Otoritarianisme: Kritik Khalid Abou el-Fadl Terhadap Para Pembajak Agama

Otoritarianisme: Kritik Khalid Abou el-Fadl Terhadap Para Pembajak Agama

- in Suara Kita
59
1
Ilustrasi

Tindakan terorisme sering diklaim oleh para pelakunya sebagai kehendak Tuhan. Menurut mereka, apa yang mereka lakukan sudah sesuai dengan “kemauan” Tuhan. Bukan hanya sesuai dengan kemauan Tuhan, tetapi memang itulah tujuan dari teks wahyu yang diturunkan Tuhan.

Mengklaim bahwa penafsiran –sebagai basis dari tindakan dan dan perilaku –sudah sesuai dengan kehendak, kemauan, dan tujuan Tuhan dalam bahasa Khalid Abou el-Fadl disebut sebagai otoritarianisme.

Kritik Abou el-Fadl ini muncul, karena banyak para penafsir agama (baca: pemuka agama) yang mendaku dirinya sebagai “juru bicara Tuhan.” Dengan penafsiran yang sangat diskriminatif terhadap perempuan, tidak toleran terhadap agama lain, dan kurang akomodatif terhadap keberagaman, para juru bicara Tuhan ini mengklaim bahwa: “inilah maksud Tuhan!.”

Teks agama sejatinya menerima berbagai macam interpretasi (multi-tafsir). Kerja penafsir adalah menggapai kehendak Tuhan melalui teks itu dengan berbagai syarat yang ketat. Meski teks membuka ruang yang luas, sang penafsir tidak boleh dengan gegabah –apalagi mendaku secara sepihak –bahwa penafsirannya-lah yang paling benar, yang lain salah. Sifat absolutisme harus dibuang jauh-jauh.

Juru Bicara Tuhan

Apa yang dikritik oleh Abou el-Fadl, persis itulah yang dilakukan oleh kaum radikal dengan aksi-aksi terornya. Dengan mengutip beberapa ayat yang sesuai dengan tujuan ideologis, mereka mendaku itulah maksud Al-Quran. Strategi pilih-pilih ayat menjadi  favorit.

Ayat-ayat kekerasan, teks-teks tentang perang, penggalan sejarah Nabi yang mengusir non-Muslim di Madinah, dijadikan preferensi dalam melancarkan aksi-aksi mereka.

Baca juga : Santri Milenial dan Resolusi Jihad Melawan Ekstremisme Agama

Pendekatan parsial dan otomistik terhadap teks menjadi andalan. Ayat Al-Quran dan Hadis Nabi diambil hanya bagian yang sesuai dengan kepentingan pragmatis. Anehnya, meski demikian, dengan bangganya mereka mendaku bahwa itulah maksud dari agama.

 Prilaku seperti ini sejatinya adalah perilaku para pembajak agama. Teks dibajak, makna teks direduksi, semangat agama dipelintir, term-term dalam agama dipersempit. Semuanya dilakukan demi tercapainya misi politik.

Lihat saja kaum Islamisme (Islam politik) itu. Ayat-ayat politik menjadi idola. Semua teks Al-Quran dipaksakan untuk kepentingan politik. Hizbut Tahrir (HT) mengklaim bahwa Al-Quran dan Sunnah Nabi sudah mewajibkan khilafah sebagai sistem politik umat Islam. Al-Quran dicaplok, Sunnah Nabi dipabrifikasi. Kaum radikalis juga demikian, sisi-sisi kekerasan ditonjolkan seolah-olah itulah inti dari agama.

Kerja-kerja interpretasi adalah kerja yang mulia. Akan tetapi menafsirkan teks agama –apalagi diikuti dengan kepentingan idologis –sembari mengklaim bahwa itulah sebenar-benarnya kehendak Tuhan sama dengan kita telah memposisikan  diri kita sama dengan Tuhan. Jika sudah demikian, ini sama saja kita sudah “merampas kehendak Tuhan.”

