Peran Living Values Sekolah dalam Menanggulangi Intoleransi dan Radikalisme di Sekolah

Peran Living Values Sekolah dalam Menanggulangi Intoleransi dan Radikalisme di Sekolah

- in Suara Kita
230
1
Peran Living Values Sekolah dalam Menanggulangi Intoleransi dan Radikalisme di Sekolah

Intoleransi dan radikalisme menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Hal tersebut melahirkan adanya bibit-bibit ekstrimisme di sekolah. Adanya ekstrimisme tersebut berasal dari sikap intoleran atas keragaman dan realitas sosial di sekelilingnya.  Atas fenomena ini memunculkan pandangan pribadi dijadikan sebagai model yang dipaksakan kepada orang lain. Hal inilah melahirkan ekstrimisme.

Penelitian yang dilakukan Setara Institut menunjukkan bahwa mayoritas siswa dalam kisaran 61 % menunjukkan sifat toleran pasif. Jumlah tersebut dari 760 reponden. 35,7 % terindikasi intoleran pasif dan 2,4 % intoleran. Fenomena ini  merupakan tangangan yang berat di saat banyaknya sifat pasif terebut. Hal tersebut menjadi bibit ekstrisme juga sebagaimana pernyataan Einstein yang menyatakan lahirnya kejahatan bukan dari banyaknya orang yang berbuat jahat melainkan banyaknya orang yang mendiamkan.

Ragam ekstrimisme yang terjadi tidak saja lahir dari seorang laki-laki. Kecenderungan ekstrimisme pada perempuan juga meningkat. Hal tersebut sebagaimana rilis Institut for Policy Analysis  of Conflict tahun 2017. Bahkan dalam penelitian lain, menunjukkan bahwa usia antara laki-laki dan perempuan adalah sama di usia muda. Sebagaimana penelitian yang diliris oleh BNPT bahwa mereka yang terlibat terorisme adalah usia sekolah SMA dengan jumlah 63,6%. 47,3% di antaranya dalam usia 21-30 tahun.

Ragam bentuk ekstrimisme pun bisa beragam. Setidaknya ada dua bentuk yakni dengan kekerasan dan nir kekerasan. Kedua fenomena tersebut memiliki akibat yang sama lahirnya kekerasan.  Bentuk pertama dapat berwujud penyerangan, pengrusakan, pembakaran, pembunuhan, dan penghancuran total. Fenomena yang kedua ini dapat berbentuk ujaran kebencian, pengucilan, dan hasutan. Sehingga keduanya dapat melahirkan ekstrimisme.

Baca juga : Sekolah Mendidik Budi Pekerti, Bukan Mengajarkan Intoleransi

Fenomena data di atas sejalan dengan pendapat Einstein sebagaimana diungkap di atas. Upaya pendiaman atas fenomena ini juga harus dicegah. Pencegahan ekstrimisme dilakukan lewat penanggulangan melainkan juga lewat pencegahan lewat kesadaran sejak usia sekolah. Sehingga generasi yang baik adalah generasi yang toleran aktif yang mampu membendung kekerasan. Dalam hal tersebut setidaknya menjadikan ekstrimisme menjadi berkurang.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam menanggulangi fenomena di atas. Proses pembentukan generasi yang menyuarakan toleransi aktif dalam membendung ekstrimisme menjadi penting dalam hal ini. Sehingga setiap individu sangat bermakna dalam hal ini yaitu mampu menjadikan dalam bagian pembiasaan yang baik sehingga bibit dan akar ekstrimisme berkurang atau tidak lahir lagi.

Salah satu hal penting dalam hal ini adalah memanfaatkan living values di sekolah. Nilai kebaikan disekolah tersebut  dijadikan modal dalam perilaku dalam kehidupan kesehariannya. Generasi muda millenial yang masuk dalam katehori Generasi Z memiliki sifat yang terbuka namun dengan adanya sekat-sekat fisiknya menjadikan sifatnya berubah tidak terbuka lagi. Sehingga menjadikan kebiasaan akan terbuka penting adanya tanpa sekat-sekat yang menjadikannya berubah.

Living values sering disebut dengan istilah nilai-nilai dasar kehidupan. Apakah yang dimaksud istilah tersebut? Istilah tersebut dikenal dengan ragam kebiasaan yang secara universal dan umum selalu mendasari hubungan atau relasi yang baik dan harmonis antara manusia satu dengan yang lainnya yang berada sekitarnya. Biasanya, kebiasaan-kebiasaan tersebut sulit untuk ditemukan ketika pada kondis tertentu seperti di masa-masa kita saat ini dan mendatang. Demikian juga ketika terhimpit oleh sikap dan sifat manusia modern yang individualistis, hedonistis dan materialistis tidak akan mampu memperoleh nilai-nilai itu. Padahal, manusia itu adalah makhluk sosial yang memiliki akhlak yang luhur dan berbudi pekerti yang baik.

