Sindrom Romantisme: Antara Regresivitas dan Progresivitas Bangsa

Sindrom Romantisme: Antara Regresivitas dan Progresivitas Bangsa

- in Suara Kita
398
0
Sindrom Romantisme: Antara Regresivitas dan Progresivitas Bangsa

Berbagai peristiwa sosial yang mengemuka belakangan ini -terutama kemunculan sejumlah kerajaan fiktif di berbagai wilayah Indonesia- menandai munculnya gejala “sindrom romantisme”. Terminologi romantisme pertama kali dikenal dalam ranah tradisi filsafat, yang akhirnya menjadi cabang atau aliran tersendiri dalam dunia filsafat. Filsafat romantisme bisa dibilang merupakan anti-tesis dari aliran filsafat rasionalisme dan empirisme.

Jika filsafat rasionalisme, lebih mengedepankan akal atau rasio sebagai alat pencarian dan sumber kebenaran, sedangkan empirisme lebih menekankan pencarian kebenaran pada fakta-fakta empiris yang bisa diakses oleh panca indera, maka filsafat romantisme berusaha melampaui kecenderungan kedua aliran tersebut. Filsafat romantisme lebih menekankan pengalaman sehari-hari yang intuitif dan imajinatif sebaga alat untuk mendekati realitas dan mengungkap kebenaran.

Dalam banyak hal, romantisme cenderung menolak fakta argumentatif yang disodorkan akal dan juga menganulir kebenaran faktual yang ditangkap oleh panca indera. Sebagai gantinya, aliran romantisme lebih bertumpu pada epistemologi intuitif dalam memahami realitas dan kebenaran.

Dalam perkembangan selanjutnya, aliran romantisme tidak hanya berkembang di ranah filsafat, namun juga merambah pada wilayah sastra, sejarah, politik dan ranah ilmu sosial lainnya. Di ranah sastra, kemunculan sastra romantik ditandai dengan kemunculan karya-karya sastra yang mengeksplorasi sisi terdalam kehidupan manusia yang disuguhkan dengan gaya melodramatik, emosional dan reflektif.

Sementara dalam konteks ilmu sosial, romantisme sebagai sebuah aliran atau cara pandang kesejarahan mulai muncul pasca revolusi industri (abad ke-19) yang menimbulkan banyak problem sosial-politik seperti kesenjangan sosial dan kerusakan alam dan lingkungan hidup. Romantisme sebagai sebuah gerakan intelektualisme berusaha menawarkan cara pandang baru yang cenderung anti para nalar modernisme dan turunan-turunannya.

Baca Juga : Absurditas Media Sosial dan Buntunya Nalar Kritis Publik

Gerakan intelektual berkarakter romantisme dapat dicirikan ke dalam setidaknya empat hal. Pertama, imajinatif yakni berpikir dan berperilaku yang cenderung teatikral, bahkan acapkali berbeda dengan kehidupan publik pada umumnya. Kedua, subyektif, yakni sikap berpikir yang lebih menitikberatkan pada pertimbangan pribadi atau kelompok secara terbatas.

Ketiga, emosional, yakni model berpikir dan bertindak yang lebih mengedepankan aspek pengalaman personal dan perasaan ketimbang aspek rasionalitas maupun fakta empiris. Keempat, simbolistik yaitu berpikir dan berperilaku dengan menonjolkan elemen simbol dan perumpamaan yang boleh jadi bertentangan dengan akal sehat publik.

Dua Sisi Paradigma Romantisme

Dari pembahasan sekilas tentang romantisme di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa apa yang mengemuka belakangan ini merupakan bagian dari gejala sindrom romantisme. Munculnya sejumlah kerajaan fiktif yang ironisnya dipercayai oleh sebagian kecil masyarakat adalah bukti bahwa ada gejala delusi (kegilaan) dan halusinasi (waham) yang melanda sebagian masyarakat. Dua hal tersebut, yakni delusi dan halusinasi merupakan bagian dari paradigma romantisme.

Sebagai sebuah paradigma, romantisme sebenarnya tidak selalu berkonotasi negatif. Sebagai sebuah cara pandang dan cara sikap, romantisme memiliki kemungkinan mengarahkan manusia pada regresivitas (kemunduran) namun juga potensil mengarahkan manusia pada progresivitas (kemajuan). Selama ini, harus diakui bahwa paradigma romantisme cenderung menjerumuskan manusia pada sikap dan pemikiran regresif.

Hal ini disebabkan karena romantisme cenderung mengajak manusia melihat ke belakang, mengglorifikasi masa lalu sebagai masa paling ideal sekaligus menganggap kejayaan masa lalu sebagai sebuah standar bagi masa depan. Cara pandang romantistik yang demikian itu jelas regresif lantaran tidak memberikan ruang inovasi pada manusia untuk menatap masa depan dengan optimisme dan kreativisme.

