Sejarah Kejayaan Masa Lalu dan Imajinasi Bangsa Beradab

Sejarah Kejayaan Masa Lalu dan Imajinasi Bangsa Beradab

- in Suara Kita
388
2
Sejarah Kejayaan Masa Lalu dan Imajinasi Bangsa Beradab

Di tengah beragam permasalahan kebangsaan di tengah masyarakat seperti korupsi, hoaks, radikalisme, dan ketidakpuasan rakyat akibat harga-harga yang kian melambung naik, muncul fenomena kerajaan-kerajaan baru yang akhir-akhir ini viral di media sosial. Kerajaan Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Kerajaan Jipang di Blora, Sunda Empire di Bandung, Kerajaan Warteg Bahagia di Depok merupakan beberapa kerajaan yang baru muncul di awal tahun 2020. Meskipun era kerajaan-kerajaan nusantara telah usai, fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat teramat merindukan romantisme sejarah masa lalu kerajaan-kerajaan nusantara yang pernah membawa masa kejayaan daerah-daerah di nusantara.

Hanya saja, alih-alih pemunculan fenomena kemunculan kerajaan tersebut menawarkan visi membawa Indonesia kembali ke masa kejayaan yang pernah diraih, justru kerajaan itu menyampaikan sejarah dengan beragam muslihat yang ia buat. Sehingga, imajinasi yang bermula dari sang raja tersebut selanjutnya menjadi tipu daya dan imajinasi bagi para pengikutnya belaka. Dalam konteks tersebut, tampaknya kita perlu membuka lagi beberapa lembaran sejarah nusantara untuk dimanifestikan di era sekarang. Bahwa bukan hadirnya kerajaan yang membuat Indonesia bisa segera menyongsong kemajuan dan kejayaan, tapi spirit untuk menjadi warga negara yang taat, toleran, berjiwa nasionalisme tinggi, dan semangat enterpreneurship yang tinggi-lah yang menjadi kuncinya.

Jika berkaca dari sejarah-sejarah kejayaan nusantara, kemajuan mereka sebenarnya banyak dipengaruhi oleh pemanfaatan sektor maritim yang signifikan. Dari sanalah, rakyat Indonesia dapat berbondong-bondong melakukan ekspor rempah-rempah yang sangat laku di pasar internasional pada masa itu. Adanya komoditas tersebut bahkan yang selanjutnya menjadi alasan bangsa-bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk menguasainya. Tak heran, pada kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, dan Sriwijaya, masa keemasan ditandai dengan dijadikannya pelabuhan yang mereka bangun sebagai pusat perdagangan.

Disitulah pula terjadi proses pertukaran budaya antarbangsa yang saling terjadi transaksi jual beli. Ini sekaligus menjadi bukti betapa masyarakat kita teramat toleran. Bayangkan saja, masyarakat Indonesia pada saat itu menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, tapi ketika ada orang-orang dengan kepercayaan berbeda datang (baca: Islam, Hindu, Budha) datang, mereka dengan ramah menyambut mereka, bahkan banyak masyarakat yang melepas kepercayaan asli mereka dan memeluk kepercayaan baru yang dibawa oleh kalangan pendatang. Inilah potret betapa bangsa kita amat beradab. Di sisi lain, para raja dan ratu di kerajaan dahulu juga mempraktikkan pernikahan beda agama seperti yang dilakukan pasangan Pramodhawardani dan Rakai Pikatan dari kerajaan  Medang serta pasangan Ken Arok dan Ken Dedes dari Singasari yang beragama Hindu-Budha.

Baca Juga : Dari Kerajaan Nusantara Menuju Peradaban Dunia: Epifenomenologi Vs Historiografi

Lebih jauh lagi, Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan “Sumpah Palapa”, yang bercita-cita menyatukan bumi nusantara yang terdiri dari ribuan pulau. Ini menunjukkan bahwa semangat nasionalisme yang dianut oleh petinggi kerajaan sangat tinggi. Mereka tidak hendak memecah-belah warga negara dengan tipu muslihat sebagaimana imajinasi yang ditawarkan oleh kerajaan yang baru-baru ini muncul, justru menyatukan beragam perbedaan yang mendiami nusantara dalam wadah yang satu, yakni NKRI.

Maka itu, di tengah permasalahan kebangsaan yang kian pelik, romantisme kepada sejarah kejayaan masa lalu jangan ditumbuhkan dengan mendirikan kerajaan yang berpotensi membuat luka menganga pada kebhinnekaan NKRI yang telah matang berdiri. Sebab, dengan membuat serta mengikuti kerajaan baru di tanah pertiwi ini, kita hanya sama-sama terlena dengan imajinasi bangsa beradab. Dibalut dengan tipu daya yang diolah dengan demikian meyakinkan.

Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa di masa lalu kita bahkan telah memiliki karakter-karakter yang layak untuk menjadi bangsa beradab secara nyata. Bukan hanya imajinasi yang penuh tipu muslihat sejarah belaka. Dengan karakter-karakter tersebut, semestinya kita bisa kembali memiliki karakter-karakter masyarakat berkeadaban tersebut guna menyongsong Indonesia maju.

Ini penting untuk dipahami dan dilakukan. Sebab, di tengah viralnya kerajaan tersebut, nyatanya polarisasi identitas berbasis keagamaan dan ras juga kian menguat di bumi nusantara. Tak ayal, orang tanpa rasa bersalah bahkan menuding kelompok lain keliru dan dirinya benar. Tak jarang bahkan menyebarkan hoaks untuk melakukan provokasi di media sosial. Tentu saja, karakter tersebut tidak cocok ada di tengah kaum beradab. Jika kita tidak bisa mempraktikkan karakter beradab seperti pada masa kejayaan dulu dengan menjadi pribadi yang toleran dan ramah, bukankah berarti kita sedang mengalami kemunduran peradaban?. Wallahu a’lam.

Facebook Comments