Tantangan tersebut di atas mengharuskan sekolah berperan lebih besar lagi. Selama ini hanya menyampaikan atau menttansfer  ilmu pengetahuan saja  harus merefleksikan ranah pendidikan yang komprehensif. Sebagaimana diungkapkan oleh UNESCO bahwa pembelajaran tidak hanya dalam transfer knowledge saja melainkan menuju hidup bersama (live together) dan beragam bentuk lainnya.

Setiap orang memiliki kebutuhan akan lingkungan dan perasaannya masing-masing. Setidaknya ada lima hal dalam hal ini yaitu peraaaan untuk disayangi, dipahami, bernilai, dihargai dan aman. Kelima hal tersebut menjadikan seserang nyaman di lingkungannya. Sehingga, komunikasi antara seseorang dapt berjalan dengan baik dan akan mengurangi hal-hal yang tidak baik seperti prasangka dan prejudice tertentu.

Nilai dasar dari kedamaian atau salam patut ditanamkan sejak dini.  Sehingga hasilnya dapat terlihat dalam perilaku kehidupannya sekarang. Ada 11 nilai dalam hal ini yang dapat ditanamkan. Kesebelas nilai tersebut adalah keejasama, damai, menghargai, kesederhanaan, tanggung jawab, kebebaaan, kejujuran, toleransi, kebahagiaan, kasih sayang, persatuan, dan rendah hati. Dengan mampu mewujudkan dalam kehidupan keseharian akan melahirkan sebuah bentuk kedamaian. Dalam buku lain, nilai itu jumlahnya 12 yaitu  kedamaian, penghargaan, kasih sayang, toleransi, kerendahan hati, kejujuran, kerjasama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, persatuan.

Beragam nilai ada salam di atas dapat dijadikan sebagai pedoman dalam berkehidupan di sekolah. Hakikatnya sekolah adalah masyarakat yang plural dalam konteks sekala kecil. Implikasi dari hal tersebut adalah di dalamnya terdapat beragam larar belakang, karakter, agama, dan suku. Selain itu juga ditemukan beragam kepentingan dan problemnya. Dengan kerjasama, damai, menghargai, tanggung jawab menjadi sebuah tatanan yang mampu menjembatani keberagaman dan memperkaya nilai kemanusiaan itu sendiri. Oleh karenanya upaya pencegahan atas  intoleransi dan kekerasan ekstrim tidak secara instan  melainkan dilakukan secara berkelanjutan dan terus menerus.

Beragam upaya lain dapat dilihat dalam modul yang diterbitkan oleh Kalijaga Instititute For Justice (KIJ) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam modul tersebut sudah dipraktekkan di beragam sekolah di Klaten dan hasilnya sangat memuaskan. Sehingga model di atas adalah bagian dari beragam isu yang ada dalam modul tersebut. Judul modulnya adalah Integrasi Nilai-nilai KEREN  berkarakter dalam Pembelajaran dan Budaya Sekolah. Modul tersebut ditulis oleh Rina Komaria dan kawan-kawan dan sebagai editornya Siti Ruhaini Dzuhayatin, Alimatul Qibtiyah dan Bayu Mitra A Kusuma.

Inti dari KEREN adalah singkatan dari Kenali dirimu, kenali temanmu. Kedua Empati pada Orang tua, guru dan temanmu. Ketiga Ramah dan senum selalu. Keempat Energi positif harus tetap dijaga dan kelima Nyatakan dalam Karya. Kelima hal terebut dapat mampu merubah intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa dengan baik. Dengan model KEREN tersebut siswa akan menjadi bagian kampanye toleransi dan melahirkan kegiatan yang baik di antara sesama. Dalam konteks ini persatuan di antara komponen bangsa dan negara terus berjalan dengan baik juga.

Living education sebagaimana tergambar di atas merupakan bagian ajaran Islam yang selalu diajarkan di pendidikan baik di pesantren maupun lembaga lainnya. Kelahiran living education yang jumlahnya 12 macam tersebut seperti dalam hal  kedamaian, penghargaan, kasih sayang, toleransi, kerendahan hati, kejujuran, kerjasama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, dan persatuan menjadikan relationship dan komunikasi di anatar siswa dan orang tua serta sekolah akan mampu menjadi penangkal intoleransi dan radikalisme. Sehingga, setiap orang siswa harus mampu menyuarakan tentang prinsip tersbeut dalam rangka hubungan kemanusiaan yang semakin baik. (MAS)

 

 

Facebook Comments