Tantangan Media Mainstream di Era Digital

Tantangan Media Mainstream di Era Digital

- in Suara Kita
462
1
Tantangan Media Mainstream di Era Digital

Era digital tidak selamanya membawa dampak positif terhadap masyarakat. Ada juga dampak negatif yang menjadi tantangan bersama, salah satunya adalah tergerusnya eksistensi media massa (cetak) bagi khalayak. Dalam penelitiannya, Satria Kusuma (2016) menuliskan bahwa pesatnya perkembangan internet telah mendorong masyarakat untuk mengakses media online secara mudah melalui handphone, atau gadget. Media cetak mulai terancam keberadaannya, pembaca setia media cetak kemungkinan akan beralih ke media online.

Saat ini, media online bukan lagi menjadi impian yang muluk-muluk bagi masyarakat. Mayoritas generasi muda dan tua menggunakan media ini untuk mendapatkan informasi, hiburan, atau bahkan saling bertukar kabar. Media online sangat mudah dan murah didapat. Untuk itu, media ini menjadi pilihan utama masyarakat menggantikan media massa yang lama.

Sementara, media massa (cetak) mesti membeli dengan harga yang cukup mahal (jika dibandingkan dengan media online), cara mendapatkannya pun lebih sulit dan lama, serta tidak sepraktis media online dalam membawanya. Sehingga, bukan tidak mungkin masyarakat berbondong-bondong beralih menggunakan media online dengan meninggalkan media massa (cetak).

Di saat itulah media massa cetak mendapat tantangan tersendiri. Lebih-lebih media online tidak selamanya menyuguhkan informasi yang valid dan terverifikasi. Banyak informasi hoaks serta tipu muslihat berseliweran di media online. Padahal, masyarakat kita tidak selamanya cakap dalam memfilter informasi yang ada. Dengan adanya beragam informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ini sering kali menyebabkan perang saudaran di antara pengguna media online.

Tidak sedikit masyarakat yang paham bahwa terdapat kelompok tertentu yang memiliki agenda khusus dengan memanfaatkan media online. Mereka tidak memperdulikan nasib pengguna media online akan tenteram atau tidak, yang dipikirkan adalah cara agar agenda yang diimpikan dapat terwujud.

Baca Juga : Gerakan Literasi Cinta Damai Berbasis Masjid

Bermula dari sini, mereka menggunakan buzzer untuk menguasai media online sehingga masyarakat tergiring ke dalam perangkapnya. Dan tanpa sadar, masyarakat pun akan masuk terperangkap ke dalam kubangan yang telah disiapkan. Uniknya, masyarakat merasa enjoy saat mereka telah terjerumus ke dalam lembah yang sangat sesat. Mereka seakan tidak merasakan bahwa dirinya tersesat.

Dalam pada itulah, media massa mainstream dituntut untuk bisa melaksanakan tugas utamanya sekaligus berinovasi agar menarik minat masyarakat. Meda massa sebenarnya memiliki beberapa fungsi utama. Menurut Laswell, sebagaimana dikutip Abdul Pirol (2018), salah satu diantara fungsi utama media massa adalah the correlation of the parts of society in responding to the environment. Artinya, media massa berfungsi untuk melakukan seleksi, evaluasi dan interpretasi dari informasi. Dalam hal ini, peran media massa adalah melakukan seleksi mengenai apa yang perlu dan pantas untuk disiarkan.

Jangan sampai media massa mainstream justru terperangkap ke dalam arus yang disiarkan media online. Ketika di media online viral, maka media massa mainstream mengekor memberitakan tanpa memverifikasi kebenarannya. Media massa mainstream mesti menjadi penyeimbang sehingga masyarakat memiliki referensi utama dalam mendapatkan informasi yang valid.

Tugas mulia ini tentu sangat berat dijalankan oleh awak media massa mainstream. Namun, jika mereka bekerja dengan professional, fa insyaallah pekerjaan yang dilakukan tidak akan sia-sia. Bagaiamana pun, masyarakat tidak selamanya membutuhkan kemudahan dan kecepatan, namun juga kevalidan informasi untuk menjadi acuan perjalanan hidup.

Wallahu a’lam.

Facebook Comments