Utopia Romantisme, Krisis Peradaban dan Terobosan Masa Depan

Utopia Romantisme, Krisis Peradaban dan Terobosan Masa Depan

- in Suara Kita
299
1
Utopia Romantisme, Krisis Peradaban dan Terobosan Masa Depan

Manusia adalah makhluk romantik, yang tidak pernah bisa lepas dari masa lalu, apalagi yang berhubungan dengan kisah kejayaan. Kisah-kisah kepahlawanan selalu didaur ulang sebagai semacam petuah. Cerita kejayaan nenek-moyang diwariskan turun-temurun sebagai semacam heroisme. Kisah-kisah itu dikonstruksikan sedemikian rupa sebagai sebuah standar ideal.

Dalam konteks Islam misalnya, golongan tertentu meyakini era Nabi Muhammad sampai kekhalifahan merupakan fase paling ideal dalam peradaban Islam. Sebaliknya, era modern dianggap sebagai fase paling kelam bagi dunia Islam. Berdasar asumsi itu, muncul gerakan mengembalikan Islam ke masa kekhalifahan. Sebut saja misalnya Hizbut Tahrir yang beranggapan kejayaan Islam hanya bisa diraih dengan mendirikan kekhalifahan Islam dan menerapkan hukum syariah secara formal seperti dipraktikkan di masa silam.

Meski dalam bentuk berbeda, kemunculan sejumlah kerajaan di Indonesia belakangan ini tampaknya juga memiliki spirit yang kurang lebih sama dengan gerakan pengusung ide khilafah islamiyyah. Bermunculannya sejumlah kerajaan fiktif antara lain, Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire dan belakangan Negara Rakyat Nusantara bisa dibaca dari dua sisi. Pertama, hal itu barangkali merupakan bentuk kekecewaan terhadap sistem demokrasi dan kapitalisme yang dalam banyak hal belum berhasil menyejahterakan masyarakat.

Kedua, fenomena ini juga bisa dipahami sebagai sebuah bentuk kerinduan terhadap kejayaan masa lampau. Manusia Indonesia, terlepas dari latar belakang keagamaan dan kesukuannya, hampir bisa dipastikan memiliki memori tentang kejayaan Nusantara di masa lalu. Entah itu didapat dari bacaan, atau kisah yang dituturkan secara lisan. Kisah tentang Majapahit dan Sriwijaya yang memiliki wilayah yang sangat luas, ditambah dengan angkatan militer yang kuat kadung tertancap dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia.

Pun juga kisah-kisah lain seperti betapa heroiknya Gajah Mada, atau betapa agungnya budaya Nusantara yang mampu mewarnai peradaban dunia serta kisah-kisah glorifikatif lainnya. Pendek kata, ada setumpuk kisah masa lalu yang mengendap di alam bawah sadar sebagian besar manusia Indonesia yang setiap saat bisa saja mewujud menjadi sebuah gerakan sosial-politik.

Kemunculan kerajaan fiktif dan sosok-sosok yang mengaku raja tentu bukan pertama kali di negeri ini. Sebelumnya, publik juga pernah dibuat geger dengan kemunculan sejumlah orang yang tidak hanya mengaku-aku sebagai raja, melainkan nabi, bahkan tuhan sekali pun. Berbagai komunitas yang dianggap menyalahi pakem sosial pun bermunculan, dengan berbagai varian cara pandang, motif dan tujuan. Semuanya timbul-tenggelam seiring berjalannya waktu dan tidak ada satu pun yang berhasil membuktikan klaim-klaimnya yang kerap bombastis tersebut.

Keluar dari Krisis Peradaban

Jika dibaca dari perspektif ilmu sosial, kemunculan peristiwa atau fenomena sosial yang dianggap menyimpang dari kelaziman publik adalah manifestasi dari adanya krisis di tengah masyarakat. Filosof Jerman Jurgen Habermas dalam Legitimation of Crisis (1988) mendefinisikan krisis sebagai sebuah situasi ketika struktur satu sistem sosial menawarkan pemecahan masalah yang lebih sedikit dari yang diharapkan bagi keberlangsungan sistem tersebut. Dalam pandangan Habermas, bentuk krisis itu bisa bermacam-macam, mulai dari krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis sosial.

