lulusan kuliahnya Mbak Nana memberi pelajaran bahwa untuk jadi bagian dari pers tidak memandang apa lulusannya. Terpenting untuk jadi jurnalis, presenter dan pembawa acara seperti Mbak Nana perlu menguasai literasi dengan baik.

Mbak Nana kelahiran Makasar, 16 September 1977, di usia 42 tahun Najwa Shihab tampak semakin cemerlang. Diawali dari karier sebagai wartawan, presenter dan pembawa acara serta kini menjadi owner Narasi TV. Mbak Nana dalam dunia pers benar-benar dimulai dari bawah sampai ke tingkat pemilik suatu usaha media. Tapi yang paling menarik Mbak Nana adalah sosok pembawa acara ‘Mata Najwa’ kala itu dan sekarang ‘Catatan Najwa’ sering membuat politisi mati kutu dengan pertanyaan pedasnya.

Pertanyaan-pertanyaan pedas dan mendalam yang dilontarkan ke narasumber didapat Mbak Nana dari keluasan wawasannya. Wawasan yang begitu luas diperoleh dari semangatnya Mbak Nana dalam membaca, berdiskusi dan menulis. Jadi setiap narasumber ‘Catatan Najwa’ pasti deg-degan dengan pertanyaan-pertanyaan menukik dari Mbak Nana.  Narasumber yang gugup dan kurang persiapan dengan jawaban-jawabannya pasti kalang kabut menjawabnya.

Ada kisah menarik dari sisi Mbak Nana. Menyimak tayangan Opera Van Java yang diunggah diunggah di kanal YouTube Trans7 Official, pada (19/11/2019). Di video itu Mbak Nana ditanya salah satu pemain Opera Van Java yaitu oleh Denny Cagur. Kala itu Denny Cagur bertanya, “Sejak awal berkarier ditelevisi, ia langsung jatuh cinta pada profesi jurnalis dan membatalkan niatnya untuk menjadi pengacara. Selain itu menjadi ibu adalah hal yang paling luar biasa yang pernah alami. Pertanyaanya, jika disuruh memilih lebih pilih jurnalis atau ibu rumah tangga?”.

Mbak Nana menjawab dengan nada tegas, “Kenapa sih perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan posisi perempuan seolah-olah tak berdaya”.

Jawaban tersebut membuat Denny Cagur bengong dan kebingungan harus memberi tanggapan apa. “Eh gue jawab apa nih?” tanya Denny Cagur.

Baca Juga : Jurnalisme Digital, Misinformasi dan Pasca-Kebenaran

Tak mendapat tanggapan dari Denny Cagur, Mbak Nana melanjutkan jawabannya, “Karena setiap perempuan itu multiperan, saya bisa menjadi ibu, menjadi istri, menjadi tetangga, menjadi jurnalis”.

Tanggapan Mbak Nana atas pertanyaan Denny Cagur ini menunjukkan bahwa perempuan bisa andil dalam dunia pers. Perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata, perempuan bisa melakukan apapun sesuai cita-cita dan kemampuanya. Seperti Mbak Nana bisa menjadi sosok perempuan yang berkontribusi dalam dunia pers.

Mbak Nana menjalankan profesi jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. Mbak Nana menjadi jurnalis sudah 17 tahun lamannya dan kini Mbak Nana menyempurnakan dengan mendirikan usaha media ‘Narasi TV’ pada tahun 2018 dengan 170 karyawan.

Selain kiprahnya di dunia penyampai informasi, Mbak Nana kini juga merangkap sebagai Duta Baca Indonesia (2016-2020). Mbak Nana menginginkan bahwa pers memiliki peran dalam pendidikan literasi salah satunya dalam bidang membaca. Sebab orang-orang kini semakin males baca. Banyak faktor yang mempengaruhi kenapa publik semakin males baca. Salah satunya karena waktunya sudah habis buat main medsos, game dan menonton YouTube. Tren YouTube juga membuat orang lebih suka menonton dari pada harus baca.

Sebagai Duta Baca Indonesia, Mbak Nana memiliki tugas menumbuhkan sikap gemar membaca buku terutama dikalangan anak-anak Indonesia. Melalui berbagai media, Mbak Nana terus mengkampanyekan kegiatan membaca kepada masyarakat. Sebagai Duta Baca Indonesia, Mbak Nana diharapkan menjadi publik figure yang memotivasi minat baca masyarakat yang masih kurang.

Bisa dikenang pada tahun 2005, Mbak Nana memperoleh penghargaan dari PWI Pusat dan PWI Jaya untuk laporan-laporannya dari Aceh, saat bencana tsunami melanda kawasan itu, 26 Desember 2004. Liputan dan laporannya dinilai memiliki andil bagi meluasnya kepedulian dan empati masyarakat luas terhadap tragedi kemanusian itu.

Mbak Nana memiliki segudang prestasi dibidang dunia pers. Beberapa prestasi Mbak Nana diantaranya; National Award for Journlistic Contribution to Democracy (2019), Australian Alumni Award for Journalism and Media (2019), pemenang Panasonic Gobel Awards (2015 dan 2017) dan masih banyak lagi prestasi. Jadi untuk kaum hawa tidak usah takut berkiprah seperti Mbak Nana yang penting semangat dan tidak meninggalkan sisi perempuan.

Mbak Nana selain kiprah dalam pers kini aktif di dunia literasi. Mbak Nana tahu betul bahwa pers dan literasi satu paket. Mbak Nana selalu mengkampanyekan kecintaan pada buku, bicara tentang literasi, memiliki kepedulian pada tingkat membaca buku di kalangan anak muda. Kiprah Mbak Nana layak diapresiasi dan dijadikan teladan dalam dunia pers maupun dunia literasinya.

Facebook Comments