Spirit Kemajuan Masa Lampau

Spirit Kemajuan Masa Lampau

- in Suara Kita
127
1
Spirit Kemajuan Masa Lampau

Nusantara merupakan wilayah yang penuh dengan nostalgia kemajuan pemerintahan. Dari bidang ekonomi, budaya, dan pemerintahan, kerajaan di Nusantara selalu menampakkan kemajuannya. Maka jika di masa sekarang terdapat kelompok masyarakat yang merindukan beragam kemajuan sebagaimana tersebut di atas adalah bukan perkara yang aneh.

Kondisi akan “nikmatnya” nostalgia zaman dahulu sering kali disalahgunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Dengan adanya kejayaan di masa lampau, para oknum menggorengnya sehingga rakyat menjadi tidak puas dengan keadaan zaman sekarang. Alhasil, para oknum bisa menyetir masyarakat sehingga mereka tidak terasa masuk ke dalam lingkaran jerat berbagai kejahatan. Masyarakat yang masuk ke dalam jeratan akan diperdaya sehingga tidak berdaya apa-apa demi kepuasan para oknum.

Kabar teranyar di zaman modern ini adalah adanya sekelompok anggota masyarakat yang mengklaim adanya Keraton (abal-abal) Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah. Keraton ini dipimpin oleh Toto Santoso (sebagai raja) dan Fanni Aminadia (sebagai ratu). Uniknya, Toto mendirikan kerajaan ini berbekal pada fantasi. “(Tersangka Toto) sudah mengaku bersalah dan yang dikatakan dapat wangsit itu hanya khayalan dia,” kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes (Pol) Iskandar Fitriana Sutisna, kepada wartawan di ruang kerjanya (Detik.com, 26/01/2020).

Ontran-ontran kemunculan Keraton Agung Sejagat oleh Toto Santoso dan Fanni Aminadia mendapat sambutan sebagian kelompok masyarakat. Mereka juga bermimpi untuk bisa lebih sejahtera dengan “bergabung” dengan kerajaan tersebut. Mereka tidak berpikir panjang ketika pimpinan menarik uang sehingga mereka mendapat “posisi” di kerajaan tersebut. Polisi menemukan ada aliran uang Rp 1,4 miliar ke rekening Raja Keraton Agung Sejagat (Detik.com, 26/01/2020). Aliran dana ini berasal dari anggota yang setiap kali ada pemasukan segera ditarik.

Baca Juga : Kelam Zaman Masyarakat Tontonan

Kenyataan betapa sebagian masyarakat terkena tipu daya Raja Keraton Agung Sejagat lantaran mereka merasa “tidak puas” dengan keadaan saat ini. Mereka merasa betapa kehidupan zaman sekarang merupakan kehidupan yang tidak lebih baik daripada kehidupan zaman dahulu. Untuk itulah, mereka merasa nyaman dengan adanya “kemunculan” Keraton Agung Sejagat sebagai solusi atas kehausan akan zaman dahulu. Dengan adanya Keraton Agung Sejagat, mereka berhadap nostalgia manis zaman dahulu akan bisa dirasakan kembali.

Namun demikian, tidakkah masyarakat yang terkena tipu daya raja Keraton Agung Sejagat adalah orang-orang zaman sekarang yang belum pernah merasakan hidup di masa kerajaan (semisal Majapahit)? Tidakkah dalam sejarah sering dikisahkan betapa zaman dahulu juga tidak sedikit masyarakat yang tertindas, kurang makan, dan lain sebagainya. Artinya apa? Di zaman dahulu tidak selamanya lebih baik daripada kehidupan sekarang. Bisa saja kehidupan zaman sekarang lebih nyaman daripada hidup zaman dahulu.

Spirit kemajuan zaman dahulu mesti disikapi dengan arif. Kita mengenal adagium Arab “al-muhafazatu ‘ala qadimi as-shalih wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah (melestarikan tradisi baik di zaman dahulu dan mengambil tradisi lebih baik di zaman baru)”. Ketika pada masa kerajaan zaman dahulu terdapat kebaikan semisal budaya, maka tradisi ini mesti diuri-uri. Namun, jangan sampai inovasi di masa sekarang yang lebih baik mandek lantaran nguri-uri yang lama. Sembari nguri-uri tradisi baik di zaman dahulu, mestinya dibarengi dengan adanya beragam inovasi yang mampu mengubah tatanan zaman ke arah yang lebih baik.

Jangan sampai adanya keinginan sesaat justru mengakibatkan diri dan keluarkan terjebak dalam jeratan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Dalam menuruti kehendak hati mesti ada pertimbangan manfaat, apakah memiliki nilai positif ataukah tidak. Jika memiliki nilai positif, maka bisa dipertimbangkan. Namun, jika kehendak tersebut bernilai negatif, maka mesti dihindari.

Wallahu a’lam.

Facebook Comments