Pendidikan Karakter Pesantren: Menangkal Radikalisme ala Santri Milenial

Pendidikan Karakter Pesantren: Menangkal Radikalisme ala Santri Milenial

- in Suara Kita
197
0
Pendidikan Karakter Pesantren: Menangkal Radikalisme ala Santri Milenial

Sudah tak diragukan lagi kontribusi nyata pesantren dalam pembangunan pendidikan. Apalagi dilihat secara historis, pesantren memiliki pengalaman yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan (karakter) masyarakat. Lihat saja, pada awal sejarah perlawanan terhadap penjajah di Nusantara, yang dilakukan oleh kalangan umat Islam, terhitung sejak pengusiran Portugis dari Malaka yang dilakukan oleh Sultan Demak Adipati Unus pada tahun 1521, sejak saat itu lingkungan pesantren selalu menjadi basis perlawanan terhadap penjajah.

Pesantren berhasil mencetak karakter muslim pejuang, nasionalis, dan santun. Bahkan, saat ini beberapa pesantren telah mampu meningkatkan perannya secara mandiri dengan menggali potensi yang dimiliki masyarakat di sekelilingnya.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas. Kegiatannya terangkum dalam “Tri Dharma Pesantren” yaitu: 1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt; 2) Pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan 3) Pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara. Siradj (2014) menegaskan, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang genuin dan tertua di Indonesia. Eksistensinya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih survive dengan berbagai macam dinamikanya.

Alhasil, pesantren memiliki posisi strategis untuk turut mengawal pengembangan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia dalam praktik kehidupan dalam masyarakat.

Dalam proses pendidikan, internalisasi nilai-nilai budaya dan karakter merupakan salah satu upaya untuk mencegah akhlak buruk yang ditunjukkan oleh pengenyam pendidikan pesantren seperti berlaku tidak santun, memaksakan pendapat, bersikap intoleran terhadap kebhinnekaan, menyukai kekerasan, radikal, serta memukul orang yang berbeda dan hanya percaya pada kebenaran yang datang dari umat satu golongan.

Baca juga : Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara: “Jimat” Ampuh Tangkal Radikalisme

Fenomena ini marak terjadi hari mengingat penggunaan gawai smartphone yang demikian masif. Termasuk para santri milenial, mereka juga berpotensi terpapar radikalisme dari layar smartphone mereka masing-masing. Penyebaran ideologi radikal  yang beralih ke dunia maya dengan postingan narasi hoaks dan propaganda adu domba, membuat fenomena ini tidak dapat terbendung dan mulai menyentuh bilik-bilik pesantren. Hanya saja, pendidikan khas pesantren telah teruji menjadi penangkal radikalisme di kalangan para santri milenial.

Hampir di setiap ponpes (berhaluan ahlussunah waljamaah) selalu mengajarkan kitab Ta’limul ‘Alim wal Mutaalim. Kitab ini berisi pendidikan karakter bagi seorang pengajar dan pencari ilmu. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Artinya, orang yang memiliki karakter positif (baik) mesti memiliki pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan kebaikan. Hanya, moral knowing yang bersifat kognitif ini belum mampu menghantarkan mereka memiliki moral feeling dan moral behavior. Tumbuhnya motivasi berbuat baik  memerlukan teladan nyata orang-orang sekitarnya, terutama dari figur otoritas.

Di lingkungan pesantren, kiai merupakan figur otoritas bagi para murid (santri), sehingga patut ditiru. Mereka diyakini memiliki karakter sangat mulia di mata Tuhan dan manusia. Mereka selalu berusaha mengisi seluruh waktu mereka untuk berbuat kebaikan.

Selain memberikan teladan baik (uswatun hasanah) dalam kehidupan keseharian, kiai selalu memperhatikan perbuatan para santrinya. Selain memberikan reward kepada santri yang melakukan kebaikan, seorang kiai tak segan memberikan ta’zir (punishment) kepada santri yang berperilaku negatif. Kiai juga mengajarkan santrinya mandiri,  saling tolong menolong antarsesama, sederhana, penuh perjuangan, serta tawakal (pasrah kepada Allah).

Tak heran, jika adab dan ukhuwah selalu menjadi perhatian utama kalangan santri. Hal-hal tersebut wajar menjadi karakter santri, karena kehidupan santri yang sama-sama jauh dari sanak famili praktis telah membuka mata santri bahwa hidup itu saling membutuhkan (zoon politicon). Bukan saling menteror dan menyulut pertikaian.

Hal ini telah terbukti minimnya tindakan kriminal dan radikal di kalangan santri. Maka, sangat jarang bahkan tidak pernah kita temukan santri bertawuran antar santri. Di sisi lain, bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa santri yang menempuh pendidikan selama 24 jam ditanamkan kepedulian sosial yang tinggi. Seperti, membawa teman yang sakit ke klinik, bersih-bersih bersama (tandziful ‘am), pelaksanaan shalat berjemaah dan lain-lain.

Dari itu, pendidikan pesantren sebagai pusat pembentukan karakter muslim berakhlak mulia dan menjunjung tinggi persatuan, harus lebih mengintensifkan diri dalam pembangunan karakter muslim santun. Inilah karakter pendidikan khas pesantren yang tidak tergantikan. Melalui kiai, santri milenial belajar betapa akhlak lebih utama dari informasi dan pengetahuan yang didapat.

Mengingat, di era digital ini, baik informasi itu benar fakta ataupun keliru (hoax) begitu mudah didapat di kalangan santri yang masih belajar. Celakanya, jika informasi yang diakses adalah narasi Islam memukul dan adu domba, niscaya santri milenial akan menjelma menjadi pribadi intoleran dan berakhlak keras. Nah, disinilah kiai memegang peran sebagai tokoh prioritas dalam pendidikan khas pesantren yang mengajarkan akhlak dan keadaban, agar menjauhkan santri milenial dari paparan ideologi radikal yang marak beredar di internet.

Wallahu A’lam.

Facebook Comments