Obituari KH. Salahuddin Wahid: Membumikan Jihad Kebangsaan

Obituari KH. Salahuddin Wahid: Membumikan Jihad Kebangsaan

- in Suara Kita
433
0
Obituari KH. Salahuddin Wahid: Membumikan Jihad Kebangsaan

Minggu (2/2), KH. Salahuddin atau lebih akrab dipanngil Gus Sholah menghembuskan napas terakhir. Tentu saja, wafatnya Gus Sholah bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga dan santri Tebuireng dan Nahdlatul Ulama di mana ia banyak kerkiprah, namun juga seluruh bangsa Indonesia. Ini karena salah satu tokoh bangsa tersebut telah tutup usia.

Sejak hari ini (2/2), kita tidak bisa lagi menyaksikan kiprah beliau dalam membumikan jihad kebangsaan ataupun kiprah-kiprah lainnya di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) dan pendidikan. Kita hanya bisa membaca gagasan-gagasan kebangsaannya dari beragam tulisan yang telah dibuat semasa hidupnya serta meneladani semangat beliau dalam menciptakan Islam yang ramah bagi setiap warga negara.

Sejak maraknya fenomena hijrah kalangan milenial tanpa dilandasi dengan pemahaman Islam yang kaffah dan polarisasi politik identitas, hari ini kita banyak menyaksikan praktik interaksi dalam masyarakat, baik antarumat Islam ataupun antarumat beragama, kini tidak lagi menunjukkan sikap-sikap yang ramah kebangsaan. Mereka memang taat menjalankan perintah agama, seperti salat, puasa, zakat, dan haji, namun mereka tidak bisa bersikap toleran dan moderat atas perbedaan yang ia temukan dalam perilaku umat beragama.

Misalnya, baru-baru ini atas postingan viral di media sosial dari statemen terpotong Ibu Shinta Nuriyah (istri Gus Dur, kakak Gus Sholah) yang berisi: “Jilbab tak wajib bagi perempuan muslim” begitu mudah para kalangan muslim-muslim tersebut menghakimi pernyataan tersebut tanpa tabayyun terlebih dahulu. Bahkan, tidak sedikit orang-orang yang karena tidak sependapat, justru mencaci sosok yang pernah jadi ibu negara tersebut. Tentu saja, ini menjadi ironi di tengah fitrah keberagaman masyarakat Indonesia yang majemuk, yang ketika tidak bersepakat, bukannya mencoba memahami konteks pernyataan dan kemudian memberikan dalil bantahan dengan argumen yang sejuk dan menentramkan, tapi justru menyalahkan dan mencaci dengan membabi buta.

Dalam konteks tersebut, membumikan Islam moderat dengan jihad kebangsaan yang ramah sebagaimana yang dipraktikkan oleh Gus Sholah tentu harus benar-benar digalakkan. Jika tidak, harmoni kebhinnekaan yang susah payah dibangun oleh parah Founding Father Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tokoh bangsa lainnya akan mudah terkoyak. Sebab, akrabnya kalangan milenial dengan penggunaan media sosial membuat mereka menjelma menjadi sosok yang instan dan emosional. Jika menerima informasi, bukan konfirmasi terlebih dahulu yang didahulukan, justru comment, like and share meskipun tidak memahami akar permasalahannya. Di sisi lain, budaya mengedepankan viral dengan memootong pernyataan dan memplintirnya dengan informasi-informasi hoaks juga bisa berpotensi merapuhkan sendi-sendi keharmonisan NKRI.

Baca Juga : Momentum Harlah NU dan Agenda Moderasi Islam di Indonesia

Salahuddin Wahid pernah menyampaikan bahwa dalam kontes Indonesia saat ini, ada empat macam jihad yang perlu dilaksanakan (Amalianti, 2016): Pertama, mencerdaskan bangsa dengan cara mengembangkan kualitas pendidikan berbasis pesantren. Kedua, mengejar ketinggalan ekonomi Indonesia dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusia agar lebih berkualitas. Ketiga, melawan musuh Islam yang berusaha merusak generasi bangsa dari dalam, khususnya dari dalam tubuh Islam, serta Keempat, menegakkan keadilan di Indonesia atas kesadaran pemerintah.

Dari pendapat Gus Sholah tentang jihad kebangsaan tersebut, apabila kita benar-benar merealisasikannya dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, tentunya kita harus menjelma pribadi yang ramah terhadap perbedaan. Antarsesama umat beragama dan warga Indonesia tidak lagi terfokus pada perilaku saling menyalahkan satu sama lain. Justru semua saling bahu-membahu menciptakan keadilan sosial, membangun kompetensi diri, serta meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di kancah dunia. Ini penting untuk diwujudkan sebagai prasyarat menjadi bangsa yang berdikari, maju, dan beradab.

Akhirnya, selamat jalan guru bangsa. Kami bersaksi bahwa engkau orang yang baik yang layak menjadi teladan seluruh masyarakat Indonesia. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Kami akan selalu mengenang jasamu dan meneruskan kiprahmu dalam membumikan jihad kebangsaan demi menyongsong terwujudnya cita-cita NKRI. Semoga! Wallahu a’lam.

Facebook Comments