Netizen sebagai Sumber Berita

Netizen sebagai Sumber Berita

- in Suara Kita
109
0
Netizen sebagai Sumber Berita

Budaya instan, dalam hal apapun, seringkali menimbulkan banyak persoalan pelik yang berdampak luas. Dalam dunia politik misalnya, budaya instan akan melahirkan sikap koruptif akut. Begitu pula dalam ranah agama, budaya instan akan melahirkan pahaman ajaran dan nilai-nilai agama parsial. Bahkan dalam konteks mencari informasi pun seolah tak mau ketinggalan. Maraknya berita atau konten, baik di media sosial maupun online, adalah buah dari sikap dan berpikir instan.

Memang, cara instan anti-ribet dengan mengabaikan sederet peraturan yang ada ternyata yang digemari masyarakat yang dijuluki sebagai “pecinta micin” seperti sebagian masyarakat Indonesia. Media sosial, yang menyediakan informasi cepat dan instan, menjadi idaman generasi saat ini dalam mencari informasi.

Tak tangung-tanggung, media sosial sebagai salah satu produk di era saat ini, telah merajai jagat informasi dan telah mengambil peran cukup dominan dalam setiap keputusan seseorang.

Transformasi masyarakat dalam mencari informasi ini harus ditangkap oleh para pegiat literasi guna mengedukasi dan mengkampanyekan hal-hal positif di tengah maraknya sampah informasi yang menjejaki media sosial. Dalam bahasa M. Fikri (2016), para jurnalis dituntut untuk menyesuaikan dengan zaman, aktivitas jurnalisme haruslah kontekstual.

Mengalami Pergeseran

Dulu, pada awal berdirinya FaceBook (FB), banyak kejadian anak hilang karena dibawa kabur oleh orang yang ia baru kenal melalui FB. Kala itu FB belum digunakan untuk menyebar berita bohong, baru sekedar alat komunikasi yang efektif dan ringkas. Bahkan pada masa ini, banyak orang yang mendapatkan pasangan melalui platform FB.

Kini memasuki era digital yang membuka berbagai slauran informasi, berita yang bersumber dari media sosial bukan lagi menjadi suatu yang asing, bahkan media sosial lebih dominan dalam menyajikan informasi dari berbagai kejadian yang terjadi di dunia ini secara cepat.

Baca Juga : Gerakan Literasi Cinta Damai Berbasis Masjid

Dalam posisi itu, FB dan media sosial lainnya, fungsinya lebih ganas dan berdampak mengerikan bagi masyarakat. Satu isu atau kejadian bisa langsung menjadi perhatian banyak orang karena beredar dan dikomentari banyak orang. Satu negara bisa bergerak menggulingkan pemerintahan yang sah ketika berita hoax yang “mengocok” emosi rakyat terhadap pemerintah beredar luas.

Kini, kita sedang dihadapkan pada persoalan pelik, dimana produk jurnalisme yang ditelurkan oleh media mainstream cenderung menarik atau mengutip apa yang disajikan oleh orang atau kelompok tertentu di media sosial. Padahal, sumber berita dari netizen belum tentu benar dan akurat. Artinya masih perlu konfirmasi validitas sumber agar pernyataan netizen sebagai isi konten berita memiliki kelayakan dan otoritas serta kredibilitas dalam menyampaikan sesuatu.

Proses jurnalistik tidaklah semudah mengutip komentar netizen yang menarik dan mengundang emosional. Proses jurnalistik haruslah dilakukan secara sistematis,  mulai dari memperolah dan menulis fakta, didukung pula profesionalisme sebagai wartawan dan lain sebagainya (Winarmi dan Rani, 2019).

Dengan demikian, posisi netizen dalam konteks pemberitaan hanya sekedar data sekunder, sebagai pemanis saja. Meskipun demikian, sumber berita dari media sosial tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai validitas dan kredibilitas sumber, terlebih di media sosial, semua orang bisa dengan bebas membuat akun asli maupun palsu.

Menakar Kredibilitas Netizen sebagai Sumber Berita

Bahwa media mainstream, yang oleh mayoritas masyarakat dianggap sebagai media profesional dan mengedepankan etika jurnalistik serta sebagai barometer informasi, yang menjadikan konten media sosial atau statemen netizen sebagai isi berita adalah benar adanya. Bahkan, seringkali media mainstream ini “terjebak” dalam lingkaran penyebar hoax.

Fenomena tersebut terjadi tidak hanya sekali atau dua kali saja, melainkan sudah berkali-kali media mainstream turut menjadi bagian dari proses penyebaran berita bohong dan sejenisnya. Sehingga menjadikan disinformasi semakin menjadi-jadi. Secara bersamaan, ia turut mematikan nalar keawarasan publik.

