Minggu, 19 Januari, 2020
Informasi Damai
agama

agama

Generasi Bodo dan Gendeng

Generasi Bodo dan Gendeng
Suara Kita
Dalam sepekan ini jagat maya mencatat penelusuran tertinggi di Indonesia adalah seputar sepak bola, korupsi, keraton sejagat di Purworejo, dan yel-yel Islam yes kafir no di kota pelajar Yogyakarta. Penelusuran serupa juga menjadi tranding 10 besar (16 Januari 2020) di Youtube. Bola tentu menjadi hiburan terbesar di dunia, sehingga selalu menjadi prioritas penelusuran sebagian besar warganet. Korupsi, meski telah disepakati bersama sebagai kejahatan kemanusiaan, masih saja kita dikejutkan dengan ulah ...
Read more 0

Mewaspadai Paham Radikalisme Agama di Sekolah

Mewaspadai Paham Radikalisme Agama di Sekolah
Suara Kita
Jagad media kembali dihebohkan oleh berita tentang pembina pramuka yang mengajari anak-anak SDN Timuran, Yogyakarta, menyanyikan yel-yel “Islam, Islam Yes, Kafir, Kafir No!”, Jumat (10/1/20). Akibat peristiwa ini, sontak membuat beberapa orang protes, baik tidak langsung melalui saluran media sosial, maupun langsung, sebagaimana yang dilakukan oleh perwakilan ibu dari anak di sekolah tersebut. Apa yang dilakukan oleh pembina pramuka itu mencerminkan sikap eksklusivisme secara personal, dan coba “ditularkan” kepada siswa/i ...
Read more 0

Pendidikan Moderasi, dan Literatur Pro-Keberagaman

Pendidikan Moderasi, dan Literatur Pro-Keberagaman
Suara Kita
Pendidikan sejatinya membuat manusia lebih menghargai perbedaaan dan memahami keragaman. Sekolah mengarjakan keterbukaan, moderasi, dan kedamaian, bukan ketertutupan, ekstrim, dan kekerasan. Akan tetapi fakta di lapangan, sekolah justru tidak streril dari wabah intoleransi dan virus radikalisme. Sejumlah penelitian menunjukkan pada satu setu kesimpulan –yang hampir disepakati—bahwa intoleransi dalam dunia pendidikan semakian meningkat. Mulai dari menolak pemimpin beda agama, tidak mau menghormat bendera, pewajiban jilbab, sampai yang terang-terangan mendukung khilafah. Masuknya ...
Read more 0

(Re)-Aktualisasi Rohis sebagai Media Toleransi di Sekolah

(Re)-Aktualisasi Rohis sebagai Media Toleransi di Sekolah
Suara Kita
Rohis (Rohani Islam) di setiap sekolah menengah sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan sebagai penunjang kegiatan siswa. Rohis merupakan kegiatan ekstrakurikuler dalam bidang dakwah yang cukup banyak peminatnya di sekolah. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan, bahwa Rohis di banyak sekolah menjadi pusat penyemaian intoleransi dan menjadi media penyebaran paham keagamaan radikal-konservatif di sekolah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian dari PPIM UIN Jakarta dan UNDP Indonesia (2018), dalam ranah ...
Read more 1

Ancaman Segregasi Sosial di balik Slogan “Islam Yes, Kafir No”

Ancaman Segregasi Sosial di balik Slogan “Islam Yes, Kafir No”
Suara Kita
Slogan “Islam Yes, Kafir No” menjadi perbincangan hangat publik. Bermula dari kejadian di SDN Timuran Kota Yogyakarta, ketika seorang pembina Pramuka mengajarkan yel-yel anak soleh yang diakhiri dengan kalimat “Islam Yes, Kafir No”. Salah seorang wali murid yang mendengarnya pun mengadukan hal itu ke pihak sekolah. Kabar itu pun sontak viral di tengah masyarakat. Bagi orang yang 10 tahun terakhir tinggal di Yogkarta, yel-yel anak soleh yang disisipi slogan “Islam ...
Read more 1