Ibarat seseorang yang tengah mengendarai mobil, paradigma romantisme cenderung mengajak pengemudi untuk senantiasa melihat kaca spion, menengok ke belakang terus-menerus dan justru abai pada hala-tuju yang ada di depan. Perilaku mengemudi yang demikian ini jelas berbahaya. Bagamanapun juga, keberadaan kaca spion, hanyalah alat bantu untuk melihat ke belakang secara sekilas.

Begitu pula masa lalu, yang idealnya kita posisikan sebagai artefak tempat kita belajar segala sesuatu demi meraih masa depan yang lebih baik. Sejarawan Edward Palmer Thompson dalam bukunya William Morris: Romantic to Revolutionary berujar bahwa “tidak bijak kiranya upaya mengulang sebuah masa keemasan atau kejayaan di masa lampau, karena momentumnya telah lewat. Sebaik-baiknya upaya manusia ialah kembali menciptakan momentum yang baru demi terciptanya era kejayaan dan keemasan”.

Namun, di sisi lain paradigma romantisme juga potensial melahirkan progresivitas, yakni gerakan yang secara aktif dan optimistik berusaha mewujudkan masa depan yang lebih baik. Nalar romantisme dalam banyak hal tidak selalu mengarahkan manusia pada kemunduran atau kejumudan. Syaratnya ialah kita harus memahami masa lalu bukan sebagai sebuah standar pencapaian melainkan sebuah pelajaran dan pengingat yang harus terus-menerus dirawat.

Jika kita menerapkan masa lalu sebagai sebuah standar, maka yang terjadi adalah ketidakcocokan standar masa lalu dengan standar masa kini sebagai akibat dari adanya jarak ruang dan waktu yang memisahkan keduanya. Dalam konteks kemunculan kerajaan-kerajaan fiktif misalnya, klaim bahwa kerajaan-kerajaan itu meneruskan era kejayaan Majapahit dan Sriwijaya jelas merupakan sebuah halusinasi-romantik yang sulit diterima akal sehat.

Masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit telah usai, seiring usainya pula era monarki di dunia. Saat ini, dunia tengah mengalami fase baru peradaban, yakni era globalisasi yang ditandai dengan keberadaan negara-negara bangsa. Berbeda dengan era monarki, kejayaan negara-bangsa di era globalisasi ini tidak ditentukan oleh seberapa luas wilayahnya, melainkan seberapa kuat pengaruh negara tersebut di bidang ekonomi, politik dan sosial-budaya dalam kancah pergaluan internasional.

Dalam konteks inilah kita bisa melihat bagaimana negara sekecil Israel misalnya, mampu menjadi pemain utama dalam percaturan ekonomi dan politik dunia. Bukan karena luas wilayahnya yang besar, namun lebih karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tentunya strategi diplomasi internasionalnya.

Maka, bagi manusia yang hidup di Indonesia modern ini, tidaklah relevan untuk berupaya mengulang kejayaan dan keemasan era kerajaan di masa lalu. Lantaran momentumnya sudah berlalu dan nyaris mustahil diciptakan kembali. Apa yang urgen dan relevan dikembangkan oleh masyarakat Indonesia hari ini ialah menggali secara serius nilai dan prinsip apa saja yang dikembangkan oleh nenek moyang Nusantara di masa lalu sehingga mereka berhasil meraih kegemilangan dan kejayaan.

Warisan nilai dan prinsip kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur Nusantara itulah yang harus kita gali dan kembangkan serta kita jadikan modal untuk meraih kejayaan bangsa di era globalisasi ini. Jadi bukan menghidupkan kembali era kerajaan dengan seragam dan simbol serta klaim-kliam bombastis yang justru memantik tertawaan publik.

Sejarwan Yunani Kuno, Herodotus menyatakan bahwa “sejarah tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya, namun, pola sejarah akan terus berulang”. Artinya, sebuah peristiwa yang sama tidak akan terulang untuk kedua kali, apalagi ketiga dan seterusnya. Namun demikian, momentum, latar belakang dan motifasi yang melatari terjadinya peristiwa itu niscaya akan terus berulang layaknya sebuah siklus.

Dalam bahasa yang sederhana, kita mengenal pepatah “hidup seperti roda berputar, ada masanya di atas, namun tiba pula giliran di bawah”. Kita memang tidak mungkin bisa mengulang kondisi kegemilangan di era masa lampau, terutama pada masa kerajaan Majapahit dan Sriwijaya secara persis. Namun, kita bisa meraih kejayaan Indonesia modern di level global dengan mengembangkan spirit nilai dan prinsip yang diwariskan oleh dua peradaban besar di masa lalu tersebut.

Facebook Comments