Wabah Virus dan Ilusi Imperium Global

Wabah Virus dan Ilusi Imperium Global

- in Suara Kita
204
0
Wabah Virus dan Ilusi Imperium Global

Seolah tidak ada habisnya, kehebohan munculnya kelompok yang membawa kejayaan masa lalu dan mimpi menguasai dunia terus bermunculan. Kerajaan Agung Sejagat (KAS) di Purworejo memulai kehebohan itu. Lalu muncul seolah beriringan Kerajaan Jipang di Blora, Sunda Empire di Bandung, Kerajaan Warteg Bahagia di Depok, Kesultanan Selaco, dan terakhir King of The King di Banten.

Dari berbagai cerita tersebut sebagian telah berurusan dengan pihak kepolisian. Mereka yang gagah saat deklarasi berubah isak tangis dan penyesalan. Mereka harus berurusan dengan hukum ketika terungkap banyak kejanggalan dan penipuan.

Apabila kit abaca fenomena ini seolah seperti wabah virus yang mudah menyebar. Keberanian KAS untuk deklarasi dan menjadi viral meningkatkan keinginan yang lain untuk juga ikut disorot media. Virus ini menjadi mudah berkembang. Dan anehnya kelompok-kelompok pengidap halu ini mempunyai pengikut. Artinya, tidak sedikit masyarakat yang termakan wabah virus ini.

Fenomena ini sebenarnya menyadarkan kita bahwa virus ilusi kejayaan masa lalu dan keinginan untuk berkuasa secara instan adalah fakta. Fakta yang berikutnya yang tidak boleh diabaikan bahwa tidak sedikit masyarakat yang terpedaya bahkan rela mengorbankan harta untuk bergabung dalam ilusi kolektif ini. Gejala apa ini?

Fenomena tidak perlu ditanggapi dengan kepanikan, tetapi juga tidak arif apabila mengaggapnya sekedar guyonan. Gejala gerakan yang ingin membangun kekuasaan politik secara global adalah semangat kejayaan masa lalu yang ternyata mengidap baik berbasis kultural maupun keagamaan.

Baca Juga : Utopia Romantisme, Krisis Peradaban dan Terobosan Masa Depan

Gerakan dengan ini kembali membangun kejayaan masa lalu yang bermimpi kekuasaan global telah menganggu akal sehat masyarakat. Kejayaan masa lalu dan pembenaran dalil dan mimpi mudah menjebak masyarakat untuk tersernag virus ilusi ini. Kerentanan masyarakat untuk terserang virus ini cukup kuat mengingat kondisi ekonomi dan politik yang tidak begitu berpihak pada masyarakat bawah.

Ketika muncul suatu gerakan yang menawarkan solusi kesejahteraan instan dan kekuasaan global yang menjanjikan mereka tidak sedikit terpedaya. Kondisi dalam garis kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah menjadi ruang kerentanan yang menyebabkan masyarakat mudah terserang virus ilusi dan halu ini.

Dari Ilusi ke Imajinasi

Jika melihat munculnya kelompok halu dengan basis kejayaan masa lalu di berbagai daerah ini tentu saja ada berita baik yang harus kita tangkap. Masyarakat sebenarnya masih punya ingatan sejarah tentang masa lalu. Kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu masih membekas dalam diri masyarakat. Dengan kata lain, bahwa nusantara pernah berjaya masih tercetak dalam benak masyarakat.

Fenomena ini harus ditangkap sebagai sebuah kesempatan untuk menjadikan ilusi menjadi imajinasi bersama. Ilusi lebih kepada hayal tingkat tinggi yang pada satu sisi dipenuhi dengan kebohongan dan penipuan. Namun, imajinasi adalah suatu harapan tentang masa depan yang didorong oleh kesamaan sejarah.

Harus diingat, nasionalisme bangsa ini dibentuk dalam bingkai imajinasi kolektif tentang kesamaan nasib dan persaudaraan sebangsa dan setanah air. Republik ini dibangun oleh sebuah mimpi para leluhur untuk membantuk negara yang tersebar dari berbagai daerah-daerah yang mempunyai sejarah kemajuan.

Dalam konteks inilah, fenomena virus ilusi yang mudah viral ini harus segera ditangkap oleh segenap masyarakat sebagai sebuah imajinasi dan mimpi besar untuk kejayaan Indonesia. Penanaman sejarah yang valid menjadi penting ditanamkan kembali sebagai modal berharga masyarakat dalam membangun mimpi bukan ilusi.

Facebook Comments