Romantisme Islam dan Cita Kemajuan Bangsa

Romantisme Islam dan Cita Kemajuan Bangsa

- in Suara Kita
221
1
Romantisme Islam dan Cita Kemajuan Bangsa

Diyakini bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab petunjuk moral yang komprehensif dan sempurna. Berasal dari langit untuk kebaikan manusia dan alam semesta. Kitab ini memberi kebebasan kepada umat manusia untuk mengatur hidupnya menuju kebahagiaan dan kecemerlangan lahir batin di atas landasan iman dan bingkai moral yang kukuh dan abadi. Itulah sampai sekarang diyakini bahwa al-Quran sangat relevan ditempatkan dalam setiap pergantian zaman. Sejarah sendiri juga sudah mencatat bahwa kitab ini tidak pernah dan tidak akan mengalami perubahan sejak pertama kali ia turun ke bumi pada abad VII Masehi sampai saat bubar dunia ini pada suatu masa kelak di akhir zaman.

Menurut al-Quran dalam surat al-Anbiyaa’, risalah Muhammad bertujuan untuk menciptakan sebuah kehidupan dan peradaban yang ramah di permukaan bumi. Tidak kami utus engkau (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Berdasarkan ayat ini, dan tentunya ada ayat lain, kedatangan Muhammad tidak saja untuk membahagiakan umat Islam, tapi juga untuk non-muslim dan mereka harus merasakan kebahagiaan itu tanpa mereka harus memeluk Islam.

Islam romantis seperti inilah yang senantiasa dirindukan di era digital sekarang ini, mengajak dakwah dengan  cara-cara yang beradab dan sopan. Cara-cara paksaan dan kasar sudah berlawanan dengan diktum Al-Quran. Bila mana mereka tidak bersedia menganut Islam, kita harus menghormati mereka dan bergaul secara baik dan saling menghormati. Sebab, inilah sebenarnya akar dari beragama, saling menjaga dan menebar ajaran yang menyejukkan.

Sepanjang sejarah Islam, hampir-hampir tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa orang Islam pernah memaksa pihak lain untuk menjadi Muslim. Kesaksian ini pernah pula dikemukakan oleh filsuf agnostik Inggris, Bertrand Russell dalam bukunya power; the Role of Man’s Will to Power in the World’s Economic and Political Affairs. Dalam buku ini , Russell melihat bahwa keberhasilan dan kemudahan penakluk Islam yang mula-mula dan stabilitas imperium yang mengikutinya ialah karena sikap toleransi umat Islam ini terhadap rakyat yang ditaklukkannya.

Tentunya dari sini bisa diambil benang merah, bahwasanya ajaran Al-Quran adalah risalah untuk membawa kebaikan kepada semua orang. Sebab, dengan nurani yang baik itulah, maka kiblat Islam yang sebenarnya bisa tersampaikan di era modern sekarang ini. Hingga tidak ada kesalahan pemaknaan, yang memang pada era sekarang ini, beberapa umat Islam menganggap dirinya benar dan yang dianut orang lain salah.

Baca Juga : Argumen Islam Moderat dalam Konteks Nusantara

Senada dengan itu, Syafii Maarif juga mengemukakan tentang Islam itu mengajarkan asas iman, asas kekeluargaan, dan asas keadilan. Kemudian Al-Quran juga amat mengambil berat perkara ilmu sebagai salah satu asas kecemerlangan hidup. Iman adalah sebuah potensi ruhani, maka ilmuwan yang bertugas membawanya ke alam konkret, sehingga ia menjadi aktual dalam sejarah. Asas iman dan ilmu yang berada di tangan umat yang cerdas dan kreatif akan melahirkan peradaban yang ramah dan anggun. Allah mengangkat beberapa tingkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu, demikianlah tegas Al-Quran dalam surah al-Mujaadilah.

Progress yang harus direalisasikan di era digital ini ialah mengembangkan sarana pendidikan dan pengajaran yang berasaskan konsep Islam yang benar. Islam tidak mengenal konsep dualisme; pendidikan agama dan sekuler yang dipertentangkan. Di mata al-Quran, tidak ada dimensi kehidupan manusia yang terlepas sinar wahyu. Melalui pusat-pusat pendidikan, kita akan dapat membangun generasi umat yang mempunyai budaya ilmu yang canggih, di samping menguasai cabang-cabang teknologi yang diperlukan untuk menopang kehidupan masa kini.

Memang jarak antara idealisme kita sebagai Muslim yang sadar dengan realitas pola kehidupan umat sekarang ini tampaknya cukup jauh. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang telah diberi iman, kita tidak boleh menyerah kepada keadaan yang pincang ini. kita diminta untuk terus berbuat dan berbuat tanpa penat, agar jarak antara cita-cita dan realitas kehidupan kolektif kita sebagai umat semakin mendekat. Inilah arena perjuangan yang penuh cobaan dan tantangan. Mungkin yang dapat kita perbuat hanyalah sedikit, tidak terlalu bermakna bagi perjalanan sejarah, tapi itu penting. Iman tanpa perbuatan (amal saleh) adalah iman tanpa kesan, tanpa implikasi dan itu bukan konsep iman menurut ajaran al-Quran.

Untuk itu, sudah seharusnya, Islam romantis di masa silam dimunculkan kembali. Kemudian disandingkan dengan kemajuan zaman di era modern sekarang ini. Hingga kita akan menemukan kesakralan yang baik dalam ajaran Islam yang sebenarnya. Manusia juga bisa memaknai bagaimana kiblat untuk menuju pada hakikat kebaikan yang sebenarnya. Pahami Islam seutuhnya kemudian cintai manusianya.

Facebook Comments