Baca Juga : Romantisme Islam dan Cita Kemajuan Bangsa

Jika dibaca dari perspektif Habermas tersebut, kondisi Indonesia saat ini memang tengah berada dalam situasi krisis. Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 5 persen akibat perlambatan ekonomi global jelas berdampak pada kelompok masyarakat bawah. Kesenjangan ekonomi kian melebar, yang berakibat pada munculnya kecemburuan sosial. Dari sisi politik kita melihat praktik demokrasi yang terjadi selama pasca Reformasi ini belum sepenuhnya menyentuh wilayah subtansial, alih-alih hanya prosedural. Demokrasi langsung yang kita terapkan selama ini harus diakui belum berkorelasi langsung pada kesejahteraan sosial. Bahkan, sebaliknya demokrasi langsung justru melahirkan polarisasi seperti tampak dalam lima tahun terakhir ini.

Sedangkan dari perspektif sosial, kita tengah menghadapi derasnya gelombang krisis sosial yang mewujud pada renggangnya ikatan kebangsaan akibat menguatnya sentimen keagamaan, etnisitas dan golongan. Sekat-sekat ideologi agama, budaya dan cara pandang itu belakangan mulai menebal dan menimbulkan jarak pemisah antar individu dan kelompok. Alhasil, kekuatan kita sebagai sebuah bangsa cenderung rapuh dari dalam, mudah diintervensi oleh kekuatan luar dan dicabik-cabik dari dalam oleh kalangan sendiri. Termasuk salah satunya dengan kemunculan kerajaan-kerajaan fiktif yang membuat kisruh publik dan tentunya menyita energi bangsa.

Jika merujuk pada gagasan Thomas Kuhn tentang pergeseran paradigma (shifting of paradigm), kondisi Indonesia saat ini tengah mengalami anomali. Ketika dunia bergerak ke depan, dengan berbagai upaya untuk mengadaptasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan manusia, sebagian masyarakat masih belum lepas dari romantisme masa lalu. Pikiran mereka masih tertambat pada kisah-kisah kejayaan masa silam. Dalam situasi yang penuh anomali ini, diperlukan sebuah dekonstruksi cara pandang yang mampu mengubah pola pikir masyarakat ke arah yang futuristik, alias menuju masa depan. Jika tidak, anomali itu akan memuncak pada terjadinya krisis peradaban.

Krisis peradaban terbukti telah melahirkan fenomena yang disebut oleh Hazel Handerson sebagai bifurcation (kebimbangan). Publik mengalami kebimbangan, lantaran berada di persimpangan antara masa lalu yang diwarni kisah glorifikatif tentang kejayaan dan masa depan yang diselimuti ketidakpastian. Sebagian masyarakat memilih untuk hanyut dalam romantisme sejarah masa lalu, tanpa menyadari bahwa upaya kembali ke masa lalu adalah sebuah utopia alias kemustahilan. Romantisme masa lalu telah menjebak manusia ke dalam alam pikir halusinatif dan irasional.

Di tengah situasi yang demikian ini, kita membutuhkan sebuah terobosan (breakthrough) menuju masa depan. Istilah terobosan dipandang relevan untuk kondisi Indonesia saat ini ketimbang revolusi yang cenderung mensyaratkan adanya perubahan struktur politik. Terobosan menuju masa depan dapat dilakukan dengan mengonsolidasikan masyarakat agar melupakan utopia romantisme masa lalu dan menatap optimis ke depan sembari menyusun strategi meraih kejayaan.

Terobosan masa depan mensyaratkan setidaknya tiga hal. Pertama, pembenahan dari sisi manusianya. Diperlukan upaya radikal untuk membentuk karakter manusia Indonesia yang berorientasi pada masa depan, berani bekerja keras dan tidak mudah terbuai oleh gagasan utopis. Kedua, reformasi di bidang paradigma dan cara pandang manusianya agar lebih memprioritaskan pada nilai-nilai moral spiritual ketimbang hal-hal yang bersifat pragmatis. Nalar pragmatisme yang menguasai alam pikir sebagian besar masyarakat Indonesia harus diakui telah menjerumuskan kita pada kegemaran berpikir dan bertindak secara instan. Kita kerap terburu-buru dalam mengambil tindakan dan ingin memetick hasil sesegera mungkin. Nalar yang demikian ini menjadi celah masuknya paham dan gerakan yang tidak sesuai dengan aturan hukum dan kelaziman publik.

Terakhir ialah penguatan ideologi yang akan membentengi masyarakat dari tarikan yang mengajak kembali pada masa lalu. Secara definitif ideologi diartikan sebagai pegangan hidup untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Sederhananya, ideologi merupakan kendaraan manusia untuk mengantarkannya ke cita-cita dan agenda yang akan diraihnya di masa depan. Sifat ideologi adalah selalu berorientasi ke depan. Tidak ada ideologi yang menghadap ke belakang. Oleh karena itu, penguatan ideologi tentu akan membentengi manusia terjebak dalam buaian romantisme sejarah yang meninabobokan dan membuat kita lemah.

Facebook Comments