Kekerasan Atas Nama Tuhan

Aksi-aksi kekerasan, teror, pengeboman, perang, perusakan fasilitas publik yang dilakukan oleh para teroris lahir dari anggapan bahwa apa yang ia lakukan sudah benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Absolutisme melahirkan otoritarianisme. Otoritarianisme melahirkan aksi-aksi kekerasan atas nama Tuhan.

Keyakinan bahwa tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan kehendak Tuhan melahirkan sikap tidak merasa bersalah dan berkeyakinan ia tidak berdosa.

Kekerasan dengan membunuh manusia bukan suatu laknat, melainkan itu adalah perintah agama. Menyebarkan hoax, fitnah, serta ujaran kebencian bukan tindakan yang tidak biadab, melainkan diklaim sebagai tindakan yang beradab. Memusuhi  pihak lain yang tidak sesuai dengan kelompoknya bukan suatu azab, melainkan itu adalah nikmat.

Semua perilaku kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan tidak lahir dari ruang yang kosong. Semua itu lahir sebab ada keyakinan bahwa tindakan, perilaku dan aksi yang ia laksanakan sudah sesuai dengan maksud Tuhan.

Memonopoli kebenaran, mengenyampingkan pendapat dan penafsiran yang lain, mendaku paling benar, dan mengafir-sesatkan pihak lain yang berbeda, semua lahir dari keyakinan: “ Saya tahu apa yang dikehendaki oleh Tuhan, saya tahu apa yang dimaksud oleh teks.”

Otoritarianisme Menuju Otoritatif

Pembajakan terhadap agama –seperti yang dilakukan oleh kaum radikalis – menurut Abou el-Fadl bisa dicegah jika penafsiran itu digeser dari penafsiran otoritarianisme menuju penafsiran otoritatif. Otoritarian bersifat tertutup, otoritatif bersifat terbuka. Penafsiran yang pertama memonopoli kebenaran, sementara yang kedua membuka ruang dialogis dan mengakomodir keberagaman. Otoriter selalu represif, otoritatif selalu preskriptif.

Mencegah pembajakan agama ini bisa dilakukan dengan cara adanya negosiasi antara teks (wahyu), pengarang (Tuhan), dan Pembaca (manusia). Hubungan negosiasi ketiga unsur ini ditempuh dengan mempertimbangkan  tiga langkah yang diajukan oleh Abou el-Fadl, yakni kompetensi, penetapan makna, dan konsep perwakilan dalam Islam.

Pertama, kompetensi, yakni teks-teks yang memiliki kompetensi dinilai otoritatif. Sebaliknya, teks yang tidak memiliki kompetensi dianggap otoriter dan tidak mewakili suara Tuhan.

Kedua, penetapan makna. Dalam proses penetapan makna, maka antara teks, pembaca, dan pengarang harus bersifat seimbang dan proporsional. Tidak boleh pembaca mendominasi dan menganggap teks dan pengarang sudah “mati”. Dominasi salah satunya menimbulkan otoritarianisme.

Ketiga, perwakilan dalam Islam. Konsepsi agama yang menyatakan bahwa manusia adalah wakil Tuhan harus dimaknai secara proporsional, sebab kedaulatan mutlak hanya milik Tuhan, bukan manusia. Sikap yang mengklaim dan mendaku bahwa penafsirannya sudah sesuai kehendak Tuhan sama dengan merampas kedaulatan mutlak Tuhan.

Mempertimbangkan ketiga langkah ini bisa mencegah terjadinya pembajakan terhadap agama. Jika dalam proses penafsiran itu dilakukan secara jujur (honesty), penuh kesungguhan (diligence), menyeluruh (comprehensive), rasional (rationality) pengendalian diri (self-restraint), maka pembajakan agama itu bisa hilang dengan sendirinya.  

Facebook Comments