Langkah media maintream yang cenderung “pragmatis” tersebut harus segera diakhiri. Tegas kata, media mainstream jangan malah terlihat sedang berkontestasi dengan media sosial. Sehingga mengakibatkan terjadinya kekosongan terhadap media sebagai sumber informasi akurat, klarifikasi berita tidak benar dan menjadi pendobrak literasi masyarakat yang mulai anjlok.

Media sosial telah terbukti menjadi sumber informasi tak hanya bagi masyarakat, tetapi media-media atau portal online, bahkan media arus utama sekalipun, turut mengambil konten di media sosial untuk isi beritanya. Artinya, bahan berita tak melulu diperolah dari penelusuran sumber-sumber buku, kejadian di lapangan, melainkan cukup apa yang ada di media sosial sudah bisa dijadikan bahan untuk diracik menjadi berita.

Sekali lagi, mengambil berita dari media sosial atau menjadikan netizen sebagai sumber berita, tak ada yang salah. Namun, harus melalui verivikasi terlebih dahulu; pihak-pihak terkait juga harus dikonfirmasi terlebih dahulu. Dan verivikasi inilah yang seringkali diabaikan oleh media arus utama.

Media arus utama harus benar-benar berjalan sebagaimana khittahnya, yakni menyedia informasi yang akurat, mendidik, menghibur dan kontrol sosial (Baca: UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers Pasal 3). Oleh sebab itu, media arus utama, dan juga media lainnya, harus benar-benar menakar kredibilitas sumber berita, terutama yang diperoleh dari media sosial dengan melakukan beberapa cara.

Pertama, verifikasi. Media sosial memang memudahkan para jurnalis dalam mencari dan mengolah bahan berita. Dengan adanya medsos, jurnalis menjadi lebih cepat mendapatkan komentar dari “orang dilapangan” tanpa harus lama-lama turun ke lapangan secara langsung.

Dalam posisi seperti itu, media atau jurnalis harus benar-benar melakukan verifikasi secara bijak dan akurat. Jika tidak, maka publik akan semakin tidak percaya kepada media arus utama. Dan masyarakat akan kehilangan hak-nya untuk mendapatkan sumber berita yang akurat. Inti dari jurnalisme adalah “verifikasi”.

Kedua, akurasi. Kedalam materi pemberitaan di era saat ini menjadi barang yang sebentar lagi akan langka. Apalagi kecenderungan mengambil sumber berita dari statement netizen di media sosial, kedalaman berita akan cenderung rendah. Hal ini disebabkan karena karakteristik media yang ingin menyajikan berita secara cepat, menit ke menit, bahkan detik detik.

Bill Kovach dan Tom Resentiel dalam “Sembilan Elemen Jurnalisme” memaparkan bahwa akurasi merupakan esensi jurnalisme. Akurasi sendiri dapat diartikan sebagai kebenaran yang didalamnya berupa proses yang dimulai dengan disiplin ilmu profesional dalam mengumpulkan dan verifikasi fakta.

Dengan demikian, sorang jurnalis ketika hendak mengambil pernyataan atau mengambil sumber berita dari media sosial, maka harus menerapkan proses akurasi, yakni memastikan keaslikan akum medsos yang akan dikutip. Baru verifikasi fakta lainnya.

Ketiga, kredibilitas. Kredibilitas dalam hal ini lebih memastikan bahwa sumber atau pernyataan yang diambil benar-benar dari seorang yang kompeten di bidangnya. Jika hendak membuat berita tentang ekonomi, maka sumber atau nara sumbernya haruslah orang yang ahli, atau minimal berkecimpung dalam bidang ekonomi.

Begitu pula ketika hendak menjadikan komentar atau postingan netizen, jurnalis harus memastikan dulu siapa dia; kompeten di bidang apa dan lain sebagainya. Jangan sampai kasusnya A, yang ditanya tidak ahli atau paham tentang masalah dalam kasus A.

Keempat, profesionalisme. Kerja jurnalistik haruslah didasarkan pada asas profesionalisme. Profesionalisme ini menekankan pada aspek kemampuan dalam menjalankan proses jurnalistik, memahami dan mematuhi kode etik jurnalistik dan lainnya.

Kiranya inilah sedikit ulasan dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada tanggal 09 Februari. Semoga pers benar-benar menjadi pilar demokrasi keempat dan mampu memainkan peran dan fungsinya dalam membangun jati diri bangsa, menyajikan informasi yang bermanfaat dan akurat, meningkatkan literasi dan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga!

Facebook Comments