Waham Kebesaran Masa Silam

Waham Kebesaran Masa Silam

- in Suara Kita
355
1
Waham Kebesaran Masa Silam

Masa silam selalu saja hadir sebagai sebuah kebahagiaan. Sepahit apapun itu, ia selalu saja dikonstruksikan berasa manis—tengoklah sepenggal ungkapan tolol yang menghibur diri: “Segala sesuatunya akan indah pada waktunya.”

Saya kira persoalannya sederhana saja, masa silam hanya hadir sebagai sebentuk kenangan belaka. Dan dalam proses mengenang itu tentu saja orang akan kehilangan detail. Ada banyak kisah seputar glorifikasi masa silam dalam kehidupan sehari-hari, seorang yang sejatinya melulu hidup dalam kepalsuan dan kebohongan.

Ia mengira bahwa di masa silam adalah seorang bintang, pujaan segenap insan. Padahal beribu tipu-daya, kecerobohan, dan luka akibat ketololannya itu tak ada sedikit pun yang mampu menghapuskan.

Radikalisme, sebagai sebuah pola pikir dan pemahaman, sebenarnya juga berkaitan dengan masa silam. Ia mengira bahwa kegemilangan dan kemurnian ada pada masa silam yang tak sekedar mesti dikenang, tapi juga mati-matian diwujudkan (Sapere Aude: Nyala Nyali Kaum Terdidik, Heru Harjo Hutomo, http://jalandamai.org).

Saya kira glorifikasi masa silam tak sekedar berkaitan dengan radikalisme saja. Konstruksi epistemologis Belanda atas kesusastraan Jawa klasik dengan menisbahkan renaissance terjadi pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 adalah sebagai bukti bahwa masa silam yang dianggap gemilang itu ternyata hanyalah konstruksi sejarah yang berlangsung sesudahnya.

Persis sebagaimana apa yang orang kenal sebagai “Islam” di hari ini, yang tak mungkin tersistematisasikan atau atau dapat diidentifikasi tanpa adanya masa kodifikasi yang dimulai pada masa Ustman bin ‘Affan. Seumpamanya al-Qur’an yang mengalami standarisasi pada masa ini dan berbagai cabang-cabang pengetahuan keislaman: fiqh, fiqh siyasah, kalam, tasawuf, dan seterusnya.

Baca Juga : Maju ke Masa Lalu?

Itu artinya, kegemilangan dan kemurnian Islam masa silam yang diagungkan para penganut Islam radikal tak berpijak pada sejarah. Berbagai renik peristiwa dan pluralitas yang mengiringi sejarah peradaban Islam diabaikan seolah Islam adalah sesuatu yang satu, ajeg dan tanpa dinamika di dalamnya—untuk tak menyebutnya ketegangan.

Demikian pula identitas “Jawa” di hari ini yang tak dapat dilepaskan dari pembakuan kolonialis Belanda. Selalu saja “Jawa” yang digambarkan para antropolog Belanda merujuk pada keraton Surakarta dan Yogyakarta, sementara kebudayaan pesisiran dan Jawa Timur bukanlah bagian dari konstruksi ke-“Jawa”-an tersebut. Penahbisan seorang Ronggawarsita sebagai pujangga panutup (pujangga terakhir) tak mungkin terlaksana tanpa adanya campur-tangan ilmuwan-ilmuwan Belanda. C.F. Winter, seorang filolog Belanda, adalah salah satu murid Ronggawarsita dalam kesusastraan dan kebudayaan Jawa. Padahal, siapa pun tahu tentang kepahitan akhir hidup sang pujangga di tengah intrik keraton dan dominasi Belanda (Ronggawarsita, Palang Kebudayaan Jawa yang Terbuang, Heru Harjo Hutomo, http://www.berdikarionline.com).

Hal tersebut membuktikan bahwa renaissance dalam kesusatraan Jawa adalah sebentuk pengenangan atas kenyataan yang sesungguhnya berbanding terbalik dengan anggapan zaman sesudahnya. Bagaimana mungkin Ronggawarsita ditahbiskan sebagai seorang pujangga terbesar yang membawa kesusastraan Jawa berada pada puncak keemasannya sementara karir kepujanggaannya pernah diganjal dan mengalami segregasi yang bahkan sampai akhir hidupnya?

Barangkali, andaikata Ronggawarsita masih hidup di hari ini, ia akan terkekeh dan mengatakan apa yang pernah dinyanyikan oleh (alm.) Slamet Gundono: “Kelingan Lamun Kelangan (Ingat Ketika Kehilangan).” Dengan demikian, tentang masa silam, sesungguhnya orang hanya sekedar mengagungkan angannya sendiri dan bukannya fakta yang sebenarnya.

Di sinilah kemudian konsep “kebangsaan” maupun “khilafah Islamiyah” menjadi sekedar pelembagaan waham atas masa silam (Politik Identitas: Antara Angan dan Realitas, Heru Harjo Hutomo, https://geotimes.co.id). Dan sejarah juga membuktikan bahwa harga dari sebuah kejujuran dan penyadaran atas kepahitan kenyataan yang sesungguhnya selalu saja berujung pengasingan dan bahkan kematian. Kisah Galileo, Baruch de Spinoza, al-Hallaj, Muhyiddin Ibn ‘Arabi, hanyalah beberapa contoh tentang hal ini. Maka, masihkah masa silam itu seindah sebagaimana yang dibayangkan?

Facebook Comments