Mencegah Intoleransi dengan Konsep Pendidikan Tan Malaka

Mencegah Intoleransi dengan Konsep Pendidikan Tan Malaka
Suara Kita
Pendidikan merupakan tuntunan di dalam hidup anak-anak, artinya pendidikan akan menuntun segala kekuatan kodrat pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatkan mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Hidup tumbuhnya anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak itu segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir. Terlihat dari pemikiran di atas bahwa anak ...
Read more 1

Menghalau Intoleransi dari Dunia Pendidikan

Menghalau Intoleransi dari Dunia Pendidikan
Suara Kita
Praktek intoleransi semakin meningkat di lingkungan sekolah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita acap kali terinfeksi oleh intoleransi agama. Survei Kemenristekdikti menyebutkan 23,4 persen siswa SMA siap berjihad menegakkan khilafah islamiyah. BIN dalam survei 2017, menyebut sebanyak 39 persen dari 15 provinsi terpapar radikalisme. Semua penelitian menunjukkan, bahwa sejak 2016 intoleransi agama di sekolah semakin meningkat. Adalah suatu fakta, bahwa  radikalisme di dunia modern itu bersifat acak, global, dan ...
Read more 2

Mencegah Intoleransi di Sekolah

Mencegah Intoleransi di Sekolah
Suara Kita
Manusia yang tercerahkan, bukan manusia yang merendahkan. Itulah salah satu output utama dari proses penyelenggaraan pendidikan. Baik pendidikan di sekolah, maupun pendidikan di rumah. Manusia yang telah mengalami pencerahan niscaya akan memancarkan kebaikan dalam kesehariannya. Dia menjadi sumber inspirasi dan teladan. Sebaliknya, pendidikan yang gagal akan menciptakan manusia-manusia yang gemar merendahkan. Ilmu yang didapatkan bukan semakin mendekatkan dirinya kepada tuhan sehingga bisa mengimplementasikan sifat-sifat tuhan. Tetapi justru menjadikannya sebagai orang ...
Read more 1

Menyoal Tepuk Pramuka ‘Islam Yes, Kafir No’

Menyoal Tepuk Pramuka ‘Islam Yes, Kafir No’
Suara Kita
Seorang pembina Pramuka mengajarkan yel-yel bernuansa agama ketika praktek kursus mahir lanjutan (KML) yang diadakan Kwarcab Pramuka Kota Yogyakarta di SD Negeri Timuran, Kota Yogyakarta pada Jumat (13/1), sebagaimana diberitakan Kumparan (13/1). Diketahui bahwa yel-yel tersebut adalah dalam bentuk tepuk pramuka Islam Yes, Kafir No. Meskipun yel-yel tersebut spontanitas dari salah satu pembina Pramuka, tetapi peristiwa ini cukup berpotensi menumbuhkan benih-benih intoleransi. Intoleransi dalam lembaga pendidikan perlu mendapatkan perhatian khusus, ...
Read more 1

Yang Berisik, Yang Berbisik: Seni Sebagai Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Yang Berisik, Yang Berbisik: Seni Sebagai Pendidikan Toleransi Sejak Dini
Suara Kita
Dalam khazanah budaya Jawa, toleransi sering disepadankan dengan istlah “tepa slira” atau lebih tepatnya “tepa sarira.” Istilah ini sebenarnya lebih mengacu pada sebentuk sikap untuk tahu diri, tepa berarti kenal dan sarira berarti diri. Secara normatif hal ini berkaitan dengan kesadaran akan orang lain yang akan tumbuh ketika orang sadar akan diri sendiri. Tentang tepa sarira atau sikap etis mengenal diri sendiri yang berujung mengenal orang lainnya dan teranyamnya keberagaman ...
Read more 0